ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM KONTEMPORER > Tokoh Ikhwanul Muslimin & Gerakan Islam Lainnya > Hasan al banna

 
 
 
 
 
 
 
 

Hasan al banna

 
HASAN AL BANNA (1906-1949 M)
 
    Pendiri Ikhwanul Muslimin, suatu organisasi kader militan dari Mesir.
     Ia lahir di sebuah desa kecil di Mesir. Ayahnya, Syekh Ahmad bin Abdurrahman bin Muhammad Al Banna as Sadati, seorang tukang arloji, yang menjadi imam dan khatib di mesjid desanya. Ia (Hasan) belajar di sekolah guru, kemudian melanjutkan ke Darul Ulum (lulus 1927 M), lalu menjadi pengajar di Madrasah Ibtidaiyah di Ismailiyah, dan pada tahun 1933 ia ditugaskan mengajar di Kairo.
     Ketika mengajar di Ismailiyah, ia sangat suka bergaul dengan para ulama, syaikh dan orang-orang terkemuka. Ia juga erat pergaulannya dengan rakyat biasa. Ia datangi kedai-kedai kopi yang dikunjungi oleh buruh-buruh dan di situ ia berbicara tentang agama.
    Pada Maret 1928, di Ismailiyah, ia bersama 6 pengikutnya mendirikan Ikhwanul Muslimin, yang kemudian dipindahkan ke Kairo pada tahun 1933 (waktu itu sudah berdiri 10 cabang). Anggota inti dari organisasi ini adalah kaum fellah (petani) dan buruh.
    Anggota Ikhwanul Muslimin, kemudian sangat berperan dalam pertempurn dengan tentara Israil pada tahun 1948. Tetapi kemudian pemerintah Mesir mengadakan perjanjian dengan Israel, yang menyebabkan kekecewaan di tubuh IM terhadap pemerintah Mesir. Pada zaman pemerintahan Gamal Abdul Naser, Ikhwanul Muslimin dilarang sama sekali.
   
Peran dan Pemikiran
     Hasan Al banna sangat suka terhadap usaha-usaha yang aktif. Dibidang sosial dan ekonomi ia aktif sekali. IM yang didirikannya pernah mempunyai perusahaan pemintalan dan pertenunan, dimana para buruh diajak untuk menanamkan saham-sahamnya; Perusahaan perdagangan dan pembangunan; Perusahaan penerbitan surat kabar; percetakan, perusahaan-perusahaan pertanian; Sekolah untuk laki-laki dan perempuan, kursus-kursus malam, sekolah perdagangan dan rumah sakit.
    Karena mempunyai pengalaman di berbagai perusahaan, maka ia mulai mengajukan usul untuk perubahan-perubahan sosial, seperti upah minimum, jam kerja yang terbatas, pembatasn pekerjaan buruh wanita, larangan terhadap pekerja kanak-kanak, jaminan rumah sakit, luas milik minimum untuk petani, pembagian tanah negara untuk petani, dan sebagainya. Jadi Ikhwanul Muslimin yang didirikannya mewakili gejala unik dan istimewa, yakni penjelmaan atau transformasi kepercayaan ke dalam tindakan dan pembuatan.
 
Karya
·         Muzakkirah ad Da’wa wa Ad Da’iyah
·         Allah fi al ‘Aqidah al Islamiyah, buku ini diterjemahkan oleh Prof. Mukhtar Yahya, ke dalam bahasa Indonesia
·         Aqidah islam. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Drs M. Hasan Baidar, 1983.

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda