ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM KONTEMPORER > Politisi & Negarawan > Khomaeni, Ayatullah

 
 
 
 
 
 
 
 

Khomaeni, Ayatullah

 

KHOMAENI,  AYATULLAH (1900-1989 M)
Pemimpin Revolusi Islam Iran
 
       “ Sedapat-dapatnya berpuasalah setiap hari senin dan kamis, shalatlah 5 waktu tepat pada waktunya dan berusahalah shalat tahajud. Kurangi waktu tidur dan perbanyaklah membaca Al Qur’an.” (Imam Khomaeni)
 
      Seorang pemimpin revolusi Islam di Iran, yang menumbangkan rezim monarki dan mendirikan republik Islam Iran melalui revolusi rakyat yang spektakuler pada februari 1979 M.
       Nama aslinya Ruhullah Mousavi, lahir di Khomein, Iran pada 17 Mei 1900 M, dan meninggal di Teheran, 4 Juni 1989 M. Ia bergelar Ayatullah atau Ayatullah Al Uzma, adalah seorang ulama terkemuka masyarakat Syi’ah. Ayahnya, Sayyid Musthafa Khomaeni, adalah seorang ulama terkemuka di kota Khomaen. Ia (ayahnya) meninggal dibunuh oleh kaki tangan dinasti Qajar yang tidak suka melihat Sayyid Musthafa menentang kekuasaannya.
     Khomaeni mengenyam pendidikan dasar pada beberapa guru dan pemuka agama dikotanya. Diantaranya yang berperan besar adalah Ayatullah Pasandideh (kakaknya sendiri). Pada usia 19 tahun, ia melanjutkan di Hauzah ‘Ilmiyah (Pusat prndidikan agama) di kota Arak, dibawah bimbingan Ayatullah Abdul karim Hairi Yazdi, seorang ulama terkemuka dimasanya dan yang mempunyai andil besar dalam mengembangkan Hauzah ‘Ilmiyah di kota Qum, Iran. Setahun kemudian ia bersama gurunya pindah ke Hauzah ‘Ilmiyah di kota Qum. Dikota inilah ia mendalami ilmu-ilmu fiqih, juga mendalami ilmu-ilmu filsafat dan irfan. Dalam bidang irfan (tasauf), ia belajar kepada Syekh Muhammad Ali Syah Abadi, seorang filsuf yang arif dan terkenal di Iran.
      Dalam usia yang relatif muda, ia telah mencapai tingkatan mujtahid dalam bidang hukum Islam. Dengan demikian ia mempunyai wewenang untuk mengeluarkan fatwa-fatwa yang kemudian dianut oleh masyarakat Syi’ah. Dan ketika Ayatullah Burujurdi (tokoh utama Syi’ah dimasanya) meninggal pada tahun 1961, Khomaeni terpilih menjadi salah seorang marja’ dini.
     Popularitas Khomaeni mulai dikenal luas ketika pada tahun 1963, ia memprotes dengan keras kebijakan syah di bidang pertanahan (program land reform) dan wanita, yang dikenal dengan nama program revolusi putih. Menurut Khomaeni, kebijakan syah dibidang pertanahan dengan programnya justru akan menghancurkan total ekonomi agraris di Iran. Selain itu kebijakannya tersebut juga akan menghancurkan total ekonomi agraris di Iran, dan juga akan membuat rakyat menjadi budak-budak sejumlah konglomerat yang didominasi oleh keluarga kerajaan, sekelompok orang kaya Iran dan perusahaan-perusahaan asing. Dan tentang emansipasi wanita yang diterapkan syah justru akan merendahkan martabat wanita itu sendiri dan akan menciptakan kerusakan moral masyarakat.
     Khomaeni menyerukan perlawanan terhadap syah yang dianggapnya memusuhi Islam, terutama ketika tak lama kemudian syah menyetujui desakan Amerika Serikat untuk menerapkan undang-undang mengenai kekebalan personil militer Amerika Serikat di Iran. Dalam pandangan Khomaeni, konsesi yang telah diberikan syah kepada As itu telah menghina rakyat Iran dan kaum muslimin secara umum. Seruan Khomaeni ini ditanggapi rakyat, dan protes terhadap sayah terjadi dimana-mana. Tetapi syah menanggapi protes itu dengan kekerasan, sehingga tidsak kurang dari 15000 rakyat menjadi korban. Peristiwa ini dikenal dengan nama tragedi atau kebangkitan 15 Khurdad (bulan ke-4 penanggalan Persia).
     Setelah peristiwa itu Khomaeni ditangkap dan dipenjara, kemudian ia dibuang ke Turki pada 4 November 1964, dua tahun kemudian dipindah ke Najaf, Irak. Selama di najaf meskipun ditekan rezim Ba’ats di Irak, Khomaeni tidak pernah mengurangi kegiatan politiknya menentang syah. Baginya, baru bisa berjalan di Iran, apabila sistem monarki dihapuskan di Iran. Untuk itulah dalam berbagai cara dan kesempatan Khomaeni memipin gerakan perlawanan terhadap syah. Pidato-pidatonya dalam bahasa Persia, pernyataan-pernyataan tertulisnya, maupun instruksi-instruksi politiknya dengan cepat menyebar di Iran. Jaringan-jaringan perlawanan yang terdiri kaum Mullah, Universiter dan kaum Bazari (pedagang) meneruskannya ke seluruh pelosok Iran sehingga tetap dibawah kendali Khomaeni.
     Ketika sebuah surat kabar resmi pemerintah di Iran (tanggal 17 Januari 1978) memuat tulisan yang menghina kaum ulama karena dianggap menolak modernisasi, malaka meletuslah demonstrasi-demonstrasi kaum mullah di kota Qum, yang berakibat jatuhnya puluhan korban di pihak mullah dan rakyat yang mendukung mereka. Kohameni menjadikan peristiwa tersebut sebagai momentum untuk menggerakan rakyat secara masal menentang syah. Rakyat yang sudaah tidak percaya lagi pada syah menyambut seruan Khomaeni ini dengan antusias. Sejak itu sampai tanggal 11 Februari 1979 rakyat melancarkan demonstrasi yang menuntut agar sistem monarki ditumbangkan dan negara Islam didirikan.
     Khomaeni kembali ke Iran pada 1 Februari 1979 setelah kurang lebih 15 tahun berada dalam pengasingan. Hanya sepuluh hari setelah itu ia berhasil menumbangkan sistem monarki, dan selanjutnya ia dipilih oleh rakyat sebagai penguasa tertinggi dalam sistem republik Islam yang berlandaskan padaa wilayat-el-faqih..
     Selama 10 tahun kepemimpinannya ia mencoba menjalankan sepenuhnya prinsip-prinsip syari’at dalam segala bidang. Semua institusi yang melanggar syari’at dihancurkan. Ia menerapkan hukum yang keras terhadap yang melanggar. Ia sejak semula meyakini prinsip perjuangan mustadh’afin (kaum tertindas) melawan mustakbirin (kaum yang angkuh) dan mencoba melaksanakannya.
     Khomaeni terkenal sebagai seorang yang bersahaja, tokoh yang sangat lembut dan bijaksana, kehidupan kesehariannya mencerminkan gaya seorang sufi sejati. Setelah ia menjabat sebagai wali faqih (pemimpin tertinggi) pada tahun 1989, anaknya menulis surat kepada pengadilan agar menyelidiki harta ayahnya. Hasilnya, mahkamah agung menemukan bahwa tidak ada tambahan apa-apa   dalam kekayaan Khomaeni. Bahkan sebidang tanah warisan orang tuanya telah diberikan kepada penduduk yang sudah terlanjur menempati tanah itu. Tempat tinggalnya di Qum sangat sederhana, meskipun ia menjadi penguasa tertinggi di Iran. Daftar harta-hartanya yang dibuat tahun 1979 itu malah semakin berkurang. Dinyatakan Imam Khomaeni tak punya pemilikan pribadi, kecuali buku-buku, kacamata, surban, tasbih, alat pemotong kuku, mushaf Al Qur’an, dan jubah ulama. Beberapa alat kecil untuk keperluan hidup sehari-hari yang ada dirumahnya adalah milik istrinya. Ia hanya menumpang dibeberapa kamar yang terdapat pada Husainiyah (surau) Jamaran, Teheran Utara. Ia adalah seorang yang zuhud yang tidak suka kepada kemewahan duniawi.
     Karya tulisnya sekitar 25 buah yang ditulis secara langsung maupun suntingan murid-muridnya yang disusun dari ceramah-ceramahnya, baik selama di Iran, Turki dan di Irak.
 
Karya
  • Al Hukumah Al Islamiyah atau Hukumat-I-Islami (Pemerintahan Islam), merupakan karyanya yang terkenal. Buku ini merupakan kumpulan kuliyah-kuliyahnya yang diberikan pada 13 Zulkaidah sampai dengan 1 Julhizah 1389 di hauzah Ilmiyah Najaf (Irak). Disini tertuang pandangan-pandangaannya dalam bidang politik terutama mengenai ide negara Islam yang berdasar wilayah el faqih (kepemimpinan para faqih (ulama)). Dalam buku ini ia juga mencela ulama yang membatasi perhatiannya pada upacara-upacar thaharah, tetapi menghianati martabat serta misi sebenarnya dari kaum ulama.
  • Kasyf Al Asrar (penyingkapan rahasia), dalam bukunya ini ia mengkritik kesewenangan rezim yang berkuasa waktu itu (Reza Syah, bapaknya Reza pahlevi) serta mengimbau para ulama agar terlibat dalam politik.
  • Tahrir Al wasilah
  • Kitab Al Ba’I, suatu kitab tentang fiqih.
  • Jihad Akbar, tentang akhlaq.
 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda