ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM KONTEMPORER > Pembaharu > Syah Waliyullah

 
 
 
 
 
 
 
 

Syah Waliyullah

 
SYAH WALIYULLAH AD DIHLAWI (w. 1176 H / 1703-1762 M)
Sufi pembaharu & Ahli Hadits
 
     Seorang sufi yang kemudian menjadi pelopor pembaharuan pemikiran dan pelopor kebangkitan hadits di india pada abad 18 M. 
     Nama Quthb Al Din Ahmad Ibn ‘Abd Ar Rahim Al Dihlawy. Ia lahir di Delhi pada tahun 1702 M (ada yang mengatakan tahun 1703 M), empat tahun sebelum meninggalnya kaisar AurangZeb dari Moghul. Ayahnya Abdurrahim seorang sufi dan ulama besar pendiri madrasah Rahimia.
      Shah Waliyullah mendapatkan pendidikan yang pertama kali dari ayahnya. Daya ingatannya kuat, ia hapal al Qur’an pada usia yang sangat muda. Ketika ayahnya meninggal pada 1131 H (waktu ia berusia 17 tahun), ia menggantikan posisi ayahnya mengajar di sekolah yang didirikan ayahnya dan meneruskan tugas selama 2 tahun, sampai kepergiannya ke Hejaz untuk studi yang lebih tinggi. Selama berada di Mekah dan Madinah (14 bulan), ia berguru kepada ulama-ulama terkenal di Hejaz, antara lain : Syaikh Abu Thahir bin ibrahim dari Madinah, seorang ensiklopedis, shaleh, dan berpandangan luas. Dari guru ini ia mendapatkan sanad (titel kesarjanaan) dalam bidang hadits dan darinyalah ia mengambil manfaat yang besar.
    Ia kembali ke Delhi pada 9 juli 1732 dan memulai tugasnya sebagai pengajar dan penda’wah. Ia menghadapi tugas yang besar dan teramat berat dimana umat Islam sedang dalam keadaan yang kritis dalam sejarahnya, begitu juga struktur politik, sosial, ekonomi dan spiritual dalam keadaan yang terkoyak-koyak. 
     Syah Waliyullah adalah orang yang pertama kali menterjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Persia di India. Pada zamannya penterjemahan Al Qur’an ke dalam bahasa asing dianggap terlarang. Tetapi ia melihat bahwa orang di India membaca Al Qur’an dengan tidak mengerti artinya tidak besar faedahnya untuk kehidupan dunia mereka. Ia melihat perlu Al Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa yang dapat dipahami orang awam. Bahasa yang dipilihnya adalah bahasa Persia, yang banyak dipakai kalangan Islam terpelajar di India waktu itu. Penterjemahan ini disempurnakan oleh Waliyullah tahun 1758 M. Terjemahan tersebut pada mulanya mendapat tantangan, tetapi lambat laun dapat diterima oleh masyarakat. (Karena masyarakat sudah mulai menerima terjemahan, maka putranya kemudian menterjemahkan Al Qur’an ke dalam bahasa Urdu, bahasa yang lebih umum dipakai masyarakat muslim India).
     Karangannya banyak sekali meliputi berbagai masalah keagamaan, lebih dari 100 judul buku, tetapi yang tersisa hingga kini sekitar 40 judul.
 
Pemikiran
     Ketika ia dewasa ia menyaksikan kemunduran yang dialami oleh umat Islam India dalam berbagai hal dan berada pada titik kritis kemundurannya. Hal ini sangat berbeda sekali dengan ketika ia dilahirkan, dimana kerajaan moghul Islam sedang dalam puncak kebesarannya.
    Dalam keadaan demikian ia terpanggil hatinya untuk mengubah tatanan sosial dan politik di India zaman itu. Sebagai seorang yang realistik, ia berusaha memberikan diagnose terhadap perbagai penyakit yang merasuki politik maupun semangat keagamaan masyarakat Islam, dan menganjurkan cara pengobatan untuk kesembuhannya dari jurang kehancuran.
     Menurutnya, salah satu sebab kemunduran umat Islam salah satunya adalah masuknya adat-istiadat dan ajaran-ajaran bukan islam ke dalam keyakinan umat islam (bid’ah). Umat Islam di India menurutnya banyak dipengaruhi oleh adat-istiadat dan ajaran Hindu. Karena itu keyakinan ajaran umat islam harus dibersihkan dari hal-hal asing tersebut. Mereka mesti dibawa kembali kepada ajaran-ajaran islam yang sebenarnya bersumber yang asli yaitu Al Qur’an dan Hadits. Dan untuk mengetahui ajaran-ajaran islam sejati, orang harus kembali kepada 2 sumber tersebut bukan kepada buku-buku tafsir, fiqih, ilmu kalam dan sebagainya.
     Dan penyebab kemunduran umat yang lainnya adalah taqlid atau mengikut dan patuh pada penafsiran dan pendapat-pendapat ulama-ulama masa lampau. Ia mensarankan agar masyarakat Islam bersifat dinamis. Penafsiran yang sesuai untuk suatu zamannya belum tentu sesuai dengan zaman sesudahnya. Oleh karena itu ia menentang taqlid dan sangat menganjurkan untuk berijtihad. Ajaran-ajaran dasar yang terdapat dalam Al Qur’an dan hadits, melalui ijtihad harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Karena itu dalam rangka pemikiran ajaran islam yang murni dan yang telah kemasukan adat istiadat, ia membedakan antara Islam yang universal dan Islam yang mempunyai corak lokal. Islam universal mengandung ajaran-ajaran dasar yang kongkrit, sedang islam lokal mempunyai corak yang ditentukan oleh kondisi tempat yang bersangkutan, dan yang harus dikembangkan menurutnya adalah Islam yang universal.
     Sebab lainnya adalah sistem pemerintahan dinasti kerajaan (otokratis). Karena ada perubahan sistem pemerintahan Islam dari system kekhalifahan yang bersifat demokratis menjadi sistem kerajaan yang bersifat otokratis. Dalam sejarah raja-raja pada umumnya mempunyai kekuasaan absolut. Besarnya pajak yang harus dibayar petani, buruh, pedagang ditentukan sendiri. Pajak yang tinggi harus dibayar rakyat, menurutnya membawa pula pada kelemahan umat. Selanjutnya hasil pajak yang tinggi dipergunakan bukan untuk kepentingan umat tetapi untuk membelanjai hidup mewah dari kaum bangsawan yang tidak mempunyai pekerjaan apa-apa. Pemungutan dan pembelanjaan uang yang tidak adil ini menimbulkan perasaan tidak senang rakyat sehingga ketertiban dan keamanan terganggu. Untuk mengantisipasi hal-hal negatif tersebut, ia berpendapat bahwa sistem pemerintahan yang terdapat di zaman khalifah yang empat (khalifaurrasyiddin) perlu dihidupkan kembali.
    Syah Waliyullah juga berusaha mendamaikan perpecahan yang terjadi dikalangan umat islam, yang diakibatkan oleh pertentangan oleh aliran dan mazhab. Menurutnya hal ini merupakan sebab lain bagi lemahnya umat Islam. Pada zamannya memang terjadi pertentangan yang sangat tajam antara Sunni dengan Syi’ah, Mu’tazilah dengan Asy’ariyah dan Maturidiyah, dilain pihak Kaum Sufi dan kaum Syari’ah dan diantara pengikut Mazhab yang 4-pun demikian. Oleh sebab itu ia berusaha untuk mengadakan suasana damai antara golongan-golongan tersebut. Syi’ah oleh kalangan sunni yang mayoritas dipandang telah keluar dari Islam, pendapat ini dilawan oleh Syah Waliyullah dengan menegaskan bahwa kaum Syi’ah sama halnya dengan kaum Sunni, masih tetap Islam. Ajaran-ajaran yang mereka anut tidak membuat mereka keluar dari Islam.
    Dalam bidang tasauf ia berupaya menyelaraskan konsepsi Ibn Arabi tentang wihdah al wujud (kesatuan wujud) dengan konsepsi Syaikh Ahmad Sirhindi (w.1624 M) tentang wahdah al syuhud (kesatuan penyaksian).    
    Dalam bidang hadist, ia adalah pelopor kebangkitan hadits di wilayah India, dimana waktu itu studi hadits di Timur Tengah mengalami kemandegan. Dalam bidang hadits ini, ia membuat syarah kitab Al Muwaththa karya Imam Malik dalam dua bahasa (bahasa Arab dan Persia), yaitu Al Mushaffa dan Al Maswa. Pembaharuan dalam pemikiran dan juga studi hadits ini ini dilanjutkan oleh anak dan cucu-cucunya.
 
Karya
·         Al Fath al Munir fi Gharib Al Qur’an, tentang tafsir Al Qur’an
·         Az Zahrawain, tafsir QS Al Baqarah dan Ali Imran.
·         Al Mushaffa,   syarah dari   kitab Al Muwaththa karya Imam Malik
·         Al Maswa, merupakan syarah kitab Al Muwaththa karya Imam Malik.
·         An Nawadhir min Ahadits Sayyid al Awa’il wa al Awakhir, tentang hadits
·         Tarajum al Bukhary, tentang hadits.
·         Syarh Tarajum Ba’d Abwab al Bukhary, tentang hadits.
·         Al Arbain Hadtsan, tentang hadits
·         Ta’wil al Ahadits, tafsir tentang kisah para nabi.
·         Al Budur al Baziqah, dalam ilmu kalam.
·         Al Hujjatullah Al Balighah fi Asrar Asy Syar’iyah (The conclusive argument from God), tentang rahasia syari’at dan filsafat hukum Islam. Dalam kitab ini dibahas secara terinci faktor-faktor yang membantu pertumbuhan keadaan masyarakat.
·         ‘Aqd al Jayyid fi Ahkam al Ijtihad wa at Taqlid, tentang persoalan ijtihad dan taqlid.
·         Al Insyaf fi bayan Asbab al Ikhtilaf bain al Fuqaha wa al Mujtahidin, tentang munculnya perbedaan pendapat ahli fiqih.
·         Ad Durr as Samin fi Mubasyarah an Nabi al Amin, tentang keutamaan Nabi Muhammad Saw.
·         Al Maktubat, tentang kehidupan Rasulullah, yang merupakan kumpulan risalah yang ditulis ayahnya, Abd Rahim Ad Dihlawi.
·         Al Khair al Kasir, tentang akhlaq.
·         Al Irsyad ila Muhimmat ‘Ilm al afsad, dalam bidang filsafat.
·         As Sirr al Maktum fi Asbab Tadwin al ‘Ulum, tentang filsafat.
·         Al Fauz Al Kabir Fi Ushul Tafsir
·         Al Lamahat, tentang fiqih masih dalam bentuk manuskrip.
·         Izalat Al Khafa ‘An Khilafat Al Khulafa
·         Al anshaf Fi Bayan Asha Al Ikhtilaf Baina Al Fuqaha Wa al Mujtahiddin
·         Al Maktub al Madani , tentang hakekat tauhid.
·         Husn al Aqidah, tentang aqidah / tauhid.
·         Atyab an Nuqam fi Madh Sayyid al Arab wa al Ajam.
·         Al Muqadimah as saniyah fi Intisar al Firqah as Sunniyah, dalam pemikiran fiqih dan kalam.
·         Qaul Al Jamil Fi Bayan Sawa Al sabil Fi Suluk Al Qadariyah, Al Jitsiyah Wa Naqsyabandiyah.
·         ‘Iqd al jayid Fi ahkam Al Ijtihad Wa al Taqlid.
·         Al Intibah Fisalasil Auliya Allah
·         Tasawwuf ki Haqiqat Au Uska Falsafa Tarikh.
·         Syifa al Qulub (Terapi hati)
·         Al Tafhimat al Ilahiyah (Uraian-uraian Ilahiyah), dalam bidang filsafat dan teologi (ilmu kalam)
·         Diwan as Syi’r Arabi, tentang sastra.
 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda