ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM KONTEMPORER > Pembaharu > Muhammad Iqbal

 
 
 
 
 
 
 
 

Muhammad Iqbal

 
MUHAMMAD IQBAL (1877-1936 M)
Penyair, Filsuf dan Politikus
 
     Seorang penyair dan filsuf muslim terkemuka awal abad 20 M, pengilham berdirinya negeri Pakistan.
     Ia lahir di Sailkot Punjab, bulan Dzulhijjah 1289 H / tanggal 22 Februari 1873 M. Ayahnya Nur Muhammad, ia dikenal sebagai seorang ulama, dan kakeknya berasal dari Lembah Kasmir. Ayahnya memasukan Iqbal ke Scotch Mission College di Sialkot, belajar pada Maulawi Mir Hasan, seorang ulama militan, yang ahli dalam bahasa Persia dab Arab, yang juga teman ayahnya.
     Pada tahun 1895, ia melanjutkan studi ke Lahore, dan belajar disana sampai mendapat gelar MA dalam bidang filsafat. Di kota ini ia bergabung dengan perhimpunan sastrawan. Iqbal mulai dikenal oleh kalangan sastrawan ketika mendeklamasikan sajaknya tentang Himalaya, semangat patriotisme sangat tampak, dan mendapat sambutan yang luar biasa. Nama Iqbal sebagai penyair semakin melejit setelah sajak-sajaknya dimuat dalam majalah Maehan (majalah berbahasa Urdu).
      Di Lahore ini ia berkenalan dengan Sir Thomas Arnold, seorang orientalis Inggris yang mengajar filsafat Islam di Governement College, yang mendorong pemuda Iqbal untuk melanjutkan studi ke Inggris. Pada tahun 1905 pergi ke Inggris dan masuk ke Fakultas Hukum Universitas Cambridge, hingga memperoleh gelar kesarjanaan. Dua tahun kemudian ia pindah ke Munich untuk mempelajari filsafat, dan disinilah ia memperoleh gelar Ph.D pada tahun 1908 dalam bidang tasauf, dengan disertasi The Development of Metaphysics In Persia (Perkembangan Metafisika di Persia) dengan nilai yang sangat memuaskan. Setelah itu ia kemudian ke London lagi, untuk belajar dibidang ke-advokat-an sambil mengajar bahasa dan Kesusastraan Arab di Universitas London. Tidak lama dari London kemudian ia kembali ke tanah airnya (ke kota Lahore) pada tahun itu juga (1908).
     Di Lahore ia bekerja sebagai pengacara dan dosen filsafat. Kemudian memasuki bidang politik, dan pada tahun 1930 dipilih menjadi presiden Liga Muslimin.
     Dalam perundingan di London ia ikut dua kali ambil bagian. Ia juga menghadiri Konfrensi Islam yang diadakan di Yerusalem. Tahun 1933 diundang ke Afghanistan untuk membicarakan Universitas Kabul.
    Iqbal meninggal pada 21 April 1938 M setelah menderita sakit yang cukup parah. Ia  meninggalkan  21 karya tulis.
 
Pemikiran
     Berbeda dengan pembaharu-pembaharu lain, Iqbal adalah seorang penyair dan filsuf. Konsep dasar dari filsafat Iqbal dan menjadi dasar penopang keseluruhan struktur pemikirannya adalah konsep tentang hakekat khudi atau ego atau individualitas. Menurut Iqbal khudi, arti harfiyahnya ego atau self atau individualitas, merupakan suatu kesatuan riil (nyata) adalah pusat dan landasan dari semua kehidupan, merupakan suatu iradah kreatif yang terarah secara rasional. Arti terarah secara rasional menjelaskan bahwa hidup bukanlah suatu arah tak berbentuk, melainkan suatu prinsip kesatuan yang bersifat mengatur, suatu kegiatan sintesis yang melingkupi serta memusatkan kecenderungan-kecenderungan yang bercerai berai dari organisasi yang hidup ke arah suatu tujuan konstruktif. Iqbal menerangkan bahwa khudi merupakan landasan dari keseluruhan kehidupan.
     Meskipun Iqbal adalah seorang penyair dan filsuf, tetapi pemikirannya mengenai kemunduran dan kemajuan umat islam mempunyai pengaruh kepada gerakan pembaharuan. Sebagai seorang muda ia menyaksikan yang tragis dari dunia Islam waktu itu: runtuhnya empirium utsmani; terserapnya kaum muslimin ke dalam empirium Cina dan Rusia; dan Kaum muslimin di Afrika Utara, Timur Tengah serta Asia Tenggara yang jatuh ke tangan Imperialisme Eropa. Sebagai seorang terpelajar dan pengajar ia mencari-cari jawaban atas nasib umat yang menyedihkan ini.
     Ia berpendapat bahwa kemunduran umat islam selama 5 abad terakhir disebabkan,antara lain :
Ø Kebekuan dalam pemikiran dan hukum dalam islam telah sampai kepada keadaan statis. Kaum konservatif dalam Islam berpendapat rasionalisme yang dikembangkan Mu’tazilah akan membawa kepada disintegrasi, dengan demikian berbahaya bagi kesetabilan Islam sebagi kesatuan dalam politik. Untuk memelihara kesatuan itu kaum konservatif tersebut lari ke syari’at sebagai alat yang ampuh untuk membuat umat tunduk dan diam.
Ø Pengaruh zuhud yang terdapat dalam ajaran tasauf. Perhatian harus dipusatkan kepada Allah dan apa yang ada dibalik materi. Hal itu akhirnya membawa pada keadaan umat kurang mementingkan soal kemasyarakatan dalam Islam.
Ø Hancurnya Baghdad, sebagai pusat kemajuan umat Islam di pertengahan abad ke-13 M. Untuk mengelakan disintegrasi (perpecahan) yang lebih mendalam, kaum konservatif melihat bahwa perlu diusahakan dan dipertahankan keseragaman hidup sosial dari seluruh umat. Untuk itu mereka menolak segala pembaharuan dalam bidang syari’at dan berpegang teguh pada hukum-hukum yang telah ditentukan ulama terdahulu. Pintu ijtihad mereka tutup.
     Menurut Iqbal, hukum dalam Islam tidak bersifat statis, tetapi dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman dan pintu ijtihad tidak tertutup. Islam pada hakekatnya mengajarkan dinamisme, Al Qur’an senantiasa menganjurkan pemakaian akal terhadap ayat atau tanda yang terdapat dalam alam seperti matahari, bulan, pertukaran siang dan malam, dan sebagainya. Orang yang tidak perduli dan tidak memperhatikan tanda-tanda itu akan tinggal buta dimasa depan. Konsep Islam mengenai alam adalah dinamis dan senantiasa berkembang. Kemajuan serta kemunduran dibuat Tuhan silih berganti diantara bangsa-bangsa yang mendiami bumi ini, mengandung arti dinamisme.
     Islam menolak konsep lama yang mengatakan bahwa alam itu bersifat statis. Islam mempertahankan konsep dinamisme dan mengakui adanya gerak dan perubahan dalam hidup sosial masyarakat, untuk itu diperlukan ijtihad. Ijtihad mempunyai kedudukan penting dalam pembaharuan dalam Islam.
     Faham dinamisme Islam yang ditonjolkan inilah yang membuat Iqbal mempunyai kedudukan penting dalam pembaharuan di India. Dalam sya’ir-sya’irnya ia mendorong umat Islam supaya bergerak dan jangan tinggal diam. Intisari hidup adalah gerak, sedang hukum hidup adalah menciptakan, maka Iqbal berseru kepada umat Islam supaya bangun dan menciptakan dunia baru. Begitu tinggi ia menghargai gerak sehingga ia menyebut bahwa kafir yang aktif lebih baik dari muslim yang tidur.
     Dalam pembaharuan Iqbal tidak sependapat bahwa baratlah yang harus dijadikan model. Kapitalisme dan imprealisme barat tak dapat diterimanya. Barat menurut penilaiannya, amat banyak dipengaruhi oleh materialisme dan telah mulai meninggalkan agama. Yang harus diambil umat Islam dari barat hanyalah ilmu pengetahuan.
 
Iqbal Tentang Nasionalisme dan Ide Negara Pakistan
    Iqbal sebelum pergi ke Eropa adalah seorang nasionalis India. Dalam syair-syairnya ia menyokong kesatuan dan kemerdekaan India dan menganjurkan persatuan umat Islam dan Hindu di tanah air India. Tetapi ia robah pendiriannya, nasionalisme di tentang seperti yang ia jumpai di Eropa, ia melihat bibit materialisme dan atheisme dan keduanya merupakan ancaman besar bagi perikemanusiaan. Nasionalisme India yang mencakup Muslim dan Hindu adalah ide yang bagus, tetapi sulit sekali untuk diwujudkan. Ia curiga bahwa dibelakang nasionalisme India terlintas konsep Hinduisme dalam bentuk baru. Menurutnya di India terdapat 2 umat besar dan dalam pelaksanaan demokrasi barat di India, kenyataan ini harus diperhatikan. Tuntutan umat Islam untuk memperoleh pemerintahan sendiri, didalam atau diluar kerajaan Inggris adalah tuntutan yang wajar.
     Tujuan membentuk negara tersendiri, ia tegaskan dalam rapat tahunan Liga Muslim tahun 1930. “Saya ingin melihat Punjab, Daerah perbatasan Utara, Sindi, Bulukhistan bergabung menjadi satu negara “ demikian kata Iqbal. Disinilah ide dan tujuan membentuk negara tersendiri diumumkan secara resmi dan kemudian menjadi tujuan perjuangan nasional umat islam India.
 
Karya
  • Ilm Al Iqtisad (1903)
  • The Development Of Metaphysics In Persia: A Contribution to The History of Muslim Philosophy (Perkembangan Metafisika di Persia), yang merupakan thesis doktoral di Universitas Munich Jerman.(1908)
  •    Islam as a Moral and Political Ideal (1909)
  • Secret Of The Self atau Asrar-I Khudi (Rahasia Pribadi) (1915)
  • Rumuz-I Bekhudi (Rahasia Peniadaan Diri) (1918)
  •   Payam-I Masyriq (Pesan dari Timur) (1923)
  •  Bang-I Dara (Seruan dari Perjalanan) (1924)
  •  Self In The Light of Relativity Speeches and Statements of Iqbal (1925)
  •    The Recontruction Of Religius Thought In Islam, (1923), merupakan hasil ceramah-ceramah yang diberikan dibeberapa universitas di India.
  •   Letters of Iqbal to Jinnah (1934)
  •    Bal-I Jibril (sayap jibril) (1935)
  •   Pas Chih Bayad Kard Aqwam-I Sharq, (1936)
  •  Matsnawi Musafir (1936)
  •  Zarb -I Kalim (tongkat / pukulan nabi Musa) (1936)
  •   Armughan -I Hejaz (hadiah dari Hejaz) (1938)

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda