ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM KONTEMPORER > Pembaharu > Muhammad Abduh

 
 
 
 
 
 
 
 

Muhammad Abduh

MUHAMMAD ABDUH (1849- 1905 M)

     Seorang pembaharu pemikiran Islam yang sangat berpengaruh asal Mesir dan juga  di Universitas Al Azhar. Ia merupakan pembaharu terkemuka dalam tataran  intelektual, pengaruhnya sangat luas baik di Al Azhar maupun ke seluruh dunia Islam, termasuk Indonesia.
     Ia lahir di suatu desa di Mesir hilir. Ayahnya,  Abduh Hasan Khairullah, berasal dari Turki yang telah lama di Mesir dan ibunya keturunan Arab. Ia lahir pada saat Mesir dalam suasana kacau yang  terjadi diakhir zaman Muhammad Ali Pasha (1805-1849). Sehingga ayahnya berpindah dari satu desa ke desa yang lain, dan akhirnya menetap di desa Mahallah Nasr.
      Setelah bisa menulis dan membaca al Qur’an, ia kemudian diserahkan kepada seorang guru untuk  menghapal Al Qur’an, yang dapat dihapalnya  dalam tempo 2 tahun. Kemudian dikirim oleh ayahnya ke Tanta untuk belajar agama di masjid Syekh Ahmad di tahun 1862.
       Setelah 2 tahun belajar nahwu, sharaf, fiqih dan sebagainya, ia tidak mengerti apa-apa, seperti yang diungkapkan Abduh :” Satu setengah tahun saya belajar di Masjid Syekh Ahmad dengan tak mengerti apapun. Ini adalah karena metodenya yang salah, guru-guru mulai mengajak kita dengan menghapal istilah-istilah  tentang nahwu, fiqih yang tak kita ketahui artinya. Guru-guru tak merasa penting apa kita mengerti atau tidak mengerti arti-arti istilah itu.”
    Karena tidak puas terhadap metode yang diajarkan, Abduh meninggalkan tanta, dan tinggal (bersembunyi) di rumah  pamannya, tetapi setelah 3 bulan disana dipaksa kembali ke Tanta. Karena yakin bahwa pelajarannya tidak akan berhasil ia pulang kampung dan berniat jadi petani ( pada tahun 1865 (umur 16 tahun) ia menikah). Setelah 40 hari setelah menikah ia dipaksa orang tuanya  kembali belajar ke Tanta, tetapi ia malah pergi kepamannya (dari ayah), Syekh Darwisy Khadr, seorang yang telah merantau ke luar Mesir dan belajar agama termasuk  tasauf (tarikat Syadli) di Libia dan Tripoli, seorang yang dapat merubah   jalan hidup Abduh.
     Syekh Darwisy mengetahui keengganan Abduh untuk belajar, maka ia membujuk Abduh untuk membaca buku bersama-sama. Syekh Darwish dengan sabar mendidik Abduh sehingga Abduh menyenangi untuk belajar kembali. Ia mulai mengerti apa yang dibacanya, dan ingin mengerti dan mengetahui lebih banyak, yang akhirnya ia pergi ke Tanta untuk meneruskan pelajaran. Dan setelah selesai dari Tanta ia melanjutkan ke Al Azhar tahun 1866.
     Ketika masih di Al Azhar, Jamaluddin Al Afghani datang ke Mesir dalam perjalanannya ke Istambul, dan menetap di Mesir (1871). Abduh sangat terkesan akan intelektual Al Afghani dalam menafsirkan Al Qur’an yang lebih aktual. Sehingga ia kemudian menjadi muridnya yang paling setia. Disini  ia mulai menulis karangan-karangan untuk harian Al Ahram yang pada waktu itu baru saja didirikan.
      Pada tahun 1877 studinya selesai di Al Azhar dengan mendapat gelar Alim. Ia mulai mengajar di Al Azhar kemudian di Darul Ulum dan juga rumahnya sendiri. Ketika  Al Afghani diusir dari Mesir tahun 1879, karena dituduh mengadakan gerakan menentang Khedewi Taufik, Abduh juga dipandang turut campur sehingga ia dibuang keluar Kairo. Tetapi pada tahun 1880 ia boleh kembali ke Kairo dan kemudian diangkat menjadi redaktur surat kabar pemerintah Mesir .
      Pada masa Urabi Pasha menguasai pemerintahan, hal ini mencemaskan kepentingan Inggris di Mesir. Untuk menjatuhkan Urabi pasha Inggris pada tahun 1882 mengebom Alexandria dari laut, dan Inggris dapat mengalahkan Mesir, dan negeri ini jatuh ke tangan Inggris.
       Pada peristiwa revolusi Urabi Pasha yan mencemaskan pemerintahan Inggris, Abduh memainkan peranan. Dan ketika Mesir dapat dikalahkan Inggris,  ia ditangkap oleh pemerintah Inggris dan dibuang ke luar Mesir (akhir 1882). Pada mulanya ia pergi ke Beirut, dan kemudian ke Paris. Di Paris  bersama Al Afghani (1884) mengeluarkan majalah Al Urwah Al Wusqa. Umur majalah itu tidak lama, dan tahun 1885 Abduh kembali ke Beirut via Tunis, dan mengajar disana.
     Pada tahun 1888 atas usaha kawan-kawannya, ia diperbolehkan pulang kembali ke Mesir. Ia bekerja sebagai  hakim di salah satu mahkamah, tetapi tidak diijinkan mengajar karena pemerintahan Mesir takut  akan pengaruhnya terhadap mahasiswa. Tahun 1894, ia diangkat menjadi anggota Majlis A’la dari Al Azhar, sebagai anggota majlis A’la ia membawa perubahan-perubahan  dan perbaikan-perbaikan ke dalam tubuh Al Azhar sebagai Universitas. Tahun 1899, ia diangkat menjadi mufti Mesir, sampai meninggal dunia tahun 1905.
     Abduh merupakan sosok yang yang sangat berpengaruh terhadap pembaharuan dalam pemikiran di dunia Islam, termasuk di Al Azhar. Banyak sekali murid-murid Abduh yang menjadi penerus upaya pembaharuan, antara lain : Rasyid Ridla, Al Maraghi, Tanthawi Jauhari, Qosim Amin, Muh. Husein Haikal, Abbas mahmud Al akkad, Ibrahim A. Kadir Al Mazin,  Musthafa Abdur Rajik, Ali abdur Rajik, Farid Wajdi, Sa’ad Zaghul (bapak kemerdekaan Mesir), dan lain-lain.
 Pemikiran
     Dalam hidupnya ia menyaksikan kemunduran-kemunduran yang dialami oleh umat Islam. Kemunduran-kemunduran tersebut menurut  pendapatnya adalah karena faham jumud yang terdapat dikalangan umat Islam, (Kata jumud artinya  keadaan membeku, keadaan statis, tidak ada perubahan).  Karena dipengaruhi paham jumud ini umat Islam tidak menghendaki perubahan dan tidak mau menerima perubahan, umat Islam hanya berpegang teguh  pada tradisi.
    Sikap ini menurutnya dibawa  kedalam tubuh Islam oleh orang-orang yang bukan Arab, yang kemudian dapat merampas kekuasaan politik didunia Islam. Dengan masuknya mereka kedalam Islam, adat istiadat dan paham-paham animisme mereka turut pula mempengaruhi umat Islam yang mereka perintah. Disamping itu mereka bukan pula berasal dari bangsa yang mementingkan pemakaian akal  seperti yang dianjurkan dalam Islam. Mereka berasal dari bangsa jahil dan tidak kenal pada ilmu pengetahuan.  Mereka musuhi ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan akan membuka mata rakyat. Rakyat perlu ditinggalkan dalam kebodohan agar mudah diperintah. Untuk itu mereka bawa kedalam Islam ajaran-ajaran yang akan membuat rakyat berada dalam keadaan statis, seperti pujaan yang berlebih-lebihan terhadap para Syekh, wali, dan kepatuhan yang membabi buta terhadap ulama, taqlid terhadap ulama-ulama terdahulu, dan tawakal serta penyerahan bulat dalam segala-galanya terhadap qadla dan qadar. Dengan demikian membekulah akal dan berhentilah pemikiran dalam Islam. Lama kelamaan paham jumud meluas dalam masyarakat Islam di seluruh dunia Islam.
     Menurutnya ini merupakan bid’ah, menurut Abduh masuknya berbagai bid’ah, membuat umat Islam lupa akan ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Bid’ah itulah yang mewujudkan masyarakat Islam yang jauh menyeleweng dari masyarakat Islam sebenarnya. Umat Islam harus kembali kepada ajaran-ajaran  Islam yang semula , ajaran Islam di zaman salaf, yaitu zaman sahabat dan ulama-ulama besar.
     Abduh, tidak cukup  hanya  kembali kepada ajaran-ajaran asli sebagaimana yang dianjurkan oleh Muhammad Abdul wahab, karena  zaman dan suasana umat Islam sekarang telah jauh  berubah dari zaman dan suasana umat Islam zaman klasik. Ajaran-ajaran asli perlu disesuaikan dengan keadaan zaman sekarang.
    Sebagaimana Ibnu Taimiyah membagi ajaran Islam kedalam 2 katageri, ibadat dan muamalah  (hidup kemasyarakatan manusia). Tentang ibadat, ia berpendapat bahwa ajaran-ajaran yang terdapat dalam Al Qur’an dan hadits mengenai ibadat bersifat tegas, jelas, dan terperinci. Sebaliknya mengenai kehidupan sosial (muamallah), ajaran Islam hanya disebutkan dasar-dasar dan prinsip-prinsip umum yang tidak terperinci,  dan ajaran tersebut hanya sedikit jumlahnya dalam Qur’an dan hadits. Karena prinsip-prinsip itu bersifat umum tanpa perincian ia berpendapat bahwa semua itu dapat disesuaikan dengan tuntutan zaman. Untuk itu diperlukan interpretasi baru / ijtihad.  Untuk menyesuaikan dasar-dasar itu dengan  situasi modern. Tetapi tidak semua boleh berijtihad, hanya orang-orang yang memenuhi syarat-syarat yang diperlukan. Ijtihad harus berdasar Al Qur’an dan Hadits sebagai sumber asli.
    Lapangan ijtihad adalah soal-soal muamalah, yang dalam Al Qur’an dan Hadits hanya sedikit dan bersifat umum. Adapun soal ibadah karena menyangkut hubungan  manusia dengan tuhannya, tidak menghendaki perubahan menurut zaman, oleh karena itu, ibadat bukanlah lapangan ijtihad sebenarnya untuk zaman modern ini.
    Taqlid terhadap ulama tak perlu dipertahankan bahkan harus diperangi, karena taqlid inilah yang membuat umat Islam berada dalam kemunduran dan tak akan maju.  Ia mengkritik ulama-ulama yang menimbulkan taqlid, sikap ulama ini menurutnya membuat umat Islam berhenti berpikir dan akal  mereka berkarat.
    Abduh sangat menjunjung tinggi akal yang merupakan karunia Allah yang di berikan pada manusia. Pendapat ijtihad terbuka dan pemberantasan taqlid, akal sangat berperan. Al Qur’an menurutnya berbicara bukan semata hati nurani, tetapi juga akal. Islam memandang akal mempunyai kedudukan yang tinggi. Allah menunjukan perintah dan larangannya terhadap akal. Dalam Al Qur’an banyak menyebut tentang perintah kepada akal untuk berpikir. Oleh karena itu Islam baginya merupakan agama yang rasional. Hubungannya dengan akal, wahyu, tak dapat membawa hal-hal yang bertentangan dengan akal. Kepercayaan terhadap kekuatan akal adalah dasar peradaban suatu bangsa. Akal  terlepas dari ikatan tradisi,  oleh karena itu akal akan dapat memikirkan dan memperoleh jalan-jalan yang membawa pada kemajuan.
     Tentang ilmu, menurutnya Ilmu pengetahuan modern banyak berdasar pada hukum alam (sunatullah = natural law). Hukum alam / sunatullah merupakan ciptaan Allah, dan wahyu juga berasal dari-Nya, maka ilmu pengetahuan modern berdasar pada hukum alam, tidak mungkin bertentangan Islam yang berdasarkan  dengan wahyu. Islam mesti sesuai dengan ilmu pengetahuan, dan ilmu pengetahuan mesti sesuai dengan Islam. Ilmu pengetahuan adalah sebab-sebab kemajuan pada zaman keemasan umat Islam dimasa lampau, dan sebab kemajuan barat sekarang. Untuk mencapai kemajuan yang hilang, umat harus kembali mempelajari dan mementingkan ilmu pengetahuan.
    Kepercayaan kepada kekuatan akal, membawa Abduh selanjutnya kepada faham bahwa manusia mempunyai kebebasan dalam kemauan dan perbuatan (free will and free act atau qadariyah) 2). Menurutnya manusia mewujudkan perbuatannya dengan kemauan dan usahanya sendiri, dengan tidak melupakan  bahwa diatasnya masih ada kekuasaan yang lebih tinggi.
    Ia menyetujui pendapat penulis barat, bahwa kemunduran umat disebabkan oleh paham jabariyah (fatalisme). Dalam majalah Al Urwah Al Wusqa, ia bersama Al Afghani menjelaskan bahwa faham qadla dan qadar telah diselewengkan menjadi fatalisme. Padahal paham qadla dan qadar mengandung unsur dinamis yang membuat umat Islam dizaman klasik dapat membawa Islam sampai Spanyol dan dapat menimbulkan peradaban yang tinggi. Paham fatalisme harus dirobah dengan paham kebebasan manusia dalam kemauan dan perbuatan. Inilah yang akan menimbulkan dinamika umat Islam kembali.  Dengan demikian paham jumud harus diganti dengan paham dinamika.
    Untuk itu peranan pendidikan sangat penting sekali, sekolah-sekolah modern perlu dibuka, dimana ilmu pengetahuan modern perlu diajarkan selain agama. Ia mencoba memasukan ilmu-ilmu modern ke dalam Al Azhar, dengan maksud supaya umat mengerti kebudayaan modern, dengan demikian dapat mencari penyelesaian yang baik dari persoalan-persoalan yang ditimbulkan pada setiap zaman. Mempermodern  sistem pelajaran di Al azhar menurutnya akan sangat berpengaruh besar dalam berkembangnya usaha-usaha pembaharuan dalam Islam. Karena Al Azhar merupakan universitas yang sangat dihargai  dan dihormati oleh umat Islam di dunia.
    Abduh menolak adanya dualisme dalam  pendidikan, yang dianggapnya sangat membahayakan. Sistem madrasah lama (tadisional) akan mengeluarkan ulama-ulam yang tak ada pengetahuannya tentang ilmu-ilmu modern, sedang sekolah-sekolah pemerintah akan mengeluarkan ahli-ahli yang sedikit ilmu pengetahuannya tentang agama.
 Karya
  • Al Islam Din Al Ilm Wa Al  Madaniah, dalam buku ini dibahas tentang kemunduran umat yang disebabkan “jumud”, dan upaya untuk mengembalikan kepada Islam yang sebenarnya.
  • Risalah Al Tauhid, berbicara tentang ketinggian akal
  • Tafsir Al Manar, tafsir ini merupakan saran dari muridnya Rasyid Ridla, tetapi ia keburu meninggal, sehingga usahanya diteruskan oleh Rasyid Ridla.
  • Hasyiyah ‘ala syarh ad dawani li al Aqaid al Adudiyah (Komentar terhadap penjwelasan Ad Dawani terhadap akidah-akidah yang meleset). Dalam buku ini diantaranya dijelaskan bahwa sifat tuhan adalah esensi tuhan.
  • Hasyiyah ‘ala al Aqaid ( Komentar terhadap akidah-akidah menyesatkan)
  • Durus min Al Qur’an (Berbagai pelajaran al Qur’an)
  • Al Islam wa an Nasraniyyahma’a al ‘Ilm al Madniyah (Islam dan Nasrani bersama ilmu-ilmu peradaban)
  • Tafsir al qur’an al karim juz ‘Amma
 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda