ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM KONTEMPORER > Pembaharu >  Sayyid Ahmad Khan

 
 
 
 
 
 
 
 

 Sayyid Ahmad Khan

 

SAYYID AHMAD KHAN (1817-1898 )

 

    Seorang pengilham utama kebangkitan umat Islam di India pada abad ke-19 M, penggagas pendirian lembaga pendidikan Aligarh, dan bapak prosa Urdu modern.
     Ia berasal dari Bahadur dan mengenyam pendidikan konservatif. Nenek moyangnya berasal dari Persia. Ayahnya Mir Muttaqi, seorang yang saleh yang sangat berpengaruh di istana kaisar Mongol, Akbar Syah II. Setelah mengundurkan dari jabatannya ia menghabiskan seluruh hidupnya bersama Shah Ghulam Ali, seorang sufi. Anaknya (sayyid Ahmad Khan) menjadi shaleh karena ajaran Shah Ghulam Ali ini.
    Pada tahun 1837 M, setahun setelah ayahnya meninggal, ia menjadi serichfedar (pembaca) di istana kaisar Moghul, Bahadur Syah. Tetapi kemudian ia bergabung dengan pemerintah kolonial Inggris, dan pada tahun 1841 ia diangkat menjadi Munisf / pegawai peradilan dan ditempatkan di Fatehpur Sikri. Pada tahun 1855 ia dipindahkan ke Bynore.
    Ketika terjadi pemberontakan tahun 1857 M yang terkenal, ia berada di Bynore. Usianya pada saat itu 40 tahun, dan reputasinya sebagai pegawai pengadilan yang jujur, kompeten dan cerdas. Ia waktu itu banyak membantu menyelamatkan orang-orang Eropa setempat lalu mengungsikannya ke Meerut. Setelah Delhi dikuasai Inggris, ia pindah ke kota itu, dan mendapatkan beberapa anggota keluarganya telah dibunuh dan ibunya dalam keadaan yang menyedihkan. Penderitaan ibunya yang meninggal di Meerut sempat membuat kesehatan Syed Ahmad menurun.
    Pemeriksaan dan penuntutan yang buruk serta perampokan dan pembakaran oleh kaum kolonial Inggris di Delhi. Kota yang bagus di Red Ford (Benteng Merah) dan Masjid Syah Jadan diratakan tanah. Peristiwa ini meninggalkan kesan yang sangat mendalam dan berpengaruh terhadap pandaangan hidupnya juga sangat besar. Tragedi tahun 1857 ini melahirkan bukunya yang berjudul Ashab -I-Baghawah-I-Hind (Sebab-sebab pemberontakan di India).
     Pada tahun 1862 M, ia dipindahkan ke Ghasipur. Disini ia mengajak himpunan pendidikan ilmuwan menterjemahkan buku-buku sains dan budaya ke dalam bahasa Urdu. Kemudian ia dipindahkan ke Aligarch, kota pusat aktifitas pembaharuan dan pendidikan yang kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan Islam di anak benua India. Disini ia mendirikan sebuah college Muhammadar. Lembaga pendidikan ini kemudian menjadi universitas muslim Aligarch yang terkenal. 
     Setelah kunjungan singkatnya ke Inggris pada tahun 1870 M, ia tampak semakin kuat terhadap peradaban barat. Sesampainya ia di India ia mulai menerbitkan majalah berbahasa Urdu, Tahzib Ul Akhlaq dan juga menafsirkan Al Qur’an dengan menggunakan istilah-istilah naturalistik. Melalui majalah ini ia mempropagandakan dokrin-dokrinnya yang informatif mengenai masyarakat dan agama, dan mengecam hirarki keagamaan yang menudingnya kafir. Pada tahun 1876, syed Ahmad mengundurkan diri dari pemerintahan dan menetap di Aligarch.
    Karena jasa-jasanya maka pemerintahan Inggris memberi gelar Sir. Ia juga 2x diangkat sebagai anggota dewan raja muda pada tahun 1878 oleh Lord Lytton dan pada tahun 1880 untuk 2 tahun oleh Lord Rifon.
    Ia meninggal pada 27 Maret 1898, pada usia 81 tahun. Pada akhir hayatnya ia masih bekerja 18 jam sehari.
     Ia meninggalkan sedikitnya 25 karangan sejarah, arkeologi, politik, agama dan filsafat, disamping menulis tafsir Al Qur’an (7 jilid), yang memberikan penjelasan rasional dokrin-dokrin agama dalam Al Qur’an dan mengedit tulisan Abul Fazal, An-I-Aktan, serta menulis riwayat Ziauddin Barni.
 
Pribadi dan Pemikiran
     Sayyid Ahmad Khan adalah seorang yang yang berpengetahuan luas. Ia menguasai filsafat kuno, filsafat sejarah dan kebudayaan Islam. Ia menguasai bahasa Arab, Turki, Persia dan Afghan, serta sedikit berbahasa Inggris Rusia dan Francis.
    Pengaruhnya terhadap umat Islam India sangat besar sekali. Dialah pengilham utama kebangkitan umat Islam di India pada abad ke-19 M. Salah satu kunci rahasia sukses Syed Ahmad Khan adalah berhasilnya mengumpulkan disekitarnya sederetan penulis dan administrator terkenal yang bersemangat. Ia mempunyai bakat kepemimpinan yang luar biasa Ia mempengaruhi dan menampilkan ke depan sejumlah besar orang cakap, diantaranya : Hali (seorang peletak sastra Urdu Modern), Sibli (seorang sastarawan berbakat), Nazir Ahmad (novelis, humoris, dan estetis bahasa Urdu terkenal), Nawab Muhsimul Mulk(seorang orator dan administrator), Maulwi Chiragh Ali (seorang penulis dan organisatoris piawai).
     Setelah hancurnya gerakan mujahidin dan kerajaan moghul akibat dari pemberontakan tahun 1857 M, maka Sayyid Ahmad Khan muncul sebagai pemimpin umat Islam di India yang waktu itu sedang ada dalam kemunduran (secara politis dan intelektualitas), dan ia berusaha membangkitkannya kembali.
     Ia memandang kemunduran umat Islam di India waktu itu dikarenakan mereka tidak mengikuti perkembangan zaman. Peradaban Islam klasik telah hilang dan telah timbul peradaban baru di barat yang didasarkan pada ilmu pengetahuan dan teknologi.
    Ia berusaha merumuskan I’tikad Islam dalam istilah modern. Ia yakin bahwa Islam dan ilmu pengetahuan tak mungkin saling berlawanan. Ia menyatakan pembenaran yang nyata dari Islam adalah persesuainnya dengan alam semesta dan hukum-hukum ilmu pengetahuan, dan tidak sesuatu yang melawan dasar ini dipandang Islam yang asli dan syah.
      Ilmu pengetahuan dan teknologi modern menurutnya adalah hasil pemikiran manusia, karena akal mendapat penghargaan yang tinggi darinya meskipun akal bukan tak terbatas. Ia percaya pada kekuatan dan kebebasan akal, sungguhpun mempunyai batas. Ia percaya pada kebebasan dan kemerdekaan manusia dalam menentukan kehendak dan melakukan perbuatan (free will and free act) atau paham qadariyah. Menurutnya juga manusia dianugrahi Allah swt daya-daya, diantaranya daya pikir yang disebut akal dan daya fisik untuk mewujudkan kehendaknya, dan manusia mempunyai kebebasan untuk mempergunakan daya-daya yang diberikan tuhan kepadanya itu.
     Ia juga sangat menolak paham taqlid, bahkan ia tidak segan-segan menyerang paham ini. Sumber ajaran Islam menurutnya hanyalah Al Qur’an dan Hadits (sunnah). Pendapat ulama masa lampau tidak mengikat bagi umat Islam, dan jika pendapatnya tidak sesuai dengan zaman modern, pendapat itu dapat ditinggalkan. Karena itu dalam masyarakat yang terus berubah ia menganjurkan untuk selalu berijtihad. Ijma’ dan qiyas baginya bukan sumber Islam, dan hadits dapat diterima jika telah diadakan penelitian yang seksama tentang keasliannya.
    Ia berpendapat pula bahwa satu-satunya jalan bagi umat Islam India untuk mencapai kemajuan adalah pendidikan. Kemajuan tidak akan dicapai melalui jalan politik. Oleh karena itu ia menganjurkan supaya umat Islam India (waktu itu) jangan turut campur dalam agitasi politik yang dilancarkan Partai Kongres, meskipun usahanya ini tidak berhasil.
    Dalam politik di India waktu itu, ia melihat bahwa umat Islam merupakan satu umat yang tidak dapat membentuk suatu negara dengan umat Hindu. Umat Islam menurutnya harus mempunyai negara tersendiri. Disinilah bibit dari ide negara Pakistan yang muncul kemudian di Abad 20 M.
    Dalam menafsirkan Al Qur’an, ia adalah orang yang pertama dalam aliran tafsir modern (menafsirkan Al Qur’an dalm tinjauan modern). Karyanya Tafsir Al Qur’an ( terbit dalam 6 jilid mulai tahun 1880-1895) dalam bahasa Urdu. Tafsir yang disusunnya pada dasarnya merupakan suatu koleksi esai yang hanya menafsirkan ayat-ayat tertentu berkaitn dengan masalah-masalah yang dianggap penting pada masanya, terutama yang berkaitn dengan fenomena kealaman. Disamping itu masalah hubungan antar pemeluk agama yang berbeda serta peperangan religius juga mendapat porsi cukup banyak didalam tafsirnya (dengan demikian tafsirnya termasuk tafsir tematis (maudlu’I). Sebagai pijakan untuk tafsirnya, ia menyusun 15 prinsip penafsiran Al Qur’an (tahrir fi ushul al tafsir).
 
Karya
·         Asrar-ul-Sanadid (Jejak-jejak yang besar). Buku yang diselesaikan tahun 1847 M ini memuat laporan (riset) tentang puing-puing Delhi lama, serta mengennai sejumlah sarjana sastra, dan orang-orang shaleh di zamannya. Buku ini mengantarakannya terpilih sebagai anggota The Royal Asiatic Society pada tahun 1864. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis oleh M. Garcin De Tasq pada tahun 1861 M.
·         Tozak-e-Jehangir, merupakan autobiografi Kaisar Jehangir dari kerajaan Moghul di India, pendiri Taz Mahal.
·         Ashab-I-Baghawat-e-Hind (Sebab-sebab Pemberontakan India), buku ini menceritakan tragedi pemberontakan kamu muslimin terhadap Inggris pada tahun 1857 M di India, yang menyebabkan runtuhnya kekaisaran Moghul untuk selama-lamanya. Buku ini merupakan yang pertama berbicara mengenai masalah ini. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Auckland Colin.

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda