ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM KONTEMPORER > Kristolog > Ahmad deedat

 
 
 
 
 
 
 
 

Ahmad deedat

 

 
 
AHMAD DEEDAT (1918-      M)
Kristolog
 
  Seorang pedagang garam yang kemudian menjadi kristolog yang terkenal. Ia adalah ahli dalam debat, dan telah melakukan perdebatan lebih dari 32 orang pendeta diberbagai tempat didunia.
      Nama Ahmad Husein Deedat. Ia dilahirkan di Surat, salah satu distrik di India, dari pasangan Husein Kazim Deedat dan Fatimah. Pada usia 9 tahun, ia dibawa pindah oleh orang tuanya ke Durban, Afrika Selatan. Di Durban ini ia belajar dasar-dasar agama di Islamic Centre. Kemudian ia ikut membantu ayahnya membuka toko dan menjual garam.
     Perubahan hidupnya dari penjual garam menjadi kristolog diawali dengan ketidakberdayaan dirinya dalam men-counter (menjawab / menangkis) para misionaris ketika mereka mempertanyakan tentang agama Islam. Hal ini terjadi ketika pada tahun 1940 M ada kunjungan rombongan misionaris ke toko garamnya. Waktu itu ia mati kutu, tidak bisa menjawab apalagi menangkisnya berbagai pertanyaan. Akibat dari ketidakberdayaan ini, maka mulai bangkitlah daya pikir dan upaya untuk membela agamanya. Dan sejak itu ia memutuskan untuk mempelajari Islam lebih mendalam dan juga mempelajari kitab Injil dalam berbagai cetalkan bahasa Inggris dan juga kitab Injil dalam bahasa Arab, dan kemudian memperbandingkannya satu sama lain. Penguasaannya terhadap bahasa Inggris (yang merupakan bahasa resmi Afrika Selatan) dan juga bahasa Arab sangat membantunya dalam pemahaman terhadap kitab-kitab yang ia baca.
     Disamping itu, yang juga ikut mendorongnya untuk menjadi kristolog adalah ketika ia bekerja di Pakistan tahun 1950-an. Dengan tidak disengaja ia menemukan buku digudang yang berjudul Idhdharul Haq (Menampakan kebenaran) karya Syekh Rahmatullah Al Hindi. Buku tersebut menelanjangi penjajahan Inggris di India yang menganggap Islam sebagai ancaman besar bagi Inggris, karena itu inggris mencari cara untuk menghancurkan dan mempolarisasikan kaum muslimin dan mengkristenkannya.
      Setelah memiliki kesanggupan yang lumayan untuk mengadakan serangan terhadap para penginjil, ia menghentikan semua kegiatan perusahaan dan mulai melakukan perdebatan- perdebatan dengan para pendeta / penginjil. Ia telah melakukan lebih dari 32 kali perdebatan dengan para pendeta diberbagai tempat di dunia. Diantaranya di Inggris, Irlandia, As, Kanada,Hongkong, Singapura, India, Zimbabwe, Mauritania, Malawi, Abu Dhabi dan saudi Arabia. Yang paling terkenal adalah perdebatan yang terjadi di gedung Albert Hall, London dengan pendeta Sowegart, perdebatan ini sendiri dihadiri oleh lebih dari 30000 orang dari berbagai lapisan masyarakat. Dan juga perdebatannya dengan tokoh kristen Amerika Serikat, Anis Shouros, dengan tema debat Benarkah Yesus itu Tuhan ?.  debat ini disebutnya sebagai great debate (debat besar) yang CD-nya berdedar diseluruh dunia.
 
Pribadi, Peran dan Pemikiran
     Pribadi Deedat, jika berbicara lemah lembut dan sopan, termasuk dalam berdebat. Ia tidak pernah menunjukan sikap emosional ketika berdebat, sehingga banyak orang Kristen yang simpatik dengan cara debatnya. Isi debatnya penuh dengan logika-logika yang ada dalam Al Kitab itu sendiri. Sehingga banyak orang yang kagum terhadap kedalamannya tentang al kitab. Penguasaanya terhadap alkitab sendiri melebihi para pendeta sekalipun.
     Ia adalah sedikit dari muslim yang menguasai dan memahami ketiga kitab suci agama samawi dengan mendalam, sehinggga mampu menangkis serangan lawan terhadap agama dan nabinya. Pemahaman terhadap al Kitab (Injil) diatas para pendeta Kristen, sehingga ia selalu menggunakan nash-nash Injil sendiri ketika berdebat dengan para pendeta.
     Deedat juga seorang da’I yang benar-benar memahami asal muasal da’wah Islam. Kepeduliannya terhadap da’wah Islam sangat tinggi. Ia tidak rela melihat dunia Islam tidak berdaya menghadapi misionaris dunia. Dengan segala upayanya, ia berusaha menghadang usaha kristenisasi yang melanda dunia Islam.
    Dalam menghadapi proyek kristenisasi (pemurtadan) international, ia memberikan resep kepada da’I-da’I dan lembaga-lembaga da’wah Islam. Menurutnya para da’I (penda’wah) harus memahami benar pokok ajaran semua agama dan dapat menjawab lancar semua pertanyaan dan tantangan yang dilancarkan orang. Selain itu para penda’wah harus dipersiapkan lebih efektif dan dibekali berbagai bahasa asing, terutama bahasa resmi tempat ia beroperasi.
     Bagi Deedat dialog dan perdebatan itu semakin menambah pengetahuannya tentang agama Islam , Masehi (Kristen) dan Yahudi. Dengan modal pengetahuannya, disamping kemahiran dalam membawakan da’wah Islam dalam beberapa bahasa (ia juga menguasai bahasa Ibrani) ia selalu siap berhadapan dengan siapapun yang ingin mencari kebenaran.
    Ia bisa menggugurkan masalah yang sering dikatakan oleh para misisonaris yaitu Injil firman Allah, dengan nash-nash yang ada dalam kitab tersebut. Menurutnya banyak kata-kata dalam injil yang sulit diterima oleh akal . Diantaranya tentang ayat yang menceritakan tentang perzinaan, yang tidak layak disebut firman tuhan. Karena itu menurutnya sebagai kitab suci, tidak masuk akal bila Injil yang ada sekarang diklaim datang dari Allah. Menurutnya Injil yang sekarang bukan seperti yang dibawa oleh nabi Isa. Injil yang dibawa nabi Isa adalah injil dan berita gembira kepada Bani Isarel. Menurut sejarah, sepanjang hidupnya nabi Isa tidak pernah menulis sepatah katapun, seperti ia tidak juga tidak pernah memerintah kepada seseorang untuk menulisnya.
 
Karya
  • The Choise

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda