ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM KONTEMPORER > Intelektual Kontemporer > Ziauddin Sardar

 
 
 
 
 
 
 
 

Ziauddin Sardar

 
ZIAUDDIN SARDAR (1951-     M)
Futurolog
 
     “Suatu masyarakat akan mengukir peradaban yang cemerlang di masa depan, jika mampu melakukan adaptasi terhadap perkembangan zaman tanpa tercerabut dari jati diri dari akar kebudayaannya”. (Ziauddin Sardar)
 
      Sardar adalah seorang futurolog muslim ternama. Ia merupakan cendekiawan asal Pakistan yang menetap lama di Inggris, seorang penulis dan kritikus kebudayaan (Cultural Critic) spesialisasi peradaban Islam masa depan (the Future of Islam), sains dan hubungan kebudayaan (cultural relations).
      Lahir di Pakistan, pada 31 Oktober 1951 M. Ia merupakan seorang ilmuwan petualang (scholar adventure) dan telah melakukan perjalanan dunia. Pada tahun 1974-79, ia tinggal di Jedah, Saudi Arabia. Dimana ia melakukan riset di The hajj Research centre King Abdul Aziz University. Dan selama periode ini ia berkeliling ke dunia Islam (negeri Islam) dalam riset buku pertamanya, “ Science, Technologyy and Development in The World Muslim.”
    Pada tahun 1980 M, ia mengedit majalah muslim pertama “Inquiry” sebelum mengembangkan The Centre for Policy and Futures Studies at east-west university in Chicago.
     Pada tahun 1990 ia tinggal di Kualalumpur. Ia juga pernah tinggal di Chicago dan Denhag, dan sebentar di Cairo dan Fez.
     Karena pemikirannya yang fenomenal, majalah ‘Prospect’ dari inggris menggelarinya sebagai One of britain’s top-100 puvblic intellectuals”. Sedang surat kabar ‘ Independent’ menggelarinya” Britain’s own muslim polymath”. Ia telah menulis 45 buku dalam periode 30 tahun.
 
Pemikiran
      Merenungi Islam sebagai kebudayaan telah ratusan tahun menjadi the underdog culture. Sebaliknya barat tetap menjadi the rolling culture yang memiliki daya penetrasi yang luar biasa dalam setiap kebudayaan apa saja yang disebut sebagai negara-negara muslim. Terlebih percepatan ilmu pengetahuan dan kecanggihan technology sudah menjadi kekuasaaan tersendiri bagi dunia barat dalm menata peradaban dunianya.
      Bagi Sardar, merekayasa pekerjaan untuk membangun kembali peradaban muslim membutuhkan perumusan baru dalam pendekatan terhadap Islam sebagai peradaban. Lebih dari itu, rekonstruksi peradaban muslim secara esensial merupakan suatu proses elaborasi pandangan dunia Islam.
     Ia mengkritik islamisasi ilmu pengetahuan yang dikembangkan Al Faruki. Menurutnya ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dalam pandangan dunia dan system keyakinan. Daripada mengislamkan disiplin-disiplin yang telah berkembang dalm social, etis dan cultural barat, kaum cendekiawan muslim lebih baik mengarahkan energi mereka untuk menciptakan paradigma-paradigma Islam. Karena dengan itulah tugas untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan urgen masyarakat muslim dapat dilakukan. Islam menurutnya harus direkontruksi sebagai peradaban. Karena sebagai peradaban pula Islam telah menjadi puing-puing tak berarti dihadapan keperkasaan peradaban barat ini. Imperioritas Islam dihadapan peradaban barat berlaku disemua sektor, mulai dari sektor keilmuan, tekhnologi, pendidikan, kedokteran, lembaga-lembaga social dan ekonomi hingga sektor-sektor lain, seperti pemikiran politik dan kebudayaan. Dalam semua sektor inilah peradaban barat begitu kuat mendominasi masyarakat-masyarakat dan kebudayan muslim sampai pada level dimana Sardar menyebutnya sebagai kolonialisme-epistemologis. Misalnya melalui tekhnologinya yang tak lain sekedar berfungsi sebagai alat imperialisme kebudayaan. Kondisi ini menyebabkan masyarakat dan kebudayaan kaum muslim kontemporer umumnya menjadi perpanjangan tangan dari kepentingan-kepentingan peradaban barat. Islam dalam keadaan demikian menjadi subkoordinat barat, sadar atau tidak.
      Menurutnya juga, proses rekontruksi peradaban muslim sama artinya dengan menghadapi tantangan masyarakat muslim. Masyarakat muslim harus memikirkan dan mempelajari masa depan mereka bukan dengan term-term kebangkitan, tapi dalam proses rekontruksi yang terus menerus terhadap peradaban mereka. Proses ini tidak menyangkut mengislamkan dalam disiplin ilmu ini dan itu tetapi memasukan ekspresi-ekspresi eksternal peradaban muslim ke dalam metode epistemologis Islam dan metodologi syari’ah. Ia mencakup pengelaborasian pandangan dunia Islam dan pemamfaaan matrik konseptual, yaitu tepat dari jantung Al Qur’an dan Sunnah. Wawasan mental dari proses ini didasarkan pada sintesis dan interdisiplinaritas.
       Tapi sebelumnya, menurut Sardar, kita perlu mengambil langkah-langkah awal untuk merekontruksi peradaban dengan dimulai berpikir secara individual dan kolektif, mengenai peradaban macam apa yang kita inginkan. Komitmen dan aspirasi-aspirasi kita harus diarahkan bukan pada sasaran patokhial, tetapi pada latar (plane) civilisasional.
      Untuk menumbuhkan peradaban itu, Sardar tidak malu-malu melempar kritik gerakan intelektual Islam agar menjadi lebih efektif dan berdampak jangka panjang jika tidak didasarkan pada visi sivisional. Dengan visi itu dimaksudkan sebuah upaya besar untuk membangun kembali basis-basis Islam mulai dari levelnya yang paling fundamental, yakni revitalisasi epistemology dan pandangan dunia Islam hingga pada penataan kembali lingkungan fisik, sosial, politik, budaya dan invensi-invensi baru dibidang ilmu dan tekhnologi yang sesuai dengan kebutuhan pragmatis dan kontemporer masyarakat muslim.
 
Karya
·         Mengenal Islam for Beginners (Terj.) (Mizan, Bdg, Juli 1997). Buku ini ia tulis bersama dengan Zafar Abbas Malik. Buku ini dibuat dengan model komik sebagai upaya untuk mempermudah penangkapan gagasan yang disampaikannya. Dalam buku ini dijumpai foto / lukisan/ gambar yng jarang dijumpai sebelumnya, yang memperlihatkan bagaimana dinamika perdebatan-perdebatan – penulisan – penyalinan, menjadi sebuah rangkaian yang memperjelas bahwa di dalam peradaban Islam pada beberapa abad lalu tumbuh dinamika intelektual yang tinggi. Dalam buku ini Sardar ingin menampilkan totalitas aspek-aspek Islam tanpa berpretensi untuk mengunggulkan satu aspek dibanding aspek lain. Perdebatan yang digunakannya amat sederhana tetapi menukik sehingga tidak terasa pembaca diajak mengarungi samudra Islam yang luas. Setelah periode keemasan Islam, kemudian masuklah masa-masa stagnasi dan kemunduran yang dipicu oleh sikap kurang aspiratif para ulama terhadap perubahan global. Ia mengungkapkan (dengan satiris / sindiran yang tajam) betapa bedanya sikap responsive umat Islam dulu yang menerima tekhnologi pembuatan kertas dari Cina, dibandingkan sikap reaktif menolak masuknya tekhnologi mesin cetak Eropa. Ketika kolonialisme masuk ke dunia Islam, momentumnya bersamaan dengan kemunduran peradaban Islam. Politik pecah belah dilakukan oleh penguasa kolonial untuk dapat menguasai kerajaan-kerajaan Islam yang memang sudah lemah. Kedatangan kolonialisme merupakan bencana bagi umat Islam. Perlawanan yang dilakukan terhadap kolonialisme jarang membawa hasil yang optimal. Revolusi industri di eropa yang dibangun dari hasil penjarahan terhadap bahan mentah atau memporakporandakan lebih dulu industri sejenis di tanah asalnya. Di akhir buku ini, ia menampilkan isu-isu actual yang menyangkut kebangkitan kembali Islam; fundamentalisme; gerakan Malcolm X ; serta Islamisasi ilmu pengetahuan ‘ala Al Faruki. Seakan memberi tekanan bahwa karya besar yang harus dilakukan seorang muslim justru terletak pada upaya menampilkan kembali citra keberagaman yang inklusif dan responsive pada agenda Global. Sardar sangat menekankan betapa sengsaranya hidup dalam lautan citra negatif. Umat islam sudah ditenggelamkan ke dalam istilah-istilah pejoratif yang didistribusikan secara luas oleh media barat.
·         Jihad Intelektual, Merumuskan Parameter Sains Islam (Terj) (Risalah Gusti, 1998). Buku ini merupakan kumpulan tulisan-tulisannya dalam majalah Al Afkar Inquiry.
·         Science, Technology and Development in The Muslim World (1977)
 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda