ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM KONTEMPORER > Intelektual Kontemporer > Syed Muhammad Naquib al Attas

 
 
 
 
 
 
 
 

Syed Muhammad Naquib al Attas

SYED MUHAMMAD NAQUIB AL ATTAS, (1931-           M)
 
     Seorang ilmuwan melayu kontemporer termasyhur kelahiran Bogor, Pasundan. Ia menguasai teologi (kalam), filsafat, metafisika sejarah dan literatur, dan secara ekstensif mengulas filsafat dan tasauf.
     Ia adalah seorang pendekar ilmu yang berusaha untuk men-dewesternisasi-kan ilmu. Pada tahun 1987 ia mendirikan ISTAC (International Institute of Thought and Civilization), di Kuala Lumpur, Malayasia. Suatu lembaga pendidikan pada tingkat magister dan doctor di bidang agama dan pemikiran Islam.
      Lahir di Bogor, Pasundan, dan bermukim di negeri jiran Malayasia. Pendidikan dasar (usia 5 tahun) di Johor, Malayasia. Pada masa pendudukan Jepang ia belajar di pulau Jawa di Madrasah Al ‘Urwatu’l Wutqa, tetapi pada tahun 1946 ia kembali ke Johor untuk sekolah menengahnya.
      Ia sangat meminati mempelajari sastra dan sejarah Melayu, dan peradaban Islam. Saat menjadi mahasiswa di Universitas Malaya, ia menulis rangkaian rubaiyat, sebuah karya lieratur dan Some aspects of sufism as understood and practised among The Malays.
     Pasca sarjananya diselesaikan di Institute of Islamic Studies Mc Gill, Kanada pada tahun 1962, dengan tesis “Raniri and The Wujudiyyah of 17th Century Acheh”. Sedang doktoprnya ia raih di School of Oriental & African Studies, University of London, dengan disertasi tentang mistik Hamzah Fansury.
      Pada Desember 1987 ia diangkat menjadi guru besar dalam bidang tamadun (peradaban) dalam pemikiran Islam UII (Universitas Islam International) Malayasia, dengan tugas khusus sebagai direktur ISTAC.
 
Peran Dan Pemikiran
     Gagasan pendirian ISTAC diilhami (sejak tahun 1960-an), karena keprihatinnya terhadap hasil pendidikan modern universitas sekuler yang kurang mengakui eksistensi jiwa dan semangat manusia, sehingga menghasilkan manusia sekuler.
      Pada awalnya, gagasannya tersebut tidak mendapat respon yang positif. Gagasannya mulai mendapat sambutan ketika ia menyampaikan makalah yang berjudul Prliminary Thought on The nature of Knowledge and Definition (pemikiran mendasar tentang ilmu pengetahuan alam dan definisi serta tujuan pendidikan) pada konfrensi pendidikan Islam pertama di Mekah tahun 1977 M. Ide ini dipandang sebagai terobosan baru dalam konteks pemikiran Islam modern, meskipun pada dasarnya mengambil dan menafsirkan kembali sumber-sumber Islam klasik. Gagasan ini kemudian digulirkan lagi dalam konfrensi pendidikan Islam ke-2 di Islamabad Pakistan, maret 1980 M, hingga akhirnya berdiri ISTAC yang diresmikan pada 27 Februari 1987 M.
      Melalui institusi ini ia bersama sejumlah kolega dan mahasiswanya melakukan kajian dan penelitian mengenai pemikiran dan peradaban Islam, serta memberikan respon yang kritis terhadap peradaban barat.
      Sebagaimana umumnya para pemikir muslim yang idealis, ia banyak berbicara tentang sejatinya superioritas Islam. Islam sebagai satu-satunya agama yang mencakup dan melingkupi setiap aspek kehidupan manusia, kehidupan pribadi ataupun komunal, kehidupan ukhrawi maupun duniawi. Islam bertolak belakang dengan ajaran kristiani yang hanya menekankan aspek spiritual dalam kehidupan manusia.
 
Karya
·         Islam, Seculerism and The Philosophy of The Future. Dalam buku ini, ia berbicara tentang krisis maha penting (Grave Crisis) dalam dunia kristiani kontemporer. Lebih jauh ia menyatakan bahwa Islam tidak pernah menghadapi krisis semacam ini, dan bahkan, peradaban kristiani sebelumnya terbebas dari keadan ini. Karena, dalam derajat tertentu, ia pernah begitu dekat dengan Islam. Ini berbeda dengan kristiani barat kontemporer yang diimpit oleh berbagai abnormalitas sekulerisme. Sebaliknya, dalam Islam, ia menyatakan, tidak sebagaimana ajaran kristiani, umat islam tidak sepenuhnya bergantung kepada teori-teori para filsuf, ahli metafisika dan ilmuwan sekuler untuk keperluan teologis dan metafisika. Sebagai gantinya, kita cukup bepegang kepada pengalaman keagamaan dan hokum ilahi. Hal ini seperti tertutup bagi agama Kristen, alasannya menurutnya agama Kristen bukanlah agama wahyu. Ia berpandangan, bahwa agama Kristen adalah bentuk canggih dari agama budaya yang tidak bersifat universal. Jadi universalitas olehnya dikhususkan untuk Islam.
·         Mystism of Hamzah Fansury
·         The Correct Date of The Trengganu Incription (1970)
·         Comments on The Examination of Raniri’s Hajjatan ‘I Siddiq: A Reputation
·         Islam and Secularism (1978)
·         The Concept of Education in Islam (1980)
·         The Oldest Known Malay Manuscript a 16th Cebntury Malay Translation of The ‘Aqaid of al Nasafi (1988)
·         Islam and The Phychology of The Human Soul (1990)
·         On Quiddity and Essence (1990)
·         The Intuition of Existence (1990)
·         The Meaning and Experience of happiness in Islam
·         The Concept of Religion and Foundation of Ethics and morality
·         The Derees of Existence (1994)
·         The Prolegomena of The Metaphysics of Islam : An Exposition of The Fundamental Elements of The World View
·         Science and Civilization in Islam. Dalam buku ini ia banyak mengimformasikan warisan ilmu pengetahuan Islam ke dalam kebudayaan barat.
·         Risalah Kaum Muslimin
·         Sosiologi Korupsi

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda