ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM KONTEMPORER > Intelektual Kontemporer > Hasan Hanafi

 
 
 
 
 
 
 
 

Hasan Hanafi

 
HASAN HANAFI (1934-         M)
Filsuf Hukum Islam
 
    Filsuf hukum islam, pemikir dan guru besar fakultas filsafat universitas Kairo. Ia terkenal karena gagasannya mengenai Kiri Islam yang dicetuskan pada tahun 1981. Kiri Islam dalam arti sebuah gagasan untuk membangkitkan kembali peradaban Islam melalui pemurnian ajaran tauhid dan penentangannya terhadap dominasi kultur barat.
      Lahir di Kairo, Mesir. Saat di sekolah menengah ia mulai berkenalan dengan pemikiran Wahabi. Ketika masih menjadi mahasiswa, ia bergabung dan mendukung Ikhwanul Muslimin, hingga organisasi tersebut dilarang oleh Presiden Gamal Abd al Naser.
      Sarjana mudanya diraih di Universitas Kairo (1956) dan gelar doktor (doctorat d’etat) diraih dari Universitas Sarbonne di Prancis (1966) setelah merampungkan tiga disertasi (tentang dialog agama dan revolusi, fenomenalogi agama, dan penafsiran eksistensial terhadap perjanjian baru). Di Prancis ia nyambi mengajar bahasa Arab di Ecole des Langues Orientales di Paris. Setelah selesai ia kembali ke Mesir dan mengajar di almamaternya, Universitas Kairo.
     Hasan Hanafi sangat radikal dalam kritikannya menyangkut pengaruh modern terhadap pendidikan, gerakan islamisis di satu sisi dan usaha barat untuk mendominasi Islam di sisi lain.
      Pada tahun 1981, ia meluncurkan jurnal berkala Al Yasar Al Islami: Kitabat An Nahdah Al Islamiyah (Kiri Islam: Beberapa essai kebangkitan Islam). Jurnal berkala ini hanya sempat terbit satu kali, karena pemerintah Mesir melarangnya. Meskipun hanya terbit satu kali, kemunculannya yang sekilas tidak dapat menghapus gagasannya. Sejak saat itu gagasannya bergulir, dan mencuatkan namanya ke pentas pemikir muslim kontemporer. Banyak pemikir islam dan non islam mengomentari pemikirannya.
     Jurnal Al Yasar Al Islami ini oleh para pengamat dinilai sebagai kelanjutan dari Al Urwah Al wusqa (ikatan yang kokoh) yang diterbitkan di Paris oleh Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh pada tahun 1884., dilihat dari keterkaitannya dengan gagasan melawan kolonialisme dan upaya mengatasi keterbelakangan umat.
 
Pemikiran
    Pemikiran-pemikiran Hasan Hanafi beranjak dari ajaran yang paling mendasar dalam islam yaitu tauhid. Menurutnya hal yang pertama dan utama yang harus dilakukan untuk membangun kembali peradaban islam adalah pembangunan kembali semangat tauhid, karena tauhid merupakan asal seluruh pengetahuan. Menurutnya islam bukan berarti tunduk atau menghamba, melainkan lebih merupakan revolusi transendental terhadap struktur kesadaran individu, tatanan sosial dan sejarah yang dinamis.
     Pada jurnal pertamanya, esai pertama jurnal tersebut berjudul : Maza Ya’ni Al yasar Al Islami (apa arti kiri islam) yang memuat pemikirannya tentang beberapa isue penting yang berkaitan dengan kebangkitan islam. Tentang kebangkitan Islam menurutnya dapat diwujudkan dengan menekankan 3 hal :
Ø Perlunya rasionalisme untuk revitalisasi khazanah islam klasik.
Ø Perlunya perlawanan terhadap kebudayaan barat.
Ø Perlunya analisis atas realitas dunia islam.
Baginya penggunaan nama kiri islam sangat penting karena citra akademik kiri memiliki konotasi perlawanan dan kritisme. Ia juga mengatakan bahwa kiri islam adalah hasil nyata dari revolusi islam Iran yang merupakan salah satu respon terhadap barat. Kiri Islam juga merupakan resultan dari gerakan-gerakan diberbagai negeri muslim, untuk memunculkan islam sebagai khazanah nasional, yang memelihara otentitas dan kreativitas kaum muslim dalam memperjuangkan kepentingan mereka dan mendinamisasi rakyat muslim disetiap tempat. Karena itu esensi kiri islam adalah pencurahan   segala potensi untuk menghadapi puncak problematika zaman ini, berupa imprealisme, zionisme dan kapitalisme, yang merupakan ancaman eksternal, serta kemiskinan, ketertindasan dan keterbelakangan yang merupakan ancaman internal.
 
Karya
·         Essai Surla Methode D’exegese (Essai tentang metode penafsiran), merupakan disertasi gelar doktornya di Universitas Sarbone Prancis pada tahun 1966. Disertasi ini setebal 900 halaman dan mendapat hadiah sebagai karya tulis terbaik di Mesir pada tahun 1971.
  • Qadaya Mu’asirah (problema kehidupan modern), Beirut, 1982.
  • The Education of Human Race, Translation, and introduction (pendidikan manusia, suatu pengantar), Kairo, 1977.
  • Religious Challenge and Culture Domination (Tantangan keagamaan dan dominasi kebudayaan), Kairo,1977.
  • Tradition and modernism (tradisi dan modernisme), Kairo, 1980.
  • Al Juzur At Tarikhiyyah Li Azmah Al Hurriyyah Wa Ad Dimugratiyyah fi Wijdanina al Mu’asir ( pulau-pulau yang bersejarah bagi krisis kebebasan dan demokrasi dalam sukacita pada masa kini), Kairo, 1979.
  • Mysticism and Development (Mistisme dan pembangunan), Kairo, 1986.
  • Limaza Gaba Mabhas Al Insan Fituras Al Qadim (Mengapa tidak tampak pembahasan mengenai manusia pada kitab-kitab klasik), Kairo, 1981.
  • The Relevance of The Islamic Alternative in Egyipt (Relevansi alternatif islam di Mesir), Kairo, 1981.
  • Hal Yajuz Sar’an As Sulh ma’a Bani Israil (Bolehkah kita segera mengadakan perjanjian damai dengan bani Israil), Kairo, 1981.
  • Al Muslimun Fi asiyaa (Muslimin di asia), Kairo, 1981.
  • Al Aql Wa An Naql (akal dan wahyu), Kairo, 1981
  • Al Usuliyya al Islamiyya (fundamentalisme Islam), Kairo, 1982. Dalam buku ini ia yakin bahwa muslim memaknai dengan cukup berbeda ungkapan fundamentalisme Islam dari apa yang dimaknai oleh media barat. Ketimbang mengatakan keterbelakangan dan keinginan untuk berpegang tegus kepada mentalitas keagamaan abd pertengahan. Ia lebih cenderung bahwa pengkajian terhadap fundamentalisme merupakan kerja intelektual yang mesti ada dalam semua peradaban. Negara kapitalis, sosialis, komunis serta masyarakat Islam semuanya mencari legitimasi pada pri9nsip-prinsip fundamental.
  • Min Al aqidah ila As Saurah, Muhawalah Li I’adah bina Ilm Usul aldin (Dari akidah ke revolusi, suatu upaya membangun kembali ilmu usuluddin), Beirut, 1985.Dalam buku ini ia berusaha menawarkan pembacaan modern terhadap teks kalam klasik, hal ini sangat cocok untuk keadaan politik yang revolusioner yang beradan diabad modern (20 M).
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda