ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM KONTEMPORER > Intelektual Kontemporer > Fazlurrahman

 
 
 
 
 
 
 
 

Fazlurrahman

 
FAZLUR RAHMAN (1919-1988 M)
Pemikir neomodern
 
   Seorang pemikir dan penganjur post modernisme asal Pakistan. Karena pengetahuannya yang luas dan kecemerlangan pemikirannya, ia dinggap sebagai salah seorang pembaharu Islam yang paling berpengaruh di abad 20 M.
     Ia lahir di daerah barat laut Pakistan. Pada tahun 1942 meraih gelar master dibidang sastra Arab dari Universitas Lahore. Pada tahun 1946 ia melanjutkan studi ke Universitas Oxford, Inggris dan meraih gelar Doctor dalam bidang filsafat Islam (1949). Pada tahun 1950-1958, ia mengajar di Universitas Durham Inggris, dan pada tahun 1959-1961 mengajar di Universitas Mc Gill, Kanada. Pada tahun 1961, ia kembali ke tanah airnya, Pakistan.
     Pada tahun 1962, ia ditunjuk pemerintah Pakistan sebagai direktur lembaga riset Islam (Institute of Islamic Research) dan sekaligus sebagai anggota dewan penasehat ideologi Islam (Advisory Council of Islamic Ideology) pemerintah Pakistan (waktu itu presidennya, Ayyub Khan). Ia kemudian melancarkan ide-idenya secara agresif lewat jurnal Islamic Studies. Selain itu ia juga mengirim staf-stafnya untuk belajar ke universitas-universitas barat (sebagian ke timur).
    Tetapi gagasan-gagasannya mendapat protes keras dari para ulama konservatif Pakistan, bahkan menjadi perdebatan yang panjang. Karena itu kemudian ia mengundurkan diri dari kedua lembaga tersebut (1968), dan pada tahun 1970, ia kembali ke Amerika Serikat
    Pada tahun 1971 (di AS), ia mengajar di Universitas Chicago, dan mendapat jabatan sebagai guru besar kajian Islam di Departement of Near Eastern Languages and Civilization University of Chicago. Ia tinggal di Chicago hingga meninggal pada 26 Juli 1988 M.
    Rahman sangat aktif menulis buku-buku keislaman dan menyumbangkan banyak artikel ke berbagai jurnal international. Karyanya mencakup hampir seluruh studi Islam normatif dan historis (sejarah). Sebagaian besar karyanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
    Karena reputasinya sebagai intelektual kaliber dunia, ia sering kali diundang untuk berceramah diberbagai negara. Pada tahun 1985 misalnya, ia sempat berkunjung ke Indonesia untuk mengikuti seminar tentang Kecenderungan Mutakhir Kajian Islam.
    Diantara para intelektual Indonesia yang pernah mendapat bimbingannya, antara lain: Nurcholis Madjid, Syafi’I Ma’arif, Amin Rais, dan lain-lain.
 
Pemikiran
    Rahman adalah seorang pemikir/ bebas, tetapi pemikirannya selalu berpedoman pada Al Qur’an dan Sunnah. Dalam melaksanakan ajaran Islam menghadapi situasi zaman yang terus berubah, ia banyak mendapat inspirasi dari tindakan dan kebijakan Khalifah Umar Bin Khathab yang kreatif dan inovatif.
    Ia adalah seorang pemikir yang sangat Qur’an oriented, oleh karenanya ia berpendapat bahwa setiap pemikiran Islam yang syah harus berangkat dari pemahaman yang benar terhadap Al Qur’an. Untuk mencapai tingkat pemahaman yang benar ini, orang dituntut agar bersikap terbuka, sungguh-sungguh dan jujur. Tanpa kesungguhan dan kejujuran, Al Qur’an tidak akan bersahabat dengan kita. Al Qur’an adalah petunjuk yang benar untuk kepentingan manusia. Disinilah letaknya nilai praktis Al Qur’an. Karena itu diperlukan rekontruksi dalam pemikiran / pemahaman Islam.
     Tentang pemahaman Al Qur’an, ia menolak pemahaman harfiah kaum muslim konservatif atas Al Qur’an dan sikap mempertahankan tradisi. Menurutnya cara ini hanya cocok pada masa wahyu pertama diturunkan. Agar ajaran Islam dapat menjawab tantangan zaman, kaum muslimin harus menangkap semangat etis wahyu Al Qur’an, bukan pernyataan harfiahnya. Semangat etis itu harus dijadikan pedoman umat Islam untuk   menghadapi tantangan zaman sekarang.
     Rahman menyerukan tentang perlunya umat Islam sekarang ini melakukan rekontruksi total terhadap pemahaman Islam. Ia mengajukan setidaknya 2 langkah, yaitu:
Ø Ia menegaskan perlunya dibedakan secara jelas Islam Normatif dan Islam Sejarah. Islam normatif ialah Islam menurut teks, Al Qur’an dan Nabi Muhammad adalah sumber aslinya. Karier dan aktifitas nabi Muhammad adalah aktualisasi dari pesan Al Qur’an.  Kedua sumber ini harus dikaji secara sistematis agar ajaran moralnya dapat ditangkap secara utuh. Adapun Islam sejarah (historis) Ialah Islam yang dipahami dan dipraktekan kaum muslimin sepanjang sejarah. Kaum muslimin selama 14 abad dalam konteks sejarah, di jadikan bahan pertimbangan untuk memahami kedua sumber diatas. Tapi dalam waktu yang bersamaan, kedua sumber itu kita pakai pula terhadap Islam sejarah. Sebagai bahan pertimbangan, Islam Sejarah selalu terbuka untuk dipertanyakan. Jadi perbedaan ini  (dengan membedakan Islam normatif dan Islam sejarah) perlu untuk melihat sejauh mana tradisi yang dikembangkan kaum muslim terdahulu dapat diterima oleh generasi muslim berikutnya. Menurutnya tidak semua tradisi Islam harus diterima. Baginya agar Islam dapat menjadi agama yang sesuai dengan perkembangan zaman, maka pembaharuan atas tradisi Islam perlu dilakukan.
Ø Perlunya rekontruksi ilmu-ilmu Islam. Ini meliputi teologi, filsafat dan ilmu-ilmu sosial. Untuk ilmu sosial, ia memandang sejarah sebagai cabang ilmu sosial terbaik bila dikerjakan dengan baik dan obyektif. Panggilan Al Qur’an untuk mengembara dipermukaan bumi adalah dalam rangka tugas sejarah ini.
        Tentang hubungan Islam dan negara, ia telah memberikan gambaran yang agak jelas tentang corak hal tersebut. Bertolak dari kenyataan karier Rasulullah, ia menyimpulkan bahwa pada akhir hayatnya, beliau adalah nabi penguasa hampir seluruh semenanjung Arabia. Ini adalah fakta sejarah, tetapi tidak disebut negara Islam. Sebutan negara Islam (daulat Al Islam) belum dikenal waktu itu. Dari kenyataan ini agama dan negara bukan saudara kembar atau satu sama lain saling bekerja sama. Negara menurutnya adalah pantulan dari nilai-nilai moral spiritual serta prinsip-prinsip yang disebut Islam. Negara juga bukan perpanjangan dari agama, tetapi adalah sebagai instrumen dari Islam. Inilah yang terjadi dimasa nabi dan beberapa tahun kemudian.
     Tentang tugas pokok masyarakat, menurutnya telah dirumuskan oleh al Qur’an (QS 2:41, 104,110,114). Tegasnya tugas utama mereka (masyarakat) ialah menegakan suatu tata sosio politik dipermukaan buni serta menghilangkan korupsi dan kerusakan (lihat QS 26:152; 27:48; 2:11,193,251). Untuk mengaktualisasikan tugas global inilah masyarakat Islam dituntut untuk melakukan jihad yang diartikan usaha total dan sungguh-sungguh dijalan Allah. Dan tugas membangun bumi hanyalah mungkin bila anggota masyarakat Islam lebih dulu terbentuk secara individu dengan dasar-dasar taqwa. Taqwa adalah sikap atau malah kualitas mental yang memungkinkan seseorang mampu membedakan antara baik dan buruk serta melakukan usaha-usaha yang mencapai nilai itu. Sedangkan untuk memecahkan persoalan-persoalan bersama dalam sosial politik, prinsip syura wajib dihormati dan dilaksanakan. Dan prinsip-prinsip syura dizaman modern ini sangat tergantung pada ijtihad umat Islam dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, apakah itu dinamakan demokrasi atau sebutan lain. Tetapi yang pokok anggota masyarakat (umat) secara keseluruhan wajib ikut serta dalam mengambil keputusan-keputusan yang menyangkut kehidupan bernegara secara bebas dan bertanggung jawab.
     Tanggapannya tentang Islamisasi ilmu pengetahuan yang digagas Alfaruki, ia termasuk orang yang berkeberatan terhadap gagasan dan proyek Islamisasi IIT tersebut, tetapi juga menganjurkan untuk menghentikan proyek ini. Menurutnya, Islamisasi ilmu pengetahuan bukanlah sebuah gagasan inovatif para pemikir muslim, namun merupakan gagasan yang tidak kreatif.
     Ia juga mengkritik para pembaharu (kaum modernis) yang memamfaatkan budaya barat untuk kepentingan Islam. Ia melihat mereka sebagai kelompok yang tercerabut dari akar dan tradisi Islam yang telah berkembang selama berabad-abad. Akar dan tradisi itu diabaikan begitu saja sehingga pembaharuan yang mereka lakukan kehilangan orsinilitasnya.
   
Karya
  • Islamic Methodology in History(Karachi, 1965)
  • Mayor Themes of The Al Qur’an (1980), tentang tema-tema pokok Al Qur’an.
  • Islam and Modernity: Transformation of An Intellectual Tradition (1982)
  • The Philosophy of Mulla Shadra

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda