ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM KONTEMPORER > Intelektual Kontemporer > Ali Syari'ati

 
 
 
 
 
 
 
 

Ali Syari'ati

 

ALI SYARI’ATI (1933-1977 M)
Sosiolog, Ideolog      
     Sosiolog yang menjadi salah seorang ideolog dan arsitek revolusi Islam di Iran, disamping Imam Ayatullah Khomaeni, Ayatullah Muthahari dan Ayatullah Mahmud Taliqani.
     Ia lahir di Mazinan, suatu daerah yang terletak di pinggiran kota Mashad, Iran. Ayahnya Sayyid Muhammad Taqi Syari’ati adalah guru dan mujahid besar pendiri Markaz Nasyr Al Haqa’iq Al Islamiyah (Pusat Penyebaran Kebenaran-kebenaran Islam) Di kota Masyhad ia menyelesaikan sekolah dasar dan menengahnya, kemudian melanjutkan ke akademi pendidikan guru.
     Pada usia 18 tahun, ia memulai kariernya jadi guru dan sekaligus mahasiswa pada fakultas sastra dan humaniora (kuliyat al adab wa ‘ulum al insaniyah) Universitas Masyhad (lulus 1960). Ia mendapat beasiswa ke Universitas Paris, Prancis, hingga meraih gelar doktor dalam ilmu sosiologi pada tahun 1964.
     Keberadaannya di Paris bersamaan pula dengan munculnya kebangkitan keagamaan dan penentangan terhadap rezim Syah yang otoriter di Iran. Sebagian dari tokoh-tokoh gerakan di negerinya banyak yang ditembak mati dan di penjara. Ali Syari’ati adalah orang yang tertarik oleh gerakan ini, sehingga ia melibatkan diri dan  tidak pernah berhenti menulis, menjelaskan dan  menganalisis hakekat gerakan Islam yang dipimpin oleh Ayatullah Khomaeni. Karena itu, ketika pulang ke Iran tahun 1964, ia langsung ditangkap dan dipenjara, dan dibebaskan tahun 1965.
     Setelah bebas, ia mulai mengajar dan kemudiaan menjadi guru besar di di Universitas Mashad. Sebagai seorang sosiolog muslim, Syariati berusaha memecahkan masalah-masalah yang dihadapi kaum muslimin berdasarkan prinsip-prinsip Islam, dan masalah ini menjadi sangat populer dikalangan mahasiswa.
    Disamping mengajar ia juga aktif dalam gerakan pembebasan (Nihdat-I-Izadi), bergabung bersama dengan Ayatullah Taliqani (tokoh ulama), Dr. Mehdi Bazargan (tokoh Intelektual) dan lainya. Karena aktifitas ini, ia kemudian didepak dari universitas.  Sehingga ia mengalihkan aktifitasnya di Pusa Islam Houssein-E-Ershad di Teheran. Disini ia bekerjasama dengan tokoh Ayatullah yang berpengaruh, yaitu Murtadla Muthahari.
     Di pusat kajian Islam ini, ia banyak memberi ceramah, diskusi dan kegiatan ilmiyah lainnya, yang diikuti lebih dari 6000 orang mahasiswa yang terdaftar menjadi anggota dalam kelas-kelas musim panas, dan ribuan pendengar lainnya yang mengagumi pikiran Syari’ati. Ceramah-ceramah Syari’ati di pusat kajian itu direkam dan dibukukan. Ia  banyak berbicara tentang falsafah pembebasan (Martyrdom).
    Karena pusat Kajian Islam ini merupakan pusat pergerakan Islam yang progresif, akhirnya tempat ini dikepung polisi dan ditutup, serta banyak pengikutnya yang ditangkap, termasuk Syari’ati sendiri yang dipenjara 18 bulan lamanya ( bebas pada 20 Maret 1975).
    Meskipun telah dibebaskan, gerakannya tetap diawasi  dan tidak diperbolehkan untuk menulis buku dan menghubungi murid-muridnya. Karena kondisi-kondisi yang sangat menekan,  ia kemudian pergi ke Inggris, tetapi 3 minggu kemudian 19 Juni 1977, ia meninggal di London dengan sebab-sebab masih misterius.
 
Pemikiran
    Syari’ati telah mempelajari dan menceburi berbagai aliran pemikiran filosofis, teologis dan sosial. Ia adalah seorang pemikir yang bangkit dari lubuk terdalam mistisme timur, berhasil mencapai puncak sains sosial barat, tetapi tidak tenggelam pada sains tersebut, dan kemudian kembali kepada bangsanya untuk membawa permata-permata yang diperolehnya. Ia bukan seorang fanatik reaksioner yang tanpa alasan menentang setiap hal yang baru, tetapi ia juga bukan seorang peniru.
    Tentang bidang sosiologi, ia meletakan dasar-dasar sosiologi Islam yang realistis dan multidimensionalk. Ia menempatkan fakta-fakta dan realitas didepan matanya dan menyingkirkan jauh-jauh pemikiran murni dan terpisah dari realitas. Ia termasuk salah seorang diantara sarjana-sarjan sosiologi yang realistis dan aplikatif. Sosiologi baginya adalah pijakan bagi pandangannya terhadap alam yang memberikan sumbangan baiknya terhadap masyarakat. Ia melihat bahwa ditengah-tengah masyarakat terdapat pertarungan yang berlangsung terus menerus antara tauhid kemasyarakatan (al tauhid al Ijtima’I) dengan syirik kemasyarakatan (al syirk al ijtima’I) dalam sepanjang sejarah. Tentang manusia modern, ia yakin sepenuhnya bahwa manusia modern manakala tidak memiliki ketauhidan hanya akan menjadi makhluk yang tidak mengenal dirinya sendiri.
    Tentang bentuk keislaman, menurut perspektifnya semua bentuk keislaman yang bercorak kemazhaban dan lokal, tidak mempunyai nilai yang berarti. Tetapi yang memiliki nilai penting adalah Islam yang sadar dari bangkit. Sebab dalam bentuknya yang tersebut kemudian itulah yang bisa diterima oleh orang-orang yang sadar dan kaum terpelajar ketimbang kalangan muslim tradisional.
    Tentang intelektual, ia sangat mencela pelacuran intelektual hanya guna mendapatkan jabatan dan kedudukan. Ia mengecam dengan keras orang yang memandang dirinya sebagai pemikir (kaum intelektual), tetapi tidak berpartisipasi menghadapi dekadensi, terkungkung oleh kebingungan dan menahan diri dari melakukan sesuatu karena takut menghadapi penindasan. Kaum intelektual (pemikir) yang semacam ini oleh Syari’ati disebut kaum intelektual / pemikir yang terasing dari masyarakatnya. Pemikir yang gagal mendaratkan idenya pada infrastruktur masyarakatnya. Menurutnya tak beda dengan buku yang bagus, tapi tersimpan rapi di perpustakaan. Pemikir semacam ini tak akan membawa dampak apapun bagi masyarakatnya. Akibatnya kaum intelektual akan terasing, ini merupakan bahaya besar. Jika masyarakat tetap menderita akibat isolasi kaum intelektualnya, maka masyarakat tersebut tidak akan pernah dapat mengakhiri keadaannya yang dekaden terus menerus, walaupun mereka memiliki pemikir-pemikir raksasa yang diakui dunia.
    Tentang peranan pemuda dalam Islam, Syari’ati sangat menyadari kondisi-kondisi dan kekuatan pada zamannya, maka perjuangannya untuk menghidupkan kembali Islam dimulainya dengan membuka pikiran rakyat, terutama sekali kaum pemuda. Ia berkeyakinan jika anggota-anggota masyarakat memiliki keyakinan yang benar, niscaya mereka akan mengabdikan dirinya dan mujahid-mujahid yang aktif serta rela mengorbankan segala sesuatu, termasuk nyawa mereka sendiri demi ideal-ideal mereka.
    Syariati terus menerus berusaha untuk menciptakan nilai-nilai humanitarian didalam generasi yang nilai-nilainya telah menjadi kotor karena metode ilmiyah dan teknis. Dengan penuh semangat ia berusaha untuk memperkenalkan kembali Al Qur’an dan sejarah Islam kepada pemuda agar mereka dapat menemukan diri mereka yang sesungguhnya di dalam keseluruhan dimensi-dimensi kemanusiaan yang menerangi kekuatan-kekuatan sosial yang telah mengalami dekadensi.
     Kata Syari’ati, ketika pemuda memiliki akidah (keyakinan) dan kemauan yang kuat di masa muda mereka, pasti akan mempunyai keterlibatan dalam bentuknya yang sempurna. Dan melalui mereka kita akan dapat menciptakan kekuatan yang efektif dalam usaha kita merealisasikan ajaran Islam.
 
Karya
·         Marxism and Other Western Fallacies, buku ini telah diterjemahkan dengan judul Kritik Islam atas Marxisme dan sesat pikir barat lainnya (penyunting Hamid Algar, Mizan Press)
·         Hajj, (buku ini telah diterjemahkan dengan judul Haji, Pustaka Bandung)
·         Shia, Majmu’a Yi Asar (kumpulan karangan)
·         Al Husain warisu Adam, didalam buku ini salah satunya menjelaskan bahwa islam bukanlah ideologi kemanusian yang terbatas hanya pada masa-masa dan tempat-tempat tertentu saja, tetapi ia merupakan gelombang yang terus mengalir disepanjang sejarah manusia yang muncul dari air yang sangat jauh. Sebelum ia bermuara dilaut, terlebih dahulu ia harus melalui bukit-bukit karang yang menghadang jalanya. Aliran ini selamanya tak mungkin dibendung. Pada masa-masa tertentu muncul para nabi dan para wali yang menggerakan ini. Peperangan yang telah disaksikan oleh sejarah adalah peperangan hak melawan batil, iman melawan syirik, kaum dhu’afa melawan kaum mutrafin, yang tertindas melawan yang menindas.
·         Al Tasyayyu’ Al ‘Alawi wa al tasyayyu’ al Shafawi
·         Abu Dzar Al Ghifari
·         Salman Al Farisi
·         Al Syahadah (kesyahidan)
·         Mas’uliyat Al Tasyayyu
·         Al ‘Ilm Wa Al Madaris Al jaddiyah (Ilmu Pengetahuan dan isme-isme modern)
·         Al hadharah Wa Al Tajdid (Peradaban dan Modernisasi)
·         Al Insan Al Gharib ‘an Nafsih (Manusia yang tidak mengenal dirinya sendiri), buku ini telah diterjemahkan dengan judul Humanisme antara Islam dan Mazhab Barat, Pustaka Hidayah, bandung, 1991.
·         Ilm Al Ijtima’ Hawl Al syirk (Sosiologi Kemusyrikan)
·         Al Mutsaqqaf Wa Mas’uliyyatuh Fi Al Mujtama (Tanggung Jawab Cendikiawan dan Masyarakat)
·         Al wujuddiyah Wa Al Firagh Al Fikri (Eksistesnsialisme dan Kekosongan Pemikiran)
·         Al ‘Ummah Wa Al Imamah , buku ini telah diterjemahkan dengan judul Umah dan Imamah : Suatu Pendekatan Sosiologis, Pustaka Hidayah, jakarta.
·         Kuwair
·         Al Adalah (keadilan)
·         At Taqwa (ketakwaan)
·         Marxism and Other Western Fallacies, yang merupakan kritik Syari’ati (sebagai muslim) terhadap filsafat Marxisme dan budaya barat lainnya. Buku ini memperlihatkan penguasaan Syari’ati terhadap filsafat Humanisme Liberal maupun Humanisme Marxis.
·         Al Madzhab Al wasith, dalam filsafat sejarah, yang ia buat pada masa remaja.
 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda