ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM KONTEMPORER > Intelektual Kontemporer > Abul Hasan Bani Sadr

 
 
 
 
 
 
 
 

Abul Hasan Bani Sadr

 
 
ABUL  HASAN BANI SADR (1933-    m)
 
  Presiden pertama Republik Islam Iran, yang mula-mula menempuh pendidikan modern dan kemudian mengambil spesialisasi dibidang ekonomi Islam yang sangat revolusioner.
    Ia merupakan putra termuda Ayatullah Sayyed Nasrullah BaniSadr. Ia mendapat pendidikan teologi dan ekonomi di Universitas Teheran, kemudian melanjutkan ke Institut Penelitian Sosial.
    Ketika masih mahasiswa, ia giat dalam perkumpulan mahasiswa antisyah. Pada tahun 1960-an ia masuk penjara 2 kali karena kegiatan politiknya dan pernah mendapat luka dalam pemberontakan mahasiswa tahun 1963. Karena gerakan ini tidak berhasil, sehingga ia mengungsi ke Prancis. Disini ia melanjutkan studi dan kemudian mengajar di Sarbone University.
    Tahun 1970-an ia banyak menulis dan kemudian bergabung ndengan Imam Khomaeni pulang bersama-sama ke Iran (1979) dan termasuk dalam anggota dewan revolusi. 
    Dalam kabinet Mehdi Bazargan ia menjadi deputy mentri ekonomi dan keuangan dan selanjutnya menjadi mentri penuh, tetapi ia kemudian mengkritik kabinet inbi yang terlalu moderat dan tetap setia pada struktur kekuasaan birokrasi zaman Syah yang meniru Eropa. Ia juga menentang front nasional yang dipimpin oleh Karim Sanjabi yang mewakili kelas borjuis dan juga menentang keinginan bekas sekjen dewan revolusi Iran, Ayatullah Bahesti.
     Pada tahun 1980, ia memenangkan secara mutlak dalam pemilihan presiden yang pertama setelah revolusi. Meskipun terpilih, tetapi kekuasaannya sangat terbatas, dan program-programnya mendapat tantangan dari lawan-lawan politiknya, sehingga praktis tidak ada satupun yang dapat dijalankannya. Dan akibat konfliknya dengan perlemen, yang menuduhnya tidak bisa memimpin pemerintahan, dan juga dituduh telah membuka rahasia militer, sehingga ia akhirnya diberhentikan oleh majelis (1981) dan sejak itu ia pun menjadi buronan, dan mengungsi ke Prancis.
 
Pemikiran
     Sadr merupakan seorang tokoh intelektual (disamping Ali Syari’ati) dari kaum revolusioner Islam Iran, yang telah membuat konsep revolusi Islam yang konsisten, dengan cara menafsirkan ulang ajaran-ajaran Al qur’an, Sunnah Nabi, dan pendapat-pendapat Ali Bin Abi Thalib. Mereka berdua (bersama Ali Syari’ati) mengelaborasi weltanschaung Islam Syi’ah, tetapi tidk menampilkan sectarian golongannya. Keberpihakan mereka terhadap seluruh umat Islam sangat jelas dilihat dari sudut pandang Islam Syi’ah yang ortodoks.
    Ia mengkaji masalah ekonomi dalam kajian teologi (bukan pendekatan sebagai seorang ilmuwan sosial). Bani Sadr dalam pandangan Islamnya yang revolusioner merasa bahwa didalam Islam hak milik tidak bersifat absolut. Ia membedakan antara kepemilikan   yang diperoleh dengan modal kekuatan (malkiyat-I-zor) dan yang diperoleh dengan bekerja (malkiyat-I-khususi).
     Ia menjelaskan bahwa Islam tidak memperbolehkan kepemilikan yang didasarkan kekuatan, tetapi mengijinkan dalam kondisi tertentu, kepemilikan yang didasarkan pada hasil kerja. Ia berpendapat bahwa kepemilikan dalam masyarakat kapitalis (jami’ sarmaydari) didasarkan pada kekuatan (based on force), oleh karenanya tidak islami. Didalam msyrakat kapitalis seperti itu tidak ada namanya malkiyat-I-khususi, tetapi sebaliknya, setiap orang memiliki barang yang diperoleh dari kekuatan yang ada pada dirinya. Jika orang kehilangan kekuatannya, dia akan kehilangan kekayaannya.
     Bani sadr menjelaskan dengan gamblang bahwa tujuan nyata dari masyarakat Islam adalah membebaskan manusia (azad solehtani insan) dan ini hanya dapat dilakukan didalam suatu masyarakat dimana kekayaan bukan diperoleh dengan zor (kekuatan) tetapi dengan kar (buruh, hasil kerja).
     Menurutnya, berdasarkan visi Islam bahwa didalam masyarakat yang terbebas dari hubungan kekayaan (property relationship) karena faktor kekuatan dan mendasarkan kepemilikan pada buruh dan hasil kerja, akan diperoleh taqwa , dan manusia akan berusaha membangun sebuah masyarakat dengan tujuan suci. Tujuan yang suci itu tentu saja telah diajarkan oleh Nabi dan terdapat di dalam Al Qur’an.
    Bani Sadr meskipun gagal melakukan kritik secara sistematis terhadap kapitalisme dari sudut pandang Islam, tetapi penafsirannya yang baru atas Islam harus dipertimbangkan.
 
Karya
·         Iqtisa-I-Tauhidi. Buku ini telah dipublikasikan oleh penerbit bawah tanah pada saat pemberontakan melawan Syah sedang berlangsung di Iran.
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda