ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM KONTEMPORER > Intelektual Kontemporer > Abul A'la al Maududi

 
 
 
 
 
 
 
 

Abul A'la al Maududi

 

ABUL A’LA AL MAUDUDI (1321-      H / 1903- 1979 M)
Tokoh Harokah Kontemporer
   
    Seorang pemikir Islam pakistan / India terkemuka, pembaharu kontemporer, dan pendiri organisasi kader di Pakistan, Jami’at El Islami. Ia terkenal dengan konsistensi pemikirannya yang melihat Islam sebagai suatu sistem komprehensip. Ia dipandang sebagai pemikir radikal di zamannya tetapi tetap berdiri diatas landasan logika, seorang pemikir ulung yang sulit dicari bandingannya di Pakistan pada zamannya.
     Ia lahir 3 Rajab 1321 H/ 25 Setember 1903 M, di Aurangabad (sekarang bernama Andra Pradesh) India, ketika tanah airnya (India) dijajah oleh Inggris. Ia dibesarkan dalam lingkungan yang agamis, keluarganya terkenal dengan sebutan Maududiyah, dinasabkan kepada Syekh Qutbuddin Muadud Al Jitsyi, pendiri tarekat Al Jitsyiyyah, di India pada pertengahan abad 6 H. Ayahnya seorang ahli hukum yang taat agama. Ia adalah anak termuda dari 3 bersaudara.
     Sekolah dasarnya di madrasah modern Fauqaniyah, kemudian ia belajar di perguruan Darul ‘Ulum Hyderabad. Namun pendidikannya terhenti karena ayahnya meninggal. Tetapi hal ini tidak melemahkan semangatnya mencari ilmu, ia belajar secara otodidak (belajar mandiri), sehingga pada tahun 1920-an ia telah menguasai bahasa Arab, Persia, Inggris dan Urdu.
     Ia seorang yang jenius. Ketika umur 11 tahun ia duduk di kelas 8, dan diumur semuda itu ia telah membuat makalah yang tajam dan berbobot sehingga para guru kagum dan memuji hasil karangannya. Sejak muda ia telah mempunyai kecenderungan kuat dibidang jurnalistik dan pernah menjadi editor di beberapa media masa. Pada usia 15 tahun telah menjadi redaksi sebuah surat kabar di Bajanur, tetapi koran tersebut dibredel karena isinya mengkritik pemerintah penjajah Inggris. Pada usia 17 tahun menjadi pimpinan harian Al Taj di Jabalpur (harian ini dibreidel juga, dan ia diajukan ke pengadilan), sebuah majalah yang membahas isue politik yang berkembang di negerinya dan mendakwahkan pemikiran Ihya Khilafah. Kemudian menjadi pimpinan Al Jami’ah, salah satu harian Islam yang paling berpengaruh dan populer di New Delhi tahun 1920-an.
      Minatnya pada bidang politik tumbuh pesat sejalan dengan permasalahan yang berkembang disekitarnya, karena itu dia sering menyerang pemerintah (inggris) dengan tulisan-tulisannya. Pada usia 16 tahunan dan bergabung dengan Harokah Ihya Ul Khilafah (gerakan menghidupkan Khilafah) sebagai antisipasi terhadap perilaku Inggris yang menggerogoti negeri Islam. 
     Pada usia yang masih muda ia pergi ke Delhi untuk bergabung dengan organisasi ulama se-India. Di organisasi ini ia bekerja di bagian penerbitan, dan lahirlah koran Al Muslimun, tetapi kemudian koran ini dilarang terbit. Pada tahun 1923 ia menerbitkan majalah bulanan independen yang namanya Turjumul Qur’an, yang berperan sebagai basis pergerakan di India.
     Karena melihat kegigihan Al Maududi, Muhammad Iqbal ( seorang penyair terkenal) meminta agar Al Maududi pindah ke Punjab untuk bekerja sama dalam suatu riset dan juga untuk mengkodifikasikan hukum Islam. Pada tahun 1940 Al Maududi pindah ke distrik Pathankot di Punjab, merekapun bekerja sama membentuk pusat riset Dar Al Islam. Lembaga ini bermaksud mendidik sarjana-sarjana muslim agar mereka terjun langsung membela islam dalam segala aspek. Kerjasamanya tidak diteruskan karena Muhammad Iqbal meninggal.
     Terdorong oleh pemikiran untuk menyelamatkan umat Islam, maka tahun 1941 Al Maududi mendirikan Jama’ah Al Islamiyah (Jemi’at el Islami), di Lahore. Misi utama jama’ah ini reformasi total terhadap seluruh aspek kehidupan kaum muslimin, berdasar islam yang bersih dan menjadikan syari’at islam sebagai undang-undang negara. Jama’ah ini sangat disegani, karena pemimpin dan anggotanya penuh integritas dan dedikasi terhadap islam.
     Seiring dengan berdirinya negara Pakistan, ia juga pindah ke Pakistan. Dalam perjuangan selanjutnya, ia sering mengambil posisi berhadapan dengan pemerintah yang berkuasa di pakistan. Pada tahun 1948 ia dijebloskan ke dalam penjara, dan 2 tahun kemudian ia dibebaskan. Sepulang dari penjara ia makin gigih menyingkap aliran yang dianggapnya sesat. Bukunya yang berjudul Qodiani problem (Problem aliran qadiani) yang mengungkapkan kepalsuan Mirza Ghulam Ahmad dan beberapa persoln politis lainnya, mengakibatkan ia dipenjarakan dan pada tahun 1953 ia di jatuhi hukuman mati, tetapi kemudian diubah menjadi hukuman seumur hidup.
    Pada tahun 1958, ayub Khan menduduki kursi pemerintahan di pakistan. Ia membubarkan seluruh partai, termasuk Jama’ah Al Islamiyah. Pada tahun 1964 rezim Ayub Khan mengadakan penangkapan terhadap tokoh-tokoh Jama’ah Al Islamiyah (Jema’at el Islami). Tetapi atas desakan masyarakat Ayub mengurungkan niatnya.
     Al Maududi meninggal dunia karena menderita penyakit jantung dan liver. Sebelumnya ia menjadi anggota Foundation Comitte Liga Muslim Sedunia, anggota Law Academy dan anggota Governing Body, Islamic University Madinah.
     Karya tulisnya sangat banyak (sekitar 200 buku) dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. Dalam karya-karyanya tersebut, ia sering memberikan analisis tajam dan seringkali sngat kontroversial.    Karya-karya Al Maududi kebanyakan berkisar masalah yang menyangkut moral, politik, wanita, kemanusiaan dan hukum.
 
Pemikiran
    Al Maududi oleh pengamat barat sering ditempatkan sebagai tokoh fundamentalis yang paling berpengaruh (disamping Sayyid Qutb dari Mesir). Ia mendirikan suatu organisasi kader yang terkenal, yaitu Jami’at el Islami. Tujuan pokok gerakan Islam (Islamic movement) ini saat ia menjadi pimpinannya adalah mereformasi atau menyingkirkan pra pemimpin yang korup dari umat muslim dan membimbing umat Islam kembali kepada Tuhan. Tujuan ganda ini tidak mungkin dicapai tanpa melaksanakan jihad merebut kepemimpinan politik dari orang-orang korup dan tidak beriman yang tengah berkuasa. Islam menuntut para pengikutnya untuk hanya patuh kepada Tuhan dan menghindarkan diri dari semua bentuk materialisme atau politiesme. Dengan demikian Islam menurutnya; membersihkan jiwa dri sikap memikirkan diri sendiri, egoisme, tiran dan kecerobohan. Islam menghadirkan rasa tanggung jawab moral dan meningkatkan kemampuan mengendalikan diri.
     Sebagai eksponen fundamentalis, ia juga mengkritik tajam peradabn barat yang menurutnya dijangkiti oleh 3 kejahatan, yaitu sekulerisme, nasionalisme, dan demokrasi. Kejahatan sekulerisme menurutnya karena paham itu mengenyahkan agama dari semua derap kehidupan dan seperti yang diajarkan oleh agama kristen, mereduksi agama semata-mata sebagai hubungan pribadi dan personel dengan Tuhan. Nasionalisme yang semula  lahir sebagai pemberontakan   menentang feodlisme telah berkembng di era modern menjadi kultus Tuhan. Demokrasi yang semula untuk membebaskan masyarakat dari tekanan penguasa feodal, kini telah merosot derajatnya menjadi mayoritas dan tidak sejalan dengan kehendak masyarakat pada umumnya. Dengan cara ini demokrasi mampu memuliakan pendapat dan keinginan mayoritas sekalipun mereka terbukti jahat atau zhalim.
    Semua ideologi ini menurutnya bertentangan dengan prinsip Islam yang paling fundamental, yakni pemujaan ekslusif atau ketertundukan hany kepada Tuhan semata. Maka dari itu siapapun diantara umat muslim yang berkeinginan mendukung nasionalisme, demokrasi dan sekulerisme barat, pada hakekatnya mengabaikan agamanya sendiri, menghianati nabinya, dn melakukan pemberontakan terhadap tuhannya sendiri.
 
Karya
  • Al Jihad Fil Islam (Jihad dalam Islam), suatu buku yang cermat dan tjam dalam menganalisis hukum Islam, perang dan damai. Buku ini merupakan buku pertamanya yang ia tulis, pada usia 20 tahun. Dalam buku ini ia menentang kebohongan Gandhi yang mendeskreditkan islam dan menyebarkan banyak subhat. Ia dengan gigih menghadapi arus pemikiran masyarakat yang telah keracunan cara berpikir dan bertindak seperti orang barat.
  • Islamic Law And Contitution (konstitusi dan Undang-undang Islami)
  • Purdah And The Status Of Woman In Islam
  • Mujaz Tarikh Al Diin Waihya’ih
  • Nahnu Wa Al Hadharah Al Gharbiyyah, dalam buku ini salah satunya dikatakan bahwa hukum barat telah banyak mempengaruhi umat Islam. Menurutnya umat Islam berada pada posisi terjajah disemua negeri mereka, oleh karenanya ia memperingatkan betapa besar bahaya dan bencana yang ditimbulkan oleh perkembangan kebudayaan non Islam ditengah umat Islam.
  • Nizhamul Hayah Fil Islam
  • Nazariyat al Islam al Siyasah (sistem politik Islam)
  • Al Khilafat wa al Mulk (Kekhalifahan dan kerajaan)
  •  Tafhim al Qur’an (Pemahaman Al Qur’an), yang merupakan karya terbesarnya dan memerlukan 30 tahun untuk menyelesaikannya. Buku ini ditulis dalam bahasa Urdu dan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia termasuk Indonesia.
  • Birth Control
  • Ethical View Point of Islam
  • The Meaning of Qur’an (1974), 4 jilid
  • Toward Understanding Islam (Menuju kepada Pemahaman Islam)
  • Islam: Way of Live (Islam: Jalan Hidup)
 

 

 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda