ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM KONTEMPORER > Ahli Hadits Kontemporer >  Musthafa al Azami

 
 
 
 
 
 
 
 

 Musthafa al Azami

MUSTAFA AL A’ZAMI, (1931-       M)
 
       Salah seorang cendekiawan terkemuka di bidang ilmu Hadith asal India, dan merupakan  guru besar ilmu hadis Universitas King Saud, Riyadh, Arab Saudi. Spesialis penakluk tesis kaum orientalis, suatu predikat yang diberikan padanya..
    Nama: Muhammad Mustafa al-A'zami,  Prof. Dr. Lahir di Mau, India pada awal tahun tiga puluhan. Pendidikan pertama di Dar al-`Ulum Deoband, India (1952), Universitas al-Azhar, Kairo, (M.A., 1955), Universitas Cambridge (Ph.D., 1966). Guru Besar Emeritus (pensiun) pada Universitas King Sa'ud (Riyad) dan beliau pernah menjabat sebagai kepala jurusan Studi Keislaman, dan memiliki kewarganegaraan Saudi Arabia.
     Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Perpustakaan Nasional, Qatar; Associate Profesor pada Universitas Umm al-Qura (Mekah); Sebagai Cendekiawan tamu pada Universitas Michigan (Ann Arbor); Fellow Kunjungan pada St. Cross College (Universitas Oxford) ; Professor Tamu Yayasan Raja Faisal di bidang Studi Islam pada Universitas Princeton, Cendekiawan Tamu pada Universitas Colorado (Boulder). Beliau juga sebagai Professor kehormatan pada Universitas Wales (Lampeter). Dan pada tahun 1980  menerima Hadiah Internasional Raja Faisal untuk studi keislaman.
   Pemikiran Muhammad Mustafa al Azami di Indonesia dipopulerkan oleh muridnya asal Indonesia, Prof. Ali Mustafa Yaqub. Menurut Ali Mustafa yang membandingkan jasa A'zami dengan Imam Syafi'i (w. 204 H). Syafi'i pernah dijuluki "pembela sunah" oleh penduduk Mekkah karena berhasil mematahkan argumen pengingkar sunah/ hadits. Menurutnya Prof. A'zami pantas dijuluki 'pembela eksistensi hadis' karena berhasil meruntuhkan argumentasi orientalis yang menolak hadis berasal dari Nabi."
 
Peran & Pemikiran
   Sumbangan penting A'zami terutama dalam ilmu hadis. Disertasinya di Universitas Cambridge, Inggris, ''Studies in Early Hadith Literature'' (1966), secara akademik mampu meruntuhkan pengaruh kuat dua orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher (1850-1921) dan Joseph Schacht (1902-1969), tentang hadis.
     Riset Goldziher (1890) berkesimpulan bahwa kebenaran hadis sebagai ucapan Nabi Muhammad SAW tidak terbukti secara ilmiah. Hadis hanyalah buatan umat Islam abad kedua Hijriah. Pikiran pengkaji Islam asal Hongaria itu jadi pijakan banyak orientalis lain, termasuk Snouck Hurgronje (1857-1936), penasihat kolonial Belanda.
     Tahun 1960, tesis Goldziher diperkuat Joseph Schacht, profesor asal Jerman, dengan teori "proyeksi ke belakang". Hadis, kata Schacht, dibentuk para hakim abad kedua Hijriah untuk mencari dasar legitimasi produk hukum mereka. Lalu disusunlah rantai periwayatnya ke belakang hingga masa Nabi.
     Begitu kuatnya pengaruh Goldziher-Schacht, sejumlah pemikir muslim juga menyerap tesisnya, seluruh atau sebagian. Seperti A.A.A. Fyzee, hakim muslim di Bombay, India, dan Fazlur Rahman, pemikir neomodernis asal Pakistan. Definisi hadis ala Goldziher-Schacht berbeda dengan keyakinan umum umat Islam. Bahwa hadis adalah ucapan, perbuatan, dan ketetapan Nabi yang telah diuji akurasinya oleh para ulama hadis seperti Bukhari dan Muslim.
     Tetapi belum ada sanggahan telak atas pikiran Goldziher-Schacht dengan standar ilmiah, selain disertasi A'zami. Temuan naskah kuno hadis abad pertama Hijriah dan analisis disertasi itu secara argumentatif menunjukkan bahwa hadis betul-betul otentik dari Nabi. A'zami secara khusus juga menulis kritik tuntas atas karya monumental Joseph Schacht, judulnya On Schacht's Origins of Muhammadan Jurisprudence.
      Setelah lama mapan dalam studi hadis, belakangan A'zami merambah bidang studi lain: Al-Quran. Namun inti kajiannya sama: menyangkal studi orientalis yang menyangsikan otentisitas Al-Quran sebagai kitab suci. Ia menulis buku The History of The Qur'anic Text (2003), yang juga berisi perbandingan dengan sejarah Perjanjian Lama dan Baru. Ini merupakan karya pertamanya tentang Al-Quran,
 
Karya
·         Studies in Early Hadith Literature, Hadith Methodology dan Literaturnya
·          On Schacht's Origin of Muhammadan Jurisprudence,
·          Dirasat fi al-Hadith an-Nabawi,
·         Kuttab an­Nabi, Manhaj an-Naqd `ind al-`Ilal Muhaddithin,
·         Al-Muhaddithin min al­Yamamah.
·         Al `Ilah of lbn al-Madini (edit)
·         Kitab at-Tamyiz of Imam Muslim (edit)
·         Maghazi Rasulullah of `Urwah bin Zubayr (edit)
·         Muwatta Imam Malik, (edit)
·         Sahih ibn Khuzaimah, (edit)
·         Sunan ibn Majah. (edit)
·         The Qur'anic Challenge: A Promise Fulfilled (Tantangan AI-Qur'an: Suatu Janji yang Telah Terpenuhi),
·          The Isnad System : Its Origins and Authenticity (Sistem Isnad: Keaslian dan Kesahihan­nya).

 

 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda