ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Ulama > Rangkayo Rahmah el Yunusiyah

 
 
 
 
 
 
 
 

Rangkayo Rahmah el Yunusiyah

 
RANGKAYO RAHMAH EL YUNUSIYAH (1900-1969 M)
Syaikhah pertama
 
      Pelopor pendidikan wanita di Minangkabau (sumatra Barat) dan juga dikenal sebagai syaikhah (syaikh wanita) pertama di dunia.
    Ia lahir pada 26 Oktober 1900, dan meninggal pada 26 February 1969 M. Ia putri bungsu dari Syaikh Muhammad Yunus, seorang ulama yang pernah menjadi kadi di Pantai Sikat, Padang Panjang.   Sedang     kakeknya,        Syaikh Imaduddin, seorang ulama terkenal di Minangkabau. 
     Pada mulanya ia sekolah di Diniyah School yang didirikan kakaknya, Zainuddin Labay El Yunusi. Karena tidak puas, setelah 3 tahun ia memutuskan berhenti sekolah dan mulai belajar kepada beberapa ulama terkemuka di Padang Panjang, antara lain : Syaikh Abdul Karim Amrullah (ayah hamka), Tuanku Mudo Abdul Hamid Hakim, Syaikh M. Jamil Jambek, Syaikh Abdul Latif Rasyidi dan Syaikh Daud Rasyidi.
     Rahmah sebenarnya sangat kagum terhadap diniyah yang didirikan kakaknya. Yang membuat ia tidak puas adalah perlakun sekolah itu terhadap murid wanita, yang masih dianggap berbeda dengan laki-laki. Oleh karena itu, ia kemudian mendirikan sekolah khusus untuk wanita yang diberi nama Al Madrasatul Diniyah lil Banat pada tahun 1923 (ketika ia berumur 23 tahun).
     Pada mulanya banyak cemooh yang dialamatkan kepadanya, karena pada masa itu, wanita ibarat makhluk yang harus dipingit, wanita tak boleh terlalu banyak bersentuhan dengan dunia luar. Tetapi adat (minangkabau) yang ketat itu diterjangnya. Ejekan dan cemoohan, justru semakin memantapkan tekad untuk memajukan kaum perempuan.
     Untuk menjaga independensi dan harga diri, Rahmah menolak bantuan dari pemerintah, dan ia juga menolak bantuan kaum pria ketika sekolahnya hancur akibat gempa bumi tahun 1926 M. Ia ingin membuktikan bahwa wanita mempunyai kemampuan berbuat sesuatu seperti kaumnya.
     Karena murid-muridnya sangat banyak dan berdatangan dari berbagai daerah (Yogyakarta, Ternate, Sulawesi, dan lain-lain.), ia kemudian membuka 3 cabang di Jakarta (1935) dan 2 tahun kemudian ia membuka sekolah guru khusus wanita.
     Kemajuan yang dicapai diniyah putri mengundang banyak pemerhati datang ke perguruan wanita tersebut. Tahun 1955, Syekh Al Azhar (Rektor Al Azhar) dari Mesir waktu itu, Syekh Abdurrahman Taj, mengadakan kunjungan ke perguruan wanita tersebut. Ia sangat kagum melihat upaya besar Rahmah dan mengakui bahwa Al Azhar yang berusia 1000 tahun masih ketinggalan. Di Mesir waktu itu belum ada lembaga pendidikan khusus untuk wanita dan juga negeri Arab lainnya.
    Pada tahun 1957, Rahmah di undang ke Al Azhar dan mendapat gelar kehormatan tertinggi, yaitu Syaikhah, untuk pertama kalinya seorang wanita diberi gelar seperti itu. Mencontoh Diniyah School Putri, Al Azhar kemudian mendirikan fakultas khusus wanita.

 

 

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda