ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Ulama > Muhammad Arsyad al banjari

 
 
 
 
 
 
 
 

Muhammad Arsyad al banjari

 
MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARY (1122-1227 H /1710-1812 M)
 
     Seorang ulama besar yang berperanan penting dalam perkembangan Islam di Kalimantan.Nama Sheikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari tak hanya dikenal oleh masyarkaat Nusantara, tapi juga kaum muslimin di Filipina, Turki, Arab Saudi, Mesir, dan India.
      Ada dua orang ulama besar dunia Melayu yang berasal dari Banjar (Kalimantan Selatan) sahabat Sheikh Abdus Samad al-Falimbani. Kedua-duanya yang menghasilkan karangan, ialah Sheikh Muhammad Arsyad bin Abdullah al-Banjari dan Sheikh Muhammad Nafis bin Idris al-Banjari.
       Ia lahir di Lok Gabang, Martapura, dan meninggal di Klampayan, astambul, Banjar. Pada usia 7 tahun ia telah fasih membaca Al Qur’an. Pada usia 30 tahun ia menuntut ilmu ke Mekah atas biaya Sultan Tahlilullah (1112-1158 H / 1700-1745 M) dari kesultanan banjar. Di Mekah ia berguru kepada Syekh Ataillah bin Ahmad (w. 1161 H / 1748 M), dan atas ijin gurunya, ia memberi fatwa di Masjidil Haram. Setelah 30 tahun belajar di Mekah, ia kemudian, ia belajar di Madinah (5 tahun). Guru-gurunya antara lain: Muhammad bin Sulaiman al Kurdi, Syaikh Muhammad bin abdul karim as samani al Madani, Ad Damanhuri dan Ibrahim ar Rais az zamzami. Dari Ibrahim Az Zamzami inilah ia belajar ilmu falak sehingga menjadikan yang paling menonjol dalam bidang ini. Di tanah suci ini ia bertemu dengan rekan-rekannya yang sama-sama belajar, yaitu: Syaikh Abdus shomad al palembangi, Abdul wahab Bugis, dan Abdurrahman al Masri.
        Pada tahun 1186 H / 1773 M, ia kembali ke martapura (ibukota kesultanan Banjar) dan sebelumnya singgah dulu di Jakarta. Di jakarta ini ia melakukan pembetulan arah kiblat di beberapa mesjid (Mesjid Jembatan 5, Masjid Luar Batang, dan Mesjid Pekojan), yang mendapat reaksi penentangan dari kaum tradisi. Ia juga melakukan pembaharuan administrasi peradilan di kesultanan Banjar.
        Al-Banjari berhasil menulis berpuluh-puluh karya. Salah satu yang termasyhur adalah kitab Sabilal Muhtadin, yang kerap menjadi referensi para penulis buku fikih.
     Pada 6 Syawal 1227 (3 Oktober 1812), Al-Banjari wafat. Untuk mengenang karya dan jasanya, masyarakat Banjarmasin mendirikan Masjid Raya Sabilal Muhtadin.
 
Karya
     Karya Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari yang terawal ialah Tuhfat al-Raghibin, diselesaikan tahun 1188 H/1774 M, disusul dengan Luqthatul 'Ajlan, diselesaikan tahun 1192 H/1778 M, disusul dengan Sabil al-Muhtadin, diselesaikan tahun 1195 H/1780 M, disusuli Risalat Qaul al-Mukhtashar diselesaikan tahun 1196 H/1781 M.
      Keseluruhan karya Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari yang telah diketahui 17 judul. Keempat-empat judul yang tersebut semuanya telah dijumpai manuskrip salinannya.  Yang paling terkenal di antara karya Sheikh Muhammad Arsyad al-Banjari ialah Sabil al-Muhtadin. Kitab ini juga ditashih dan kemudian diperjuangkan penerbitannya oleh Sheikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani.
 
Sabil Al-Muhtadin
     Alasan utama penulisan kitab ini oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, karena adanya kesulitan umat Islam Banjar dalam memahami kitab-kitab fikih yang ditulis dalam bahasa Arab.
      Buku-buku yang membahas masalah fikih (ibadah shalat, zakat, puasa, dan haji) di Indonesia cukup banyak. Jumlahnya bisa mencapai ribuan, baik yang ditulis ulama asal Timur Tengah, ulama Nusantara, maupun para ilmuwan kontemporer yang memiliki spesifikasi tentang keilmuan dalam bidang fikih atau hukum Islam.
      Dari berbagai buku-buku fikih yang ada, salah satunya adalah kitab Sabil al-Muhtadin li al-Tafaqquh fi Amr Al-Din (Jalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk agar menjadi faqih (alim) dalam urusan agama.
     Kitab ini ditulis dalam bahasa Arab-Melayu dan merupakan salah satu karya utama dalam bidang fikih bagi masyarakat Melayu. Kitab ini ditulis setelah Syekh Muhammad Arsyad mempelajari berbagai kitab-kitab fikih yang ditulis para ulama terdahulu, seperti kitab Nihayah al-Muhtaj yang ditulis oleh Syekh al-Jamal al-Ramly, kitab Syarh Minhaj oleh Syekh al-Islam Zakaria al-Anshary, kitab Mughni oleh Syekh Khatib Syarbini, kitab Tuhfah al-Muhtaj karya Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, kitab Mir’atu al-Thullab oleh Syekh Abdurrauf al-Sinkili, dan kitab Shirat al-Mustaqim karya Nurruddin al-Raniri.
       Selain itu, ada alasan utama yang dilakukan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari saat menulis kitab ini. Sebuah sumber menyebutkan, pada awalnya, keterbatasan (kesulitan) umat Islam di Banjar (Melayu) dalam mempelajari kitab-kitab fikih yang berbahasa Arab. Maka itu, masyarakat Islam di Banjar berusaha mempelajari fikih melalui kitab-kitab berbahasa Melayu. Salah satunya adalah kitab Shirat al-Mustaqim yang ditulis Syekh Nurruddin al-Raniri.
      Kitab Shirat al-Mustaqim-nya al-Raniri ini juga ditulis dalam bahasa Arab-Melayu yang lebih bernuansa bahasa Aceh. Namun, hal itu juga menimbulkan kesulitan bagi masyarakat Islam Banjar untuk mempelajarinya. Oleh karena itu, atas permintaan Sultan Banjar (Tahmidullah), Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari kemudian menuliskan sebuah kitab fikih dalam bahasa Arab-Melayu yang lebih mudah dipahami masyarakat Islam Banjar.
       Dalam mukadimah kitab Sabil al-Muhtadin, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari menyatakan bahwa karya ini ditulis pada 1193/1779 M atas permintaan Sultan Tahmidullah dan diselesaikan pada 1195/1781 M.
       Secara umum, kitab ini menguraikan masalah-masalah fikih berdasarkan mazhab Syafi’i dan telah diterbitkan oleh Darul Ihya al-Kutub al-Arabiyah. Kitab Sabil al-Muhtadin ini terdiri atas dua jilid. Seperti kitab fikih pada umumnya, kitab Sabil al-Muhtadin ini juga membahas masalah-masalah fikih, antara lain, ibadah shalat, zakat, puasa, dan haji.
      Kitab ini lebih banyak menguraikan masalah ibadah, sedangkan muamalah belum sempat dibahas. Walaupun begitu, kitab ini sangat besar andilnya dalam usaha Syekh Arsyad menerapkan hukum Islam di wilayah Kerajaan Banjar sesuai anjuran Sultan Tahmidullah yang memerintah saat itu.
 
 Karya
· Sabil al Muhtadin (Jalan orang-orang yang mendapat petunjuk). Kitab ini merupakan syarah dari kitab sirat al Mustaqim karya Ar Raniry (w. 1069 H)
·         Kitab an Nikah
·         Kitab al faraid, tentang waris.
·         Usul al Din, pokok-pokok ajaran agama.
·         Tuhfah ar Raghibin (Hadiah atau permata orang-orang yang berkeinginan)
·         Kanz al Marifah (gudang marifat)
·         Al Qaul al Mukhtasar (Perkataan yang ringkas)

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda