ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Ulama > Hasan Mustafa, Haji.,

 
 
 
 
 
 
 
 

Hasan Mustafa, Haji.,


HASAN MUSTOFA, Haji., (1852-1930 M)
 
   Seorang ulama asal Garut, penghulu besar (di Aceh dan di Bandung) dan termasuk pujangga Sunda terbesar.
     Haji Hasan Mustofa, lahir di Cikajang Garut dan meninggal di Bandung. Ayahnya, Mas Sastramanggala menjadi camat perkebunan di era Belanda, dan setelah naik haji kemudian lebih dikenal dengan nama Haji Usman. Meskipun ayahnya pernah sekolah di sekolah belanda, tetapi anaknya (Hasan mustofa) ia sekolahkan di pesantren. Pada usia 7 tahun ia telah dibawa ayahnya naik haji ke Mekah. Dan setelah kembali ia kemudian belajar ke berbagai pesantren di tatar Sunda.
     Pada usia 17 tahun ia kemudian pergi ke Mekah untuk memperdalam ilmu agama. Ia bermukim di Mekah selama 10 tahun, dan kembali lagi ke tanah air. Setelah menikah dan mempunyai anak, ia kemudian kembali lagi ke Mekah sambil membawa anak dan istrinya, untuk belajar agama lebih jauh. Di Mekah ia kemudian menjadi pengajar di Masjidil haram dan mempunyai murid sekitar 30 orang. Disamping itu, ia juga telah menerbitkan buku dalam bahasa Arab.
      Haji Hasan Mustofa mempunyai banyak guru. Guru-gurunya ketika di Indonesia, antara lain: Haji Hasan Bashry (Kiara Koneng garut), Ajengan Abdul Hasan (Tanjungsari sumedang), Ajengan Yahya (garut), ajengan Muhammad (Cibunut Garut) dan lainlain. Dan Guru-gurunya ketika di Mekah: Syekh Muhammad, Syekh Abdul Hamid Dagastani atau Sarawani, Syekh Ali Ralibani, Syekh Umar Syami, Syekh Mustofa al Afifi, Sayed Abu Bakar al Sathahasbullah, Syekh Nawawi al Bantani, Abdullah al zawawi, dan lain-lain.
      Ketika dikampungnya, Garut, terjadi pertentangan antara golongan tua dan golongan muda, sekitar tahun 1885, penghuluu besar Haji Muhammad Musa mengirimkan orang untuk menjemputnya dari Mekah untuk kembali ke Garut. Dan ia berhasil memadamkan pertikaian paham itu dan mendirikan pesantren di Sindang barang Garut.
      Hasan Mustafa merupakan sahabat baik Dr. Snouck Hurgronje, seorang orientalis perancang penaklukan Aceh oleh Belanda. Pada tahun 1889 M, ia diajak Dr Snouck untuk berkeliling jawa sambil menyelidiki kehidupan agam Islam dan folklor. (Catatan Snouck Hurgronje tentang perjalanannya selama 2 tahun yang tebalnya 1337 halaman, dikhtisarkan oleh Dr. Ph. Van Ronkel kemudian dalam ’Aanteekeningen over Islam en folklore in west en midden java.’)
     Ketika pada tahun 1893 ada lowongan penghulu besar di Aceh, Dr. Snouck membujuknya agar bersedia mengisi lowongan itu. Hasan mustofa menerimanya dengan syarat agar dipindahkan ke daerah priangan jika ada lowongan. Pada tahun 1895, ia dipindahkan menjadi penghulu besar Bandung hingga pensiun (1916). Disini ia banyak menulis buku dalam bahasa Sunda dan juga jawa. Tetapi buku-bukunya tidak diterbitkan. Sekitar tahun 1923-1930 Wangsaatmaja yang merupakan sekretarisnya menyunting beerapa tulisannya dan kemudian menerbitkannya.Kemudian kesektarisan kepenghuluan Wangsadireja membuat salinan karyakaryanya untuk dikirimkan kepada Dr. Snouck Hurgronje di Leiden dan sampai sekarang di simpan di perpustakaan Leiden.
 
Peran
     Hasan Mustafa dianggap sebagai orang yang benar-benar ahli tentang adat isitiadat Sunda. Disamping menulis buku tentang adat isiadat Sunda, ia juga telah menulis lebih dari 10.000 bait danding, yang mutunya dianggap sangat tinggi oleh para pengkritik sastra Sunda. Isi danding ini membahas masalah suluk, terutama membahas antara hubungan hamba dengan tuhannya. Penggunaan banyak metafora dalam hubungan tersebut, seperti rebung dengan bambu, aren dengan caruluk (buah aren), dan lain-lain, menyebabkannya sering dituduh pengikut madzhab wihdatul wujud. Sehingga ia harus membuat buku bantahan yang berjudul Injazu’l Wa’d fi ithfa –l-r-Ra’d (Membalas kontan sekalian membekap guntur menyambar), dalam bahasa Arab.
      Karya-karyanya banyak tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.
 
Karya
  • Injazu’l Wa’d fi ithfa–l-r-Ra’d (Membalas kontan sekalian membekap guntur menyambar), dalam bahasa Arab. Salah satu salinan naskahnya masih tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.
  • Kasful Sarair Fihakikati Aceh wa Fidir (Buku Rahasia sebetulnya Aceh dan Fidi), dalam bahasa Melayu. Naskah buku ini masih tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda