ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Ulama > A.R. Sutan Mansur

 
 
 
 
 
 
 
 

A.R. Sutan Mansur

 
 A.R. SUTAN MANSUR (1313-1405 H/1895-1985 M)
 
      Ketua PP Muhammadiyah (1953-1959). Buya Hamka menyebutnya sebagai ideolog Muhmmadiyah.
        Buya Ahmad Rasyid Sutan Mansur, lahir di maninjau Sumatra Barat pada 26 Jumadil Akhir 1313 H/ 15 Desember 1895 M. Ia anak ke-3 dari 7 bersaudara, dari pasangan Abdul Somad al Kusaij, seorang ulama di Maninjau, dan Siti Abbasiyah yang dikenal dengan Uncu Lampur. Keduanya adalah tokoh dan guru agama di Kampung Air Hangat Maninjau.
     Disamping mendapat didikan dari kedua orang tuanya, ia juga belajar di Inlandshe School (IS) (1902-1909 M). Ia juga ditawari sekolah di Kweekschool, tetapi sikap anti penjajahnya, ia memilih belajar di sekoah agama. Pada mulanya ia berguru kepada Tuan Ismail (Dr. Abu Hanifah) yang menyarankannya untuk belajar kepada Haji Rasul (Dr. Karim Amrullah), seorang pembaharu terkemuka di Minangkabau. Ia belajar selama 10 tahun (1910-1917) dan diambil menantu oleh gurunya (1917), dikawinkan dengan putri sulungnya (kakak Hamka), serta di beri gelar Sutan Mansur. Pada tahun 1918 , ia dikirim gurunya ke Kuala Simpang Aceh untuk mengajar (2 tahun), dan kembali ke Maninaju (1919).
     Keinginannya belajar ke Al Azhar Mesir, tidak terkabul karena larangan pemerintaha Belanda, dan saat itu terjadi pemberontakan di Mesir melawan Inggris. Karena itu ia kemudian pergi ke Pekalongan Jawa Tengah, untuk berdagang dan menjadi guru agama bagi para perantau dari Sumatera. Pemikirannya yang selalu menginginkan perubahan dan pembaharuan, menemukan pilihan aktifitasnya, ketika ia berinteraksi dengan Ahmad Dahlan yang sering datang ke Pekalongan untuk berda’wah. Dan Ia kemudian bergabung dengan Muhammadiyah.
     Pada tahun 1923 ia menjadi ketua Muhammadiyah cabang Pekalongan, setelah ketua pertamanya mengundurkan diri karena tidak mendapat serangan kanan kiri dari pihak yang tidak menyukai keberadaan Muhammadiyah. Pada tahun 1925 M, ia diutus untuk menta Muhammadiyah yang mulai menggeliat di tanah minangkabau. Pada tahun 1927 bersama Fajkhruddin, ia melkukan tabligh dan engembangkan Muhammadiyah di Medan dan di Aceh. Pada tahun1929, ia berhasil mendirikan cabang Muhammadiyah di banjarmasin, Kuala kapuas, Mendawai, dan Amiuntai. Sehingga hingga tahun 1929 Muhammadiyah mulai dikenal di luar pulau Jawa.
      Sebagaimana Ahmad Dahlan, ia juga aktif di Syarikat Islam , da sangat dekat dengan tokoh Hos Cokroaminoto dan H. Agus Salim. Tetapi kemudian ia keluar dari SI dan memilih Muhammadiyah setelah SI mengambil tindakan disiplin organisasi bagi anggota muhammadiyah.
      Pada kongres ke-19 di Minagkabau ( maret 1930), ia kemudian terpilih menjadi ketua wilayah (konsul) Muhammadiyah daerah Minagkabau, yang meliputi Tapanuli dan Riau hingga tahun 1944. Ketika Soekarno dibuang ke Bengkulu, ia menjadi penasehat agamanya. Pada era Jepang ia menjadi konsul besar Muhammadiyah seluruh Sumatra, da menjadi salah seorang anggota Tsuo Sangiu Kai dan Tsuo Sabngi in (semacam DPR dan DPRD) mewakili sumatra barat. Sejak tahun1947 hingga 1949 M, ia diangkat menjadi iama atau guru islam untuk tentara komandemen Sumatra, yang berkedudukan d Bukit Tinggi, dengan pangkat Mayor Jendral Tituler.
     Setelah menjadi negara kesatuan (1950) ia diminta menjadi penasehat TNI AD, tetapi ditolaknya. Ia lebih memilih aktif di Muhammadiyah. Pada tahun 1952 Presiden Soekarno memintanya menjadi pensehat presiden di Jakarta, tetapi ia juga menolaknya. Dalam kongres Masyumi tahun 1952, ia diangkat menjadi wakil ketua syura Masyumi, dan setelah pemilu tahun 1955, ia terpilih sebagai anggota konstituante dan anggota KNIP, hingga dibubarkan pada tahun 1959 M. Pada kongres ke-32 di banyumas (1953) dan yang ke-33 di Palembang (1956), ia dikukuhkan menjadi ketua Muhammadiyah untuk 2 periode (1953-1956 dan 1956-1959 M).
    Dalam kepimpinanya, dalam upaya pemulihan roh Muhammadiyah, ia memasyarakatkan dua hal, yang pertama merebut khasyyah (takut pada kemurkaan Allah) , merebut waktu, memenuhi janji, menanam roh dan tauhid, dan mewujudkan akhlak tauhid. Kedua menguasahakan buq’ah mubarakah (tempat yang diberkati) di tempat masing-masing, mengupayakan shalat ja,a’ah pada awal setiap waktu, mendidik anakanak beribadah dan mengaji Al Qur’an , mengaji Al Qur’an untuk mengharap rahmat, melatih puasa sunat hari senin dan kamis, juga pada tanggal 13,14 dan 15 bulan Islam seperti dipesankan oleh Nabi Muhammad, dan tetap menghidupkan taqwa..
    Dalam ceramah-ceramahnya, ia sangat menyukai sekali membahas tentang tauhid. Dokrin-dokrin Islam ia uraikan dengan sistematis dan dikaitkan dengan tauhid melalui pembahasan ayat demi ayat Al Qur’an dan hadits.
       Di usianya yang uzur ia tetap memberikan ceramah dengan materi tauhid. Ia meninggal pada 3 Rajab 1405 H/ 25 Maret 1985 M, dan  dimakamkan di Tanah Kusir Jakarta.
 
Karya
  • Jihad
  • Seruan Kepada Kehidupan Baru

 

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda