ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Ulama >  Wahid Hasyim, KH.A.,

 
 
 
 
 
 
 
 

 Wahid Hasyim, KH.A.,

WAHID HASYIM, KH.A. (1914-1953 M)
 
       Salah seorang tokoh NU, dan termasuk pembaharu di tubuh NU. Ia  pernah menjabat mentri agama 3 kali berturut-turut (1949-1952 M) di era Presiden Soekarno.
      Lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Ayahnya, KH. Hasyim Asy’ary adalah pendiri NU dan juga pengasuh pondok pesantren Tebu Ireng Jombang jawa Timur.
      Ia belajar di Pondok pesantren Siwalah Panji (pada usia 13 tahu), kemudian ke Pesantren Lirboyo Kediri, dan kembali ke kemudian kembali mengajar di pesantren tebuireng (pada usia 17 tahun).
      Sekembalinya dari Mekah (1932), ia kemudian melakukan banyak pembaharuan (perubahan) dalam pesantren yang didirikan ayahnya, dan mendirikan madrasah Nizamiyah, yang diajarkan ilmu agama dan ilmu umum, suatu hal yang ditentang oleh ayahnya sebelumnya, dan mendapat protes dari pendahulunya.
      Sejak tahun 1938, ia banyak mencurahkan perhatian pada kegiatan NU dan menjadi ketua pendidikan Ma’arif NU. Dan setelah NU berubah menjadi partai politik, ia terpilih menjadi ketua biro politik NU (1950).
     Pada tahun 1939, ia terpilih menjadi ketua MIAI, tetapi kemudian mengudurkan diri seusai konsfrensi MIAI dan kongres Muslimin Indonesia III yang hangat membicarakan perbedaan paham antara GAPI dan MIAI mengenai Indonesia berparlemen, milisi dan transfusi darah. Ia juga menjadi ketua II Majelis syura Masyumi (1945), sedang yang menjadi ketuanya adalah ayahnya sendiri (KH. Hasyim Asy’ary), dan partai Masyumi merupakan satu-satunya partai Islam kala itu.
      Pada 20 Desember 1949, ia terpilih menjadi mentri agama pada kabinet Hatta, kabinet Natsir dan kabinet Sukiman. Selama menjadi mentri agama, usaha-usahanya antara lain: mendirikan Jamm’iyah al Qurra wal huffaz (organisasi qori dan penghapal Al Qur’an) di Jakarta, menyetujui berdirinya PTAIN (Perguruan tinggi agama Islam negeri) dalam kementrian agama, dan lain-lain.
     Ia meninggal di Cimahi Jawa barat stelah tertimpa kecelakaan di Cadas Pangeran Sumedang.
 

Karya

  •   Nabi Muhammad dan Persaudaraan manusia
  •  Berimanlah dengan sungguh dan Ingatlah Kebesaran Tuhan
  • Kebangkitan Dunia Islam
  • Apakah Meninggalnya Stalin Berpengaruh pada Islam.
  •   Islam antara Materalisme dan Mistik
  •  Kedudukan Ulama dalam masyarakat Isla di Indonesia.
  •   Umat Islam Indonesia dalam Menghadapi Perimbangan Kekuatan Politik dari Partai Partai dan Golongan-Golongan.
 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda