ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Tokoh Pergerakan > Kartosuwiryo

 
 
 
 
 
 
 
 

Kartosuwiryo

 
KARTOSUWIRYO (1905- 1962 M).
 
       Tokoh revolusioner Islam di Indonesia, pendiri NII (Negara Islam Indonesia), tetapi gagal diperjuangkannya.
   Nama: Sekarmadji Marijan Kartosuwiryo, lahir di Cepu, Jawa Timur. Ayahnya adalah mantri candu di Rembang, di era Hindia Belanda. Setelah sekolah di HBS (setingkat SMA), tahun 1923 melanjutkan studi ke NIAS (Nederlandshe Indische Artsen School), sekolah kedokteran untuk kaum pribumi di Surabaya. Pendidikan agama ia belajar kepada Notodiharjo, seorang tokoh Muhammadiyah di Bojonegoro, yang kemudian sangat mempengaruhinya.
      Ia pernah bekerja di perusahaan minyak Belanda BPM, tetapi kemudian dipecat karena berpolitik. Dalam gerakan politik, pada awalnya ia bergabung dengan jong java (1923), tetapi tahun 1925 pindah ke JIB (jong Islamiten Bond), dan juga ikut membidangi gerakan sumpah pemuda.
     Pada tahun 1926, ia bergabung dengan SI (Syarikat Islam) pimpinan HOS Cokroaminoto, dan tokoh ini juga sangat mempengaruhi pemikirannya dalam berpolitik. Disamping sebagai sekretaris umum PSI (partai Syarikat Islam), ia bekerja sebagai wartawan di harian Fadjar Asia dan pada usia 22 tahun (1929) menjadi redakturnya. Dalam kapasitasnya sebagai redaktur, ia banyak menulis berbagai artikel kritikan terhadap penguasa pribumi maupun Belanda.
     Ketika pergi ke Malangbong Garut, Jawa Barat, ia berkenalan seorang ulama dan tokoh PSII yang berpengaruh di daerah itu, Ajengan Ardiwisastra, yang dikemudian hari menjadi mertuanya, dan ia sendiri menetap disana.
      Pada masa Jepang tersebut, ia memfungsikan kembali lembaga Suffah yang pernah ia bentuk, tetapi kali ini ia lebih banyak memberikan pendidikan militer, karena waktu itu Jepang telah membuka pendidikan kemiliteran. Kemudian siswa yang menerima latihan kemiliteran di Insititut Suffah itu, akhirnya memasuki salah satu organisasi gerilya Islam yang utama sesudah perang yaitu Hizbullah dan Fi Sabilillah, yang nanti menjadi inti Tentara Islam Indonesia (TII) di jawa Barat.
     Setelah perang dunia II ia menjadi pengurus besar Masyumi dan menjadi anggota KNIP. Pada bulan Agustus 1945,   ia merencanakan kemerdekaanya, tetapi proklamasinya di tarik kembali sesudah pernyataan Soekarno dan Hatta pada 17 agustus 1945.    Untuk sementara ia tetap loyal kepada republik dan menerima dasar sekulernya.
     Tetapi setelah agresi Belanda II dan perjanjian Renville yang sangat merugikan Indonesia, yang hanya mengakui Yogyakarta saja sebagai wilayah Republik Indonesia. Dimana perjanjian tersebut berisi antara lain: gencatan senjata dan pengakuan garis demarkasi Van Mook. Sementara pemerintah RI harus mengakui kedaulatan Belanda atas Indonesia, yang menjadi pilihan pahit bagi Republik. Tempat-tempat penting dan strategis bagi pasukannya di daerah-daerah yang dikuasai pasukan Belanda harus dikosongkan, dan pasukan harus ditarik mundur ke wilayah Indonesia yaitu Yogyakarta. Karena persetujuan ini, tentara Republik resmi Jawa Barat (divisi Siliwangi) mematuhi ketentuan-ketentuannya, sedang pasukan Hizbullah dan Fi Sabilillah bagian cukup besar dari kedua organisasi gerilya Jawa Barat menolak mematuhinya.
    Pada tahun 1949 Indonesia mengalami suatu perubahan politik besar-besaran. Di daerah Jawa Barat mengalami kekosongan kekuasaan, maka ketika itu Kartosuwiryo memproklamasikan Negara Islam Indonesia pada tanggal 7 Agustus 1949, yang dikemudian hari dikenal sebagai Ad Daulatul Islamiyah atau DI (Darul Islam) atau Negara Islam Indonesia.
     Berjuang selama 13 tahun, akhirnya ia tertangkap bersama keluarganya dan pengawalnya di atas gunung Beber, Garut, dan ia dijatuhi hukuman mati oleh mahkamah militer pada 16 Agustus 1962.
      Meskipun gagal dalam memperjuangkan berdirinya negara Islam, tetapi cita-citanya banyak menginspirasikan gerakan-gerakan Islam di kemudian hari, dalam hubungannya dengan Negara Islam Indonesia.
 
Pemikiran dan aktifitas politiknya
     Kartosuwiryo adalah tokoh pimpinan PSII (Partai syarikat Islam Indonesia) yang mengetengahkan politik hijrah dan non kooperatif terhadap penjajah, yang tidak disetujui pimpinan partai, karena itu ia kemudian mendirikan panitia pembela kebenaran PSII, sehingga ia kemudian dipecat bersama beberapa pengikutnya di beberapa cabang.
    Politik hijrah ini mendapat ini mendapat sokongan dari Abikusno Cokrosuyoso (w. 1960 M) pada kongres ke-26, Juli 1936, yang mencapai kemenangan yang luar biasa. Kemenangannya ini kemudian dianggap sebagai persetujuan politik hijrahnya. Pada tahun 1939, ia terlibat dalam pertentangan dengan mayoritas PSII dan GAPI. Pernyataan kesetiaan pada pemerintah kolonial menyebabkan PSII keluar dari GAPI.
    

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda