ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Tokoh Pergerakan > Agus Salim

 
 
 
 
 
 
 
 

Agus Salim

AGUS SALIM (1884-1954 M)
 
       Seorang politikus handal dan diplomat ulung. Ia dibesarkan dalam tradisi barat (pendidikan Belanda), tetapi kemudian berubah menjadi pemimpin gerakan Islam yang sangat berpengaruh.
     Nama ketika kecil Masyudul Haq. Lahir di kota Gedang, Minangkabau, Sumatra barat. Ia merupakan anak ke-5 dari 15 bersaudara pasangan Angku Sutan Muhammad Salim dan Siti Zainab. Ayahnya tersebut merupakan seorang hoofd (kepala jaksa) di pengadilan tinggi Riau dan daerahnya pada masa pemerintah penjajah Hindia Belanda, suatu kedudukan yang sangat tinggi dikalangan pribumi. Oleh karena itu Agus Salim bisa diterima sekolah di Europa Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, dan kemudian meneruskan ke HBS (Hogere Burger School) di Jakarta.
   Agus Salim merupakan anak yang cerdas, prestasinya sangat cemerlang. Ia selalu mengungguli anak-anak Eropa, dan ia merupakan lulusan terbaik di HBS seluruh Hindia Belanda (meliputi Jakarta, Bandung, Surabaya). Perubahan sikapnya menjadi anti belanda, diakibatkan oleh sikap diskriminatifnya ketika ia gagal mengajukan beasiswa dan status persamaan derajat dengan bangsa eropa.
     Pada usia 21 tahun, ia bekerja di sebuah kongsi pertambangan di Indragiri, dan setahun kemudian bekerja di konsulat Belanda di Jeddah, Arab Saudi, sebagai ahli penterjemah dan mengurusi jema’ah haji asal Indonesia. Di Jeddah inilah merupakan titik balik terhadap komitmen keislamannya. Disini ia mulai belajar dan melakukan diskusi dengan pamannya, Syekh Ahmad Khatib, yang waktu itu sebagai guru besar dan imam di Masjidil Haram, Mekah. Sebagai orang yang dibesarkan dalam didikan barat dan berpengetahuan luas, ia menerima pelajaran dari pamannya tersebut dengan sikap yang kritis, tetapi Syaikh Ahmad Khatib dapat meladeninya, sehingga Salim sangat tekun mempelajari Islam disamping bekerja.
     Pada tahun 1911 M, ia kembali ke tanah air, dan sempat bekerja 5 hari di PU Jakarta, tetapi kemudian mengundurkan diri dari pegawai pemerintah dan kembali ke kota Gebang, disini ia mendirikan sekolah dasar HIS. Pada tahun 1915 ia kembali ke Jawa dan kemudian bergabung dengan SI (Syarikat Islam). Pada tahun 1934, HOS Cokroaminoto (pemimpin SI) meninggal, dan ia kemudian menggantikan posisinya sebagai ketua.
    Dalam perjalanan kariernya, jabatan-jabatan yang pernah diembannya, antara lain: Menjadi anggota Volksraad (1921-1924); Anggota panitia 9 BPUPKI mempersiapkan UUD 45; Mentri muda luar negeri (1946 dan 1947); Tokoh kunci pembuka hubungan diplomatik Indonesia dengan Arab, terutama Mesir (1947); Mentri luar negeri (1947 dan 1948-1949).
    Ia meninggal pada 4 November 1954 M.
 
Pribadi dan Peran
     Meskipun dilahirkan dalam keluarga muslim yang taat beragama, tetapi ia lebih banyak mendapat didikan barat, sehingga ia cenderung tercerabut dari agamanya dan mulai mengarah ke pemikiran atheis. Menurutnya pendidikan di HBS telah berhasil menjauhkan diri dari ajaran Islam. Setelah 5 tahun di HBS, ia merasa tidak dapat berpegang teguh kepada satu agamapun secara sungguh-sungguh. Dan komitmen keislamannya tumbuh kembali ketika berada di Jeddah atas peran dan bimbingan pamannya, Syaikh Ahmad Khatib.
    Agus Salim adalah orang yang sangat berperan ditubuh SI. Setelah bergabung dengan SI (1915 M) dan kemudian menjadi orang kedua setelah Cokroaminoto (sang pendiri), menurut Prof. Deliar Noer (seorang ahli politik dalam bukunya Gerakan Modern Islam di Indonesia), Salimlah yang lebih banyak memberi cap Islam pada SI, Salim bukan saja seorang yang mengetahui pikiran-pikiran barat, tetapi dialah pemimpin SI yang paling mengetahui tentang Islam dari sumber aslinya.
    Peran Salim di SI sangat menonjol terutama dalam merumuskan kebijakan dan strategi perjuangan organisasi. Ia juga berusaha membersihkan orang-orang SI dari orang-orang komunis yang menyusup ke dalam SI.

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda