ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Tokoh Pembaharuan awal > Syekh Ahmad Khatib

 
 
 
 
 
 
 
 

Syekh Ahmad Khatib

 
AHMAD KHATHIB, Syekh (1276-1334 H / 1860-1919 M)
Ahli Fiqih
 
     Seorang pembaharu melayu yang bermukim di Mekah. Ia merupakan ulama besar asal Minangkabau, yang mengajar di Mekah, dan menjadi imam di Masjidil Haram tahun 1890-an. Ia adalah guru dari para pembaharu di Indonesia.
     Nama Ahmad Khathib bin Latif dan lahir di Kota Gadang Bukit Tinggi, pada 6 Dzulhijah 1276 H / 26 Mei 1860 M . Ayahnya, Abdul Latif (dari pihak ayah bersepupuan dengan KH. Agus Salim, tokoh pergerakan Islam yang paling berpengaruh di Indonesia), dan ibunya Limbak Urai, anak Tuanku Nan Renceh (seorang ulama Paderi yang paling berpengaruh).
     Di kota kelahirannya, ia sekolah di Kweek School (yang didirikan oleh Hindia Belanda), kemudian menuntut ilmu di Mekah. Disini ia belajar kepada ulama-ulama besar madzhab Syafi’I waktu itu, diantaranya Syaikh Zaini Dahlan.
     Ia adalah seorang yang sangat tekun dalam belajar, kadang waktu senggangnya ia gunakan untuk membaca dan menelaah kitab-kitab di toko buku milik saudagar asal Kurdistan, yang bernama sayyid Hamid Kurdi. Sang pemilik toko merasa tertarik akan kehalusan budi pekerti dan ketinggian ilmunya, yang kemudian Ahmad Khatib dijadikan menantunya. Dari mertuanya ini ia kemudian dikenal kalangan istana, sehingga ia dipercaya menjabat guru besar di Masjidil Haram, dan kemudian menjadi imam dan khathib di Masjidil Haram.
    Murid-muridnya banyak sekali, terutama dari Indonesia. Murid-muridnya tersebut kebanyakan menjadi ulama besar dan juga pembaharu di Indonesia. Diantara yang pernah belajar padanya, adalah : Syaikh Jamil jaho, Muhammad Jamil Jambek, Taher Jamaluddin, M. Thaib Umar, Abdullah Ahmad (perintis media Islam), H. Abdul Karim Amrullah (ayah Hamka), H. Agus Salim (tokoh pergerakan Islam paling berpengaruh di Indonesia), semuanya diatas merupakan ulama-ulama terkemuka di Minangkabau (Sumatra Barat), juga, Ahmad Dahlan (pendiri gerakan Muhammadiyah), Hasyim Asy’ary (Pendiri NU), H.M. Basuni Imran, H. Abdul Halim, dan lain-lain.
     Ia meninggal pada 9 Jumadil Awal 1334 H / 14 Maret 1919 M. Sepanjang hidupnya, ia kebanyakan dihabiskan di Mekah (belajar dan kemudian mengajar).
 
Pemikiran
     Ahmad Khathib adalah salah seorang ulama besar asal Indonesia yang berhasil mencapai reputasi international. Ia adalah seorang ulama yang mempunyai integritas yang tinggi dalam hukum Islam. Ia sangat berpegang teguh kepada ketentuan-ketentuan syari’at. Ia tidak segan-segan mengkritik bahkan mengecam, jika sesuatu dianggap bertentangan dengan ajaran Islam atau semangat Islam yang lebih luas.   Ia menyerukan dilenyapkannya segala bentuk praktek tarekat, tetapi ia sendiri tidak setuju untuk meninggalkan 4 madzhab dalam berislam.
     Ia pernah mengecam Sayid Utsman (mufti Batavia) karena fatwa-fatwanya dipandang terlalu memenuhi keinginan pemerintah Hindia Belanda.
     Ia mengkritik tarekat Naqsybandiyah yang waktu itu sedang semarak di daerahnya. Menurutnya tarekat ini bertentangan dengan Islam. Pendapat ini mendapat reaksi dari Syekh Abdullah Bin Abdullah Al Khaldi dari Tanah Datar. Syekh Ahmad Khathib menulis 3 buku tentang polemik tarekat ini.
     Ia juga mengkritik dengan keras pembagian harta pusaka kepada paman dalam masyarakat Minangkabau. Menurutnya pelimpahan harta waris keponakan kepada pamannya sama dengan merampok harta anak yatim, karena itu merupakan dosa yang sangat besar. Dan yang melakukakanya termasuk fasik yang harus bertaubat, jika tidak akan menjadi murtad. Sedang orang yang memperthankannya tidak dapat dijadikan saksi dalam perkawinan dan tidak berhak mendapat pemakaman secara Islam. Pendapatnya ini juga mendapat serangan yang tajam dari kaum adat dan ulama setempat. Diantaranya Datuk Sutan Marajo yang menulis dalam majalah pelita kecil, dan Syekh Muhammad Sa’ad Mungkar dalam tulisannya yang berjudul Tanbih Al ‘Awam.
   
Karya
  • Izhar Zaq’li Al Kazibin Fi Tasyabbuhihim Bi As Sadiqin, buku ini berkenaan dengan tarekat Naqsyabandiyah. Buku ini merupakan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan sekitar tarekat itu Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentang dasar syari’at, silsilah, dasar hukum makan daging, dasar tentang suluk 40 hari, 20 hari, 10 hari, dan dasar tempat perguruan kaum sufi (rabitab) menurut syari’at Islam. Buku ini diterbitkan pertama kali di Padang tahun 1324 H/1906 M, kemudian dicetak ulang pada tahun 1326 H/1908 M.
  • Al Ayat Al bayyinah Li Al Munsifin Izalah Khurafat Ba’da Al Muta’assibin, buku ini merupakan buku kedua (setelah Izhar …) dalam mempertahankan fatwanya tentang Naqsyabandiyah.
  • As Saif Al battar Fi Mahq Kalimat Ba’da ahli Al Ightirar (dicetak tahun 1344 H), merupakan buku ketiga fatwanya tentang tarekat Naqsyabandiyah, dan merupakan jawaban terhadap surat dari Syekh Abdullah Bin Abdullah Al Khaldi dari Tanah Datar yang mana isi surat tersebut menyalahkan Ahmad Khathib dan mempertahankan Tarekat Naqsyabandiyah).
  • Ad Da’I Al Masmu’ Fi Ar Radd ‘Ala Manyurisu Al ikhwan Wa Aulad Al Akhyat Ma’a Wujud Al Usul Wa Al Furu’. Dalam buku ini ia mengkritik soal pembagian harta pusaka didaerahnya (Minagkabau). Buku ini ia tulis dalam bahasa Arab tahun 1309 H / 1891 M, dan pada tahun 1893 buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dengan judul Al Minhaj Al Masyru.
  • An Nafahat, tentang ilmu ushul fiqih.
  • Al Khutat Al Mardiyyah, tentang niat.
  • Sulh Al Jama’atin, tentang shalat Jum’at.
  • Iqna An Nufus, tentang zakat.
  • Raudhatu’l Hasab Fi ‘Ilm Al Hisab, kitab tentang hisab, (ditulis 1310 H / 1892 M).
  • Al jawahir An naqiyyah Fi Al Amal Al jaibiyyah, tentang ilmu hitung dan hisab,1309H
  • Irsyad Al hayara Fi Izalah Ba’d Syibhan Nasara (1332 H)
  • Dau’ As Siraj (1312 H)
  • Tanbih Al anam Fi Ar radd ‘Ala Risalah Kaffi Al awam ‘An Al Khaud Fi Syarikat Islam. Buku ini terbit di Mesir untuk membela pendirian SI (Syarikat Islam) dan membantah tuduhan Hasyim Asy’ary (pendiri NU) yang menulis buku Kaffu Al ‘Awam’an Al Khaud Fi Syarikat Islam, yang isinya menghalangi masyarakat untuk masuk Syarikat Islam. Hasyim Asy’ary menganggap SI (Syarikat Islam) bid’ah, tidak sesuai dengan ajaran Islam.

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda