ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Tokoh Pembaharuan awal > Ahmad Rifa'i, KH.,

 
 
 
 
 
 
 
 

Ahmad Rifa'i, KH.,

 
AHMAD RIFA’I, Kiai (1200-     H/ 1785-      M),
 
      Seorang pembaharu pemikiran keagamaan di tanah Jawa, dan seorang penentang kedzaliman penjajahan Belanda dan antek-anteknya, penguasa tradisional lokal di Jawa Tengah.
     Lahir di tempuran, Kendal, Jawa Tengah, 9 Muharam 1200 H/ 13 November 1785 (atau ada yang mengatakan 1786). Ayahnya, Muhammad Marhum bin Abi Sujak Wijaya alias Raden Sukocito, seorang penghulu. Ia merupakan bungsu dari 8 bersaudara.
     Sejak usia 7 tahun sudah yatim piatu. Ia kemudian tinggal bersama kakak perempuannya, istri dari KH. Asy’ary, pendiri pesantren Kaliwungu, Kendal. Ia mendapat pendidikan dari kakak-kakanya dan juga kakak iparnya.
     Ia sejak muda sudah terkenal sebagai seorang yang wara’, senang beribadah dan suka mencari ilmu. Tidak hanya itu, ia juga sangat peka terhadap situasi sosial kemasyarakatan yang kala itu berada dalam kedzaliman kaum penjajah (Belanda) dan antek-anteknya, penguasa tradisional lokal. Maka ia pun kemudian tampil menentang kedzaliman itu dengan gerakan Tarajumah. Gerakan perlawanan ini lebih menekankan aspek keagamaan, dengan membuka kesadaran masyarakat untuk menjadikan islam sebagai roh kehidupan dan perjuangan.
      Ia adalah seorang yang piawai dalam berorasi. Dalam khutbah-khutbah jum’at dan ceramah-ceramahnya ia tanpa tedeng aling-aling menyebut penjajah Belanda yang sebagai bangsa kafir, karena itu siapapun yang berkolaborasi dengannya, hukumnya juga kafir. Karena itu ia kemudian banyak mengkritik penguasa lokal yang menjadi antek penjajah dengan mengatakan mereka sebagai kafir.
     Karena sikapnya yang radikal, dan menjadi ancaman dari kaum tradisi dan penjajah, maka ia kemudian dilarang untuk berceramah, dan kemudian ia ditangkap dan di penjara.
     Keluar dari penjara (usia 30 tahun), ia kemudian menunaikan ibadah haji ke Mekah dan disini ia tinggal untuk memperdalam agama selama 8 tahun. Disini ia berguru ke sejumlah ulama, diantaranya Syekh utsman dan Syekh Faqih muhammad ibn Abdul aziz al jaisyi. Lalu ia pergi ke Mesir untuk belajar kepada Syekh Al Barowi dan syekh Ibrahim al Bajuri (pengarang kitab Fathul Qorib yang terkenal dikalangan pesantren).
      Pada tahun 1832 (usia 51 tahun) ia kembali ke tanah airnya, dan langsung mengajar di almamaternya, Pondok Kaliwungu Kendal. Disini selain mengajarkan ilmu agama ia selalu menyampaikan semangat anti kolonialisme (penjajahan) dan menanamkan roh Islam serta berusaha mengembalikan syariat islam secara benar dan utuh berdasar Qur’an dan Sunnah.
    Dengan tuduhan menghasut rakyat, ia kemudian ditangkap dan diasingkan (dibuang) ke Kalisasak, sebuah desa terpencil di kecamatan Limpung Batang. Tetapi semangat perjuangannya tak pernah pudar. Disini ia kemudian membangun pesantren untuk mendidik masyarakat sekitarnya, tetapi kemudian murid-muridnya banyak berdatangan dari berbagai penjuru pulau Jawa.
     Karena aktifitasnya dianggap membahayakan, ia kemudian ditangkap (15 Mei 1859) lalu dibuang ke Ambon, Maluku. Dan sepuluh tahun kemudian, ia meninggal dunia disana.
 
Pemikiran
     Kiai Rifa’I adalah seorang pembaharu yang berusaha mengembalikan syari’at Islam kepada dasar utamanya, Qur’an dan Sunnah, yang menurutnya telah bercampur aduk dengan tradisi lokal.
     Ia juga adalah orang yang berhasil menanamkan roh Islam dalam hubungannya dengan semangat anti penindasan yang dilakukan oleh penjajah Belanda dan penguasa tradisi pribumi. Dan ada 3 ajarannya mengenai hal itu yang dianggap membahayakan penjajah dan antek-anteknya, yaitu:
Ø Pertama, pemerintah kolonial Belanda adalah kafir karena menindas rakyat.
Ø Kedua, kaum birokrat (penguasa) tradisional lokal merupakan antek Belanda, karena itu juga kafir.
Ø Ketiga, praktek keagamaan tidak boleh bercampur dengan kepercayan nenek moyang yang dinilainya sesat dan musyrik.
    Kiai Rifa’I menamakan gerakannya dengan nama Tarajumah (dialek Sunda untuk kata terjemah dalam bahasa Arab), yang diambil dari nama kitab karyanya yang ia susun di sela-sela mengajar. Tarjumah merupakan suatu kata pencerahan yang berarti penterjemahan. Karena ia mengajar agama dengan bahasa lokal (jawa campur Sunda), dan menulis tidak kurang dari 55 judul kitab dalam keagamaan yang ditulis dalam bahasa Jawa dengan huruf pegon (huruf Arab Jawa). Dan ia menyebut kitab-kitabnya itu sebagai tarajumah yang berarti terjemahan.

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda