ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Sejarawan > Taufik Abdullah, Dr.,

 
 
 
 
 
 
 
 

Taufik Abdullah, Dr.,

 
TAUFIK ABDULLAH, Dr., (1936-     M),  

 

      Sejarawan yang terkenal sebagai seorang ilmuwan yang mempunyai keteguhan pada etika keilmuan. Ia peraih The Fukuoka Asian Cultural Prize dari Pemerintah Jepang.
       Ia lahir di Bukit Tinggi, 3 Januari 1936. Pendidikannya: SD (1948), SLTP (1951), SLTA (1954), Fakultas Sastra dan Kebudayaan     UGM jurusan Sejarah (1961), meraih master dan kemudian Ph.D dari Universitas Cornell, Ithaca AS (1970). Sejak kecil ia mempunyai kebiasaan membaca, dan yang memperkenalkan dirinya pada buku-buku bacaan adalah ayahnya, Abdullah Nur. Ayahnya seorang pedagang yang mempunyai hobbi (kesenangan) membaca buku. Sejak sekolah menengah pertama ia sudah mencita-citkan sekolah di luar negeri (Eropa dan Amerika) setelah dipinjami majalah luar negri yang penuh foto kota besar di sejumlah negara (New York, Berlin, dan London).
     Kariernya dimulai menjadi asisten pengajar Fakultas Sejarah UGM (1954-1961), kepala bagian majalah ilmu pengetahuan Indonesia (1962-1963), direktur Leknas-LIPI(1974-1978), Fulbright Visiting Profesor Universitas Wincosin (1975), post doctorla fellow University of Chicago (1976), Fellow in residence Netherland Institute of advanced Studies in Humanities and Social Science (NIAS) Wassenaar (1979-1980), Visiting professor in Asian Studies Cornell University (1980), guru besar dalam ilmu sejarah UGM (1995), dan Ketua LIPI (2000).
     Karya tulisnya banyak sekali dan tersebar diberbagai media masa dan jurnal ilmiyah baik di dalam maupun luar negeri.
 
Pemikiran
     Ia adalah seorang yang mempunyai keteguhan pada etika keilmuan. Ia sangat menyukai profesi peneliti, alasannya tidak mau terpasung dunia birokrasi.
     Ia mengeluhkan sebagian peneliti sejarah yang dinilainya telah melacur dengan memutar balikan fakta sejarah. Peneliti menurutnya dituntut berpegang teguh pada etika ilmiyah, oleh karena itu diperlukan kejujuran agar terjaga integritas intelektualnya.
     Tentang sejarawan Indonesia, menurutnya masih terbelenggu pada asumsi-asumsi teoritis maupun primordial, padahal posisi sejarawan seharusnya netral dan juga menjaga jarak dari sasaran penelitian. Dengan demikian sejarawan bisa memberi makna obyektifitas terhadap realitas.
 
Karya
·         History an Literatur (editor dan penulis, 1986)
·         Islam and Society in Southeast Asia (co-editor bersama Sharon Siddique, 1986)
·         Durkheim dan Pengantar ke Sosiologi Moralitas (penulis dan co-editor bersama AT Van der Locden, 1986)
·         Culture And Politics In Indonesia
·         Islam dan Masyarakat (1987)
·         Islam Di Indonesia
·         Pemuda dan Perubahan Sosial
·         Sejarah Lokal di Indonesia
·         Kerja Dan Pembangunan Ekonomi
·         Trens And Prespective Of Social Science In Indonesia
·         Agama dan Perubahan Sosial
·         Sejarah Umat Islam di Indonesia
·         Manusia dalam Kemelut Sejarah
 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda