ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Politisi ex. Masyumi > KH. Isa Anshari

 
 
 
 
 
 
 
 

KH. Isa Anshari

 
ISA ANSHARI, KH. (1916-     M)
 
     Salah seorang ulama terkenal dizamannya, seorang orator dan pernah menjadi ketua Persis (Persatuan Islam) pada tahun 1935-1960 M, suatu organisasi yang berorientasi fiqih yang terkenal radikal dan puritan. Ia bergelar singa podium, karena kefasihan kemmpuan berorasi mampu mengobarkan semangat setiap orag pendengarnya.
      Lahir di Maninjau Sumatra Barat pada 1 Juli 1916 M. Di usia muda ia telah terjun ke dunia politik, aktif di PSII dan menjadi mubaligh Muhammadiyah di kotanya. Ia kemudian merantau ke kota Bandung, dimana disini ia sering bertemu dengan Soekarno. Satu hal yang mencolok darinya, adalah sikapnya yang tegas, yang sering dinilai tidak kompormistis. Herbert Feith menyebutnya dengan figur politisi fundamentals yang memiliki keyakinan teguh.
      Di usia belia ia telah memimpin beberapa organisasi, yaitu menjadi ketua Persatuan Muslimin Indonesia Bandung; pemimpin persatuan pemuda rakyat Indonesia Bandung; Sekretaris parta Isam Indonesia bandung; Dan ikut mendirikan Muhammadiyah cabang Bandung.  Di era penjajahan Jepang, ia telah mengomandoi gerakan anti fasis (Geraf), biro penerangan pusat tenaga rakyat (Putera) Priangan, memimpin angkatan muda Indonesia dan mengorganisasi majelis Islam yang membentuk kader-kader Islam.
       Ia kemudian memimpin (menjadi ketua umum) organisasi Persis (persatuan Islam) dalam beberapa periode (dari tahun 1935-1960 M). Selama dalam memimpin Persis, ia telah memberikan arahan dan warna bagi organisasi itu. Sebagai orator, pidato pidatonya selalu beregelora membuat pandangan yang mendengarkannya selalu tertuju kepadanya, sehingga beberapa kali mendapat teguran dari penguasa. Ia juga terkenal sebagai seorang penulis yang analisisnya cukup tajam.
      Dalam kancah politik, ia aktif di Masyumi. Baginya, sebagai ulama yang kritis, berpolitik merupakan tuntutan agama. Mereka selalu menyampaikan kebenaran walaupun kadang pahit dirasakan. Berpoitik merupakan alat untuk mencapai cita-cita umat islam. Aktif di Masyumi semakin memperkuat posisinya sebagai politisi.
       Pada tahun 1949 ia memimpin sebuah kongres gerakan muslimin Indonesia. Pada tahun 1951 pernah ditangkap aparat karena dianggap makar, mau menggulingkan pemerintah Sukarno, tetapi kemudian dibebaskan.
     Pada masa presiden Soekarno karena kedekatannya dengan komunis, Masyumi menjadi salah satu lawan politiknya yang paling kritis. Maka ketika terjadi peristiwa Permesta (1958), maka KH Anshari yang ketika itu berada di Madiun, dan rekan-rekannya (Prawoto Mangkusasmito, M. Roem, Yunan Nasution, EZ muttaqin dan beberapa tokoh lainya) ditangkap aparat.
      Di tubuh Masyumi, cita-cita untuk membangun negara Islam sangat subur. KH Anshari tetap menjadi juru bicara yang ulet bagi masyumi, meski akhirnya kemudian gagal.
       Ia meninggal di rumah sakit Muhammadiyah Bandung, pada 11 Desember 1969 M atau sehari setelah hari raya Idul Fitri 1369 H
    
Karya
  •  Bahaya Merah Indonesia (1956)
  • Barat dan Timur (1948)
  •  Islam Menentang Komunisme (1956)
  •  Tuntunan Puasa (1940)
  •  Umat Islam Menghadapi Pemilihan Umum (1953)

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda