ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Penyair & Budayawan > Kuntowijoyo

 
 
 
 
 
 
 
 

Kuntowijoyo

 
KUNTOWIJOYO (1943 -      M),
  
 Seorang ahli kebudayaan, dan penulis produktif tentang puisi dan kesusastraan.
    Lahir di Bantul Yogyakarta pada 18 September 1943. Sarjananya pada   fakultas sastra UGM, master dalam bidang American Studies di University of Connecticut, AS (1974) dan doktornya (PhD) di Columbia University, AS (1980). Dalam kariernya, ia menjadi staf pengajar jurusan sejarah UGM dan fakultas Adab IAIN. Ia juga pengurus DDII dan Perti.
     Ia seorang penulis yang produktif dengan beberapa penghargaan. Ia mendapat penghargaan Asean Award on Culture (1997) Satya Lencana Kebudayaan RI (1997), Mizan Award (1998) dan Kalyana Kretiya (1999). Cerpennya yang berjudul: Laki-laki yang kawin Dengan Peri, Pistol Perdamaian dan Anjing-anjing Menyerbu Kuburan meraih cerpen terbaik harian Kompas berturut-turut: 1995,1996 dan 1997.
 
Pemikiran
       Dalam mengembangkan kesustraan, ia memilih dimensi spiritual sebagai tumpangannya, yang ia sebut sebagai sastra profetik.
      Ia sengaja memilih terminologi sastra profetik daripada sastra Islam dalam pengertian sekarang. Sebab baginya sastra Islam seringkali dipandang kebanyakan orang sebagai karya yang hanya berurusan dengan masalah-masalah ketuhanan belaka. Sementara sastra profetik dipandangnya sebagai bahtera persoalan kehidupan .
      Secara konsepsional sastra profetik yang digagas dan digelutinya, sepenunya merujuk kepada tindakan-tindakan dalam kesejarahan hidup nabi Muhammad. Menurutnya implementasi dari risalah-risalah kenabian dan kerasulan Muhammad, tidaklah semata terkait dengan relasi-relasi vertikal, sebagaiman dipraktekan oleh kalangan sufi klasik. Tapi sepenuhnya berpapasan sekaligus merasakan manis getir kehidupan di tengah gemuruh sosial yang seringkali tidak menyenangkan.
      Dalam rancang bangun dimensi vertikal-horizontal yang demikian sublim, karya sastra profetik tampil di tengah publik pembaca dengan tidak terlalu norak dan ultraverbal. Didalamnya tidak ada pesan-pesan keagamaan yang meluncur secara keras dan rigid. Kadang sastra profetik tampil dengan mengesankan sebagai kritik terhadap kemapanan syari’at yang rigid.
    Sastra profetiknya ini sebenarnya berdasar kepada QS Ali Imran: 110: “ Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah kemungkaran dan beriman kepada Allah.”
    Ketiga poin penting itu menjadi pijakan sastra profetik
ü Pertama, menyuruh yang ma’ruf, yang secara terminologis olehnya disepadankan dengan humanisasi. Dalam konteks pemahaman keislaman secara luas, humanisasi itu sesungguhnya merupakan pemuliaan manusia dengan cara meletakan mreka pada posisi yang terpuji sebagaimana yang diserukan dalam ayat-ayat-Nya. Dengan demikian manusia secara ideal meski terus menerus berupaya atau diupayakan untuk memproyeksikan hidup mereka aagar humanis.
ü Kedua, mencegah kemungkarana atau liberasi. Dalam hal ini liberasi bermakna pembebasan, yaitu pembebasan dari segala kekejian atau apapun yang secara substansial sesungguhnya membelenggu mereka. Hal ini meski diupayakan agar kereta kehidupan manusia tidak menderu-deru menuju lubang kehancuran.
ü Ketiga, beriman kepada Allah atau transendensi. Dalam hal ini transendensi tidak hanya berarti kesadaran ketuhanan secara agama belaka tetapi juga kesadaran terhadap makna apa saja yang melampaui batas kemanusiaan.
Ketiga poin diatas tidak mesti tampil secara hirarkis dan mencolok dalam karya sastra. Ketiganya bisa saja muncul sebagai spirit atau nilai yang erengkuh para pembaca untuk mengalami perubahan kesadaran dari yang semula jorok dan buram menjadi bersih dan terpuji.
 

Karya

  • Khutbah di atas Bukit (1976), merupakan karya sastra transendensi non teistik.
  •  Suluk Awang Uwung (1975), karya sastra transendensi teistik Jawa Islam
  •   Makrifat daun dan makrifat
  • Identitas Politik Umat Islam (1997), buku ini merupakan kumpulan tulisannya di harian Republika yang ia buat ketika ia sedang sakit, mendapat serangan virus meningo enchepalitis (infeksi otak). Ia berobsesi bukunya ini bisa menjadi salah satu bekal teoritis (theoritical weapon) sehingga menjadi masyarakat yang kritis. Bukan hanya mayoritas yang bungkam (silent majority) tetapi mayoritas yang kritis, bukan obyek tetapi subyek.
  •  Metodologi sejarah ( 1993)
  •   Pengantar ilmu Sejarah ( 1995)
  •  Paradigma Islam: Interpretasi Untuk Aksi (1991)
  •     Muslim Tanpa Masjid: Esai-esai Agama, Budaya dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental (2001)
  •   Burung Kecil Bersarang di atas Pohon, sebuah cerpen, yang menceritakan 2 tokoh beda usia (kakek dan anak keci yang polos). Sai kakek mengalami pencerahan batin yang luar biasa melalui sikap santun anak kecil yang mencegatnya di sebuah lorong setapak yang menuju mesjid.

(Referensi: Harian Republika dan berbagai sumber internet)

 

 

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda