ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Penyair & Budayawan > Ahmad Thahari

 
 
 
 
 
 
 
 

Ahmad Thahari

 
AHMAD THAHARI (1942-    M)
 
      Salah seorang sastrawan Indonesia (novelis dan kolumnis), ia juga pernah menjadi redaktur majalah Amanah, dan penerima South East Asia Write Award (1995).
     Lahir di desa Tinggarjaya, Banyumas, pada 13 Juni 1942 M. Ia tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren, karena ayahnya adalah seorang kiai. Ia sangat akrab dengan kitab kuning, dan berbagai ritus keagamaan, yang akhirnya sangat mempengaruhi pola pikir dan perilakunya. Sekolah dasar dan menengah di Purwokerto. Ia juga sempat kuliah di fakultas kedokteran Universitas Ibn Khaldun, Fakultas ekonomi Unsud, fisipol UGM, masing-masing hanya satu tahun.
     Ia sejak sekolah menengah atas sudah mempuyai hobi menulis. Dalam dunia jurnalistik, ia pernah menjadi redaktur harian Merdeka (1979-1981), redaktur majalah amanah (1986-1993). Pengalaman internationalnya, ia pernah mengikuti international writing program IOWA (1969).
      Meskipun profesi ini menjanjiak secara ekonomi, tetapi ia lebih memeilih menekuni dunia kepengarangan. Ia berkata:” Dengan mengarang saya justru merasa kaya karena mampu memberi sesuatu kepada masyarakat luas. Saya merasa hadir, eksis, terekam dalam lembaran sejarah.”
     Ia juga memilih tinggal di desanya yang sepi dan damai daripada tinggal di Jakarta, seperti sastrawansastrawan ternama lainnya.
 
Pemikiran
   Setiap ciptaan Allah mengandung keindahan yang sempurna, semua makhluk berpeluang memandangnya dari banyak sudut dan kacamata. Menurutnya pengarang dan sastrawan mempunyai cara sendiri dalam memandang keagungan maha karya itu.
     Baginya ayatayat alam yang bertebaran itu merangsang imajinasinya melakukan karya-karya sastra yang bermutu tinggi. Setelah lama mencari, akhirnya  ia menemukan alamat Allah ditempat makhluk yang diberiu hak mewakili kasih sayang-Nya, seperti orang kelaparan, miskin dan teraniaya, tersisih secara politik dan sakit batin maupun lahirnya. Di alamt itulah ia menemukan tempat untuk melampiaskan kerinduan kepada Allah, sehingga ia memilih tinggal di desa / dikampungnya. Di desa ia lebih mudah akrab dengan problematika orang sakit dan berdialog dengan simponi dzikir yang disuarakan binatang, tumbuhan, batu, semut sera permasalahan kemanusiaan secara umum.
 
Karya
Dalam bentuk novel,
  • Ronggeng Dukuh Paruk (1982)
  •   Lintang Kemukus Dinihari (1984)
  •    Jantera Bianglala (1985), ketiga novel diatas telah diterjemahkan ke dalam 5 bahasa dunia. Dan dari ketiga novel tersebut, ia mengajak pembaca untuk melihat problematika pelecehan dan penindasan wanita.
  •   Kubah (1981), karyanya ini menerima penghargaan yayasan buku utama (1981)
  •  Bekisar Merah (1992), telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman.
  •    Lingkar Tanah Lingkar Air (1994). Dalam buku ini, antara lain ia menginginkan pembaca mencermati penindasan politik terhadap orang-orang yang terlibat DI / TII. Ia ingin mendudukan permasalahan itu secara obyektif. Ia tak ingin kesalahan swejarah itu hanya ditumpahkan kepada umat Islam.
  •   Bekisar Merah 2, Cerita ini mengambil setting awal orde baru, yang bermaksud untuk menyelamatkan sejarah, karena selama ini sejarah selalu berpihak kepada penguasa.
Kumpulan cerpen
  •   Senyum Karyamin
Kumpulan Kolom
  • Berhala Kontemporer
  •  Mas mantri Menjenguk Tuhan
  •  Mas Mantri gugat
  •    Kamus Dialek Banyumas Indonesia.
  •  

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda