ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Penguasa > Sultan Ageung Tirtayasa

 
 
 
 
 
 
 
 

Sultan Ageung Tirtayasa

 
SULTAN AGENG TIRTAYASA (mp. 1651-1680 M)
 
     Penguasa kesultanan Banten ke-5, yang terkenal, menggantikan kakeknya, Sultan Abul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir.  Pada masanya kesultanan Banten mencapai puncak kejayaannya.
      Nama: pangeran Surya, dan mendapat gelar Sultan 'Abulfath Abdulfattah dari kekhalifahan Mekah, tetapi kemudian terkenal dengan nama Sultan Ageng Tirtayasa. Ia merupakan putra Pangeran Pekik (Sultan Abul Ma’ali Ahmad) yang meninggal pada peristiwa Pagarage pada tahun 1650 M. Dan ibunya bernama Ratu Marta Kusumah, putrid pangeran Jayakarta.
 Penobatan Pangeran Surya terjadi pada tanggal 10 Maret 1651. Untuk memperlancar roda pemerintahan, sultan mengangkat beberapa orang untuk membantu dirinya. Jabatan Patih Mangkubumi: Pangeran Mandura dengan wakilnya Tubagus Wiraatmaja, Sebagai Kadhi atau Hakim Agung Negara diserahkan kepada Pangeran JayaSentika.
. Pada masanya kesultanan Banten mencapai puncak kejayaannya. Saat itu pelabuhan Banten telah menjadi pelabuhan international sehingga perekonomian Banten nmaju pesat. Wilayah kekuasaanya meliputi sisa kerajaan Sunda yang tidak direbut oleh kesultanan Mataram, dan wilayah Lampung, Bangka, Solebar, Indragiri. Dan lainnya.
    Pada masanya pembangunan dan kemakmuran rakyat mencapai puncaknya. Ia membuat sungai disekeliling benteng, Irigasi diperbaiki dan diperluas jangkauannya, Sehingga areal sawah mendapat pengairan dengan baik. Daerah yang tadinya kesulitan air menjadi subur. Padi dan tanaman produksi lainnya sangat menunjang kemakmuran rakyat Banten. Produksi Merica mecapai 3.375.000 pon pada tahun 1680-1780.
   Sultan tidak menyetujui pendudukan kompeti belanda di bekas wilayahnya, Batavia. Untuk memperkuat pertahanan (terutama dari serbuan Belanda di Batavia), sultan memperkuat pasukanya di Tangerang yang telah menjadi benteng pertahanan terdepan dalam menghadapi serangan Belanda. Dari tangerang ini pulalah pada tahun 1652 Banten menyerbu Batavia. Pada tahun 1656 pasukan Banten yang bermarkas di Angke dan Tangerang melakukan gerilya besar-besaran. Perusakan dan sabotase yang dilakukan para prajurit Banten banyak merugikan pihak Kompeni.
      Pada tanggal 29 April 1658 datang utusan Belanda ke Banten membawa surat dari Gubernur Jendral Kompeni yang berisi rancangan perjanjian perdamaian, tetapi sultan tidak menyetujuinya karena melihat kecurangan dibalik naskah tersebut. Oleh karenanya pada tanggal 4 Mei 1658 Sultan mengirimkan utusan ke Batavia untuk melakukan perubahan perjanjian. Namun perubahan dari Sultan di tolak oleh Belanda. Kompeni hanya menginginkan Banten membeli rempah-rempah dari Belanda dan itupun harus ditambah pajak. Maka pada tanggal 11 Mei 1658 Sultan mengirim surat balasan yang menyatakan bahwa tidak ada kemungkinan perdamaian antara kompeni dan banten.Maka terjadilah perang hebat di darat dan di laut. Pertempuran ini berlangsung tanpa henti sejak bulan Juli 1658 hingga tanggal 10 juli 1659.
    Untuk mengontrol pasukannya di Tanggerang dan Batavia maka sultan membuat istana di Tirtayasa, sebagai pusat control dan sebagai tempat peristirahatan, disamping penghubung antara Istana di Surosowan dengan Benteng pertahanan di Tangerang. Karena itu sultan kemudian lebih dikenal dengan nama Sultan ageng Titrayasa.
    Tidak hanya itu, sultan membuat infrastuktur untuk mempermudah jalur dari ibukota surosowan, ke tanggerang dan Batavia. Disamping jalan darat yang sudah ada, juga dibuat jalan laut yang menghubungkan Surosowan-Tirtayasa-Tangerang. Maka dibuatlah saluran tembus dari Pontang-Tanara-Sungai Untung Jawa menyusuri jalan darat - melalaui sungai CIkande sampai pantai Pasiliyan. Saluran ini dibuat cukup besar, hingga mampu dilewati kapal perang ukuran sedang. Saluran ini dibuat dari tahun 1660 hingga sekitar tahun 1678. Selain di Tirtayasa Sultan pun berusaha menyempurnakan dan memperbaiki keadaan didalam ibukota kerajaan. Dengan bantuan beberapa ahli bangunan dari Portugis dan Belanda yang sudah masuk Islam, diantaranya adalah Hendrik Lucasz Cardeel kemudian dikenal dengan Pangeran Wiraguna diperbaikilah bangunan istana Surosowan. Benteng istana diperkuat dengan diberi Bastion, disetiap penjuru dan dilengkapi dengan 66 buah meriam yang diarahkan ke segala penjuru.

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda