ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Penda'wah & Tokoh Islam Awal > Cakrabuana, Pangeran

 
 
 
 
 
 
 
 

Cakrabuana, Pangeran

 
CAKRABUANA, Pangeran (abad 15 M)
 
   Merupakan salah seorang tokoh utama dalam pengislaman di tanah sunda/ pasundan, selain Syarif Hidayatullah dan Kiansantang. Ketiganya merupakan keturunan Prabu Jaya Dewata atau Sribaduga Maha Raja,.
   Pangeran cakrabuana atau terkenal dengan nama pangeran walangsungsang merupakan putra dari Sri Baduga Maharaja, raja pajajaran terbesar, dari ibu Nyi Subang Larang, seorang puteri Ki Gede Tapa, penguasa Syah Bandar Karawang.yang sudah masuk Islam. Ayahnya, mengawini ibunya, ketika masih menjadi pangeran dengan nama pangeran pamanah rasa, yang waktu itu menjadi rajamuda di Sindangkasih (Majalengka), salah satu wilayah kekuasaan kerajaan Galuh Surawisesa (kawali-Ciamis) yang diperintah oleh ayahnya Prabu Dewa Niskala. Dari Nyi Subang Larang, sribaduga maharaja mempunyai 3 anak, yaitu cakrabuana, nyi lara santang (ibu dari Syarif Hidayatullah), dan kiansantang (raden sangara).
    Karena lingkungan istana masih beraagama hindu, kemudian pangeran cakrabuana meninggalkan istana untuk belajar agama islam. Dengan nama samara Ki Samadullah, ia pertama kali belajar kepada Syeikh Nurjati di pesisir laut utara Cirebon. Setelah itu ia bersama adiknya, Lara Santang berguru kepada Syeikh Datuk Kahfi (Syeikh Idhopi), yang juga merupakan bekas guru ibunya, Nyi subanglarang.
      Selain berguru agama Islam, Cakrabuana bersama Ki Gedeng Alang Alang membuka pemukinan baru bagi orang-orang yang beragama Islam di daerah pesisir. Pemukiman baru itu dimulai tahun 1367 Saka /  849 H/  1445 M. Kemudian daerah pemukiman baru itu diberi nama Cirebon. Penamaan ini diambil dari kata atau bahasa Sunda, dari kata cai (air) dan rebon (anak udang, udang kecil, hurang), karena waktu itu mata pencaharian penduduk adalah menangkap udang. Dan yang menjadi kuwu (kepala desa) adalah Ki Gedeng Alang Alang, sedangkan pangeran Cakrabuana. Setelah beberapa tahun semenjak dibuka, pemukian baru itu (pesisir Cirebon) telah menjadi kawasan paling ramai dikunjungi oleh berbagai suku bangsa. Tahun 1447 M, jumlah penduduk pesisir Cirebon berjumlah 348 jiwa, terdiri dari berabagai suku bangsa.
     Setelah mendirikan pemukiman, pangeran Cakrabuana dan  Lara Santang pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima. Ketika di Mekah, Pangeran Cakrabuana dan  Lara Santang bertemu dengan Syarif Abdullah, bangsawan Mesir, yang kemudian menikahi Lara santang. Setelah berhaji pangeran cakrabuana mendapat gelar Haji Abdullah Iman, dan Lara Santang mendapat gelar Hajjah Syarifah Muda’im.  
   Setelah kembali ke Cirebon pangeran cakrabuana diangkat menjadi penguasa Cirebon oleh ayahnya, menjadi raja Agung Pakungwati Cirebon dengan gelar Abhiseka Sri Magana. Dan ia membangun keraton yang diberi nama keraton pakungwati. Untuk kepentingan ibadah dan pengajaran agama Islam, pangeran Cakrabuana kemudian ia mendirikan masjid yang diberi nama Sang Tajug Jalagrahan (Jala artinya air; graham artinya rumah), Mesjid ini merupakan mesjid pertama di tatar Sunda dan didirikan di pesisir laut Cirebon. Mesjid ini sampai saat ini masih terpelihara dengan nama dialek Cirebon menjadi mesjid Pejalagrahan. 

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda