ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Pemikir Muslim Klasik > Nuruddin ar Raniry

 
 
 
 
 
 
 
 

Nuruddin ar Raniry

 
NURUDDIN AR RANIRY (1600-1658 M)
Ahli fiqih
 
     Seorang ulama besar penentang wihdatul wujud di Aceh, ia berusaha membersihkan pengamalan tasauf dari ajaran pantheisme yang dipandang menyimpang dari ajaran Islam.
     Nama Syekh Nuruddin Bin Ali Bin Hasanji Bin Muhammad Humaid Ar Raniry. Ia dilahirkan di Ranir (Rander), suatu bandar yang tidak jauh dari Surat, Gujarat, India. Tahun kelahirannya tidak diketahui, tetapi diperkirakan hidup antara tahun 1600 sampai 1658 M. Ia merupakan keturunan dari Quraisy dari bani Humaid, yang bermukim di Hadlaramaut yang bernama Hasan.
     Ar Raniry sangat fasih bercakap dan menulis dalam bahasa Melayu, dan tinggal di Aceh dari tahun 1637-1644 M. Pada mulanya ia mempelajari ilmu-ilmu keagamaan di Ranir.Untuk menambah ilmunya ia kemudian merantau ke negeri-negeri Arab, diantaranya: Handlaramaut, Mekah dan Madinah. Di tanah Arab ia pernah berguru kepada Abu Hafas Saiyid Umar Ibn Abdullah Bin Syaiban dari Terim. Selama di Ranir dan di Arab ia juga mempelajari bahasa melayu, yang waktu itu sangat penting sebagai bahasa penghubung di kepulauan nusantara, sehingga ketika ia berhijrah ke tanah Melayu dan Aceh ia sudah pasih berbahasa Melayu.
    Pada tahun 1618 M, merantau ke Aceh Darusalam yang waktu itu menjadi pusat ilmu dan pusat perdagangan. Dan tempat yang pertama kali ia singgahi adalah Semenanjung Malaya, waktu itu berada dalam kekuasaan Aceh Darusalam. Ia lama bermukim di Malaka dan Pahang, kemudian tahun 1630 ia pindah ke Aceh, pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M).
     Di Aceh Darusalam ini ia dipercaya untuk mengajari anak-anak raja, diantaranya puteri Safiah (yang kemudian menjadi Sultanah Safiatudin), dan putera Husein Bin Sultan Ahmad dari tanah Melayu (kemudian ia menjadi menantu Iskandar Muda (suami puteri Safiah) dan menjadi pengganti sultan Iskandar Muda dengan Gelar Iskandar Sani). Disamping itu ia juga menjadi guru besar pada lembaga pendidikan Baitur Rahman.
     Ar Raniry meninggalkan Aceh pada penghujung pemerintahan Iskandar Muda. Diperkirakan kepergiannya karena perbedaan dengan Syamsuddin Sumatrani tentang wihdatul wujud, karena ia termasuk yang gigih menentangnya, dan ia sangat berambisi menduduki Qadli Malikul Adil.
     Setahun setelah meninggal Sultan Iskandar Muda, ia kembali ke Aceh Darussalam , yang pada waktu itu diperintah oleh bekas muridnya Sultan Iskandar Sani (menantu Iskandar Muda). Ar Raniry sampai di Aceh tanggal 6 Muharram 1047 H / 31 Mei 1637 M, dan ia diangkat menjadi Qadli Malikul Adil yang 1 tahun kosong setelah Syamsuddin Sumatrani meninggal dunia pada akhir pemerintahan Iskandar Muda. Setelah Iskandar Sani meninggal, dan digantikan dengan istrinya Sultanah Safiatuddin (1050-1086 H /1641-1675 M), ia tetap dipercaya menjadi Qadli Malikul Adil / Mufti besar kerajaan, disamping menjadi guru besar Baiturrahman.
     Dengan naiknya Iskandar Tsani dan juga Sultanah Safiatuddin, Ar Raniry mendapat dukungan, sehingga ia bisa bertindak keras dengan dukungan sultan terhadap pendukung wihdatul wujud. Banyak buku Hamzah Fansury dan Syamsuddin Pase yang dirusak dan dibakar, dan para pengikutnya dikejar-kejar, sehingga menimbulkan peperangan saudara yang melumpuhkan Aceh. Mulai saat itulah dapat dikatakan tamatlah riwayat paham wihdatul wujud / pantheisme dikalangan tasauf dayah (pesantren) dari bumi Sumatra.
     Pada tahun 1068 H / 1657 M, ia meninggalkan Aceh dan kembali ke tanah airnya. Dan ia meninggal di daerahnya pada tanggal 22 Julhizah 1069 H (21 Sept 1658 M).
     Karangannya banyak sekali, baik dalam bahasa Arab maupun Bahasa Melayu.
 
Karya
·         Ash Shiratul Mustaqim, kitab tentang fiqih.
·         Duraru Faraidh Bi Syarhil Aqaid, membahas masalah falsafah tauhid.
·         Bustanul Salatin Fi Zikril Auwalin Akhirin, sebuah kitab tentang sejarah, menceritakan riwayat kerajaan sebelum Islam dan sesudah, kerajaan islam melayu, termasuk Aceh Darus Salam.
·         Akhbarul Akhirah Fi Auwali Yaumil Qiyamah, membahas masalah hari bangkit.
·         Hidayatul Habib Fit Targhib Wat Tarhib, menguraikan masalah tasauf / akhlaq.
·         At Tibyan Fi Ma’rifatil Adyan, menguraikan hal ihwal aliran keagamaan.
·         Asrarul Insan Fi Ma’rifatir Ruhi Wa Rahman, membahas ruh dan ketuhanan.
·         Lathaiful Asrar, membahas rahasia-rahasia alam.
·         Nubzah Fi Da’wazil Ma’a Shahibih.
·         Ma Ul Hayati Li Ahlil Mamati, membahas masalah hidup dan mati.
·         Hilluz Zil
·         Syifa Ul Qulub, membahas masalah tasauf dan akhlak
·         Umdatul I’tiqat, menguraikan masalah kepercayaan.
·         Jawahitul Ulum Fi Kasyfil Ma’lum, membahas filsafat ketuhanan.
·         Bad’u Khalqis Samawati Wal Ardli, membahas masalah langit dan bumi.
·         Hujjatuah Shiddiq Li Daf’iz Zindiq, membahas kesalahan kaum zindiq. Dalam kitab ini Ar raniry berusaha menafsirkan ajaran martabat 7 ke arah yang lebih ortodox dan mencela penafsiran Syamsuddin dan Hamzah Fansury sebagai paham wujudiyah / pantheisme yang sesat (zindik dan bid’ah). Dan dalam ajaran ini ia menerangkan ajaran isnaiyatul wujud.
·         Fathu’l Mubin ‘Alal Mulihiddin, kitab yang membantah pendapat kaum mulhid (atheis). Dalam kitab ini ia menceritakan perdebatannya dengan ulama-ulama pengikut Hamzah Fansury dan Syamsuddin Pase. Ia menceritakan sepihak tentang kerusuhan di Aceh.
·         Al Lam’u Fi Tafkiri Man Qala Bi Khalqil Qur’an , kitab yang menolak paham yang mengatakan Al Qur’an adalah makhluk.
·         Tambihul Awamili Fi Tahqiqil Kalami Fi Nawafil.
·         Shawarinush Shadiq Li Qath’iz Zindiq, kitab yang menolak paham zindiq.
·         Rahiqul Muhammadiyah Fi Thariqish Shufiyah, membahas hal ihwal tasauf.
·         Kissah Iskandar Zulkarnain
·         Hikayat Raja Badar, syair yang menceritakan perang badar.
·         Babun Nikah, membahas masalah perkawinan.
·         Saqyur Rasul, kitab tentang nabi Muhammad.
·         Mu’aammadul I’tiqad, membahas kepercayaan.
·         Hidayatul Mubtadi Bi Fadllilahil Muhdi, kitab yang memberi tuntunan kepada manusia.
·         Ar Risalah Min Aqaidish Shufiyah Wal Muwahidin Min Ahlis Sunnah Wal jama’ah, Dalam kitabnya ini Ar Raniry menjelaskan bahwa kaum wujudiyah yang dianggapnya mulhid (atheis) lagi sesat telah berkembang di Aceh sehingga ia merasa perlu mengarang kitab ini, sebagai bantahan kitab yang di karang Syamsuddin Pase dalam bahasa Arab yang bernama “ Al Muwahiddin Wal Muldin”.

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda