ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Pemikir Muslim Klasik > Hamzah Fansury

 
 
 
 
 
 
 
 

Hamzah Fansury

 
HAMZAH FANSURY ( w. 1607-1610 M)
Ahli Tasauf, Pujangga (Penyair Sufi)
 
     Ulama dan pujangga terkemuka dari Aceh Darussalam di abad 17 M. Ia adalah penyair sufi yang tiada bandingnya di tanah nusantara. Ia juga merupakan perintis tradisi sastra tulis bahasa Melayu.
     Tentang tempat dan tanggal kelahirannya belum diketahui pasti, tetapi diperkirakan di Pansur Barus, dan ada juga yang berpendapat di Fansur Singkel, dan diperkirakan hidup antara pertengahan abad 16 M dan perempat awal abad 17 M.
      Fansur adalah suatu kampung dekat dengan kota Singkel (Aceh). Pada masa itu Fansur sangat terkenal sebagai pusat ilmu di bagian Aceh Selatan. Disana banyak lahir ulama-ulama kenamaan. Dan ketika Barus menjadi bagian Aceh, maka sebagian dari mereka pindah ke Barus, dan daerah tempat mereka menetap dan mengajar di Barus kemudian terkenal dengan nama Fansur. Ayah Hamzah Fansuri adalah seorang ulama yang ikut pindah dari Fansur Singkel ke Fansur Barus, untuk mengajar. Dengan demikian Hamzah diperkirakan lahir di Fansur, Barus
    Hamzah Fansury hidup pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Riayat Syah IV (Saiyid Al Mukammil), yang memerintah tahun 997-1011 H / 1589-1604 M, sampai permulaan Sultan Iskandar Muda, yang memerintah tahun 1016-1045 H / 1607-1636 M dalam kesultanan Aceh Darussalam.
     Hamzah adalah orang yang haus akan ilmu, sehingga banyak mengembara. Ia belajar di berbagai tempat dalam pengembaraannya: Malaya, India, Persia, Arab,Siam, Jawa dan lainnya, sehingga dikemudian hari sangat alim dalam ilmu fiqih, tasauf, manthiq, sejarah, filsafat dan sastra. Ia juga menguasai banyak bahasa: Arab, Persia, Jawa, Melayu, Aceh, Siam, dan Urdu.
     Sekembalinya dari pengembaraan mencari ilmu, ia mula-mula mengajar di Barus melanjutkan profesi ayahnya (juga seorang ulama besar), kemudian ia ke Banda Aceh, dan terakhir ia mendirikan Dayah (madrasah) di daerah tempat lahirnya, dekat Rundeng (Singkel). Ia meninggal di daerah itu sekitar tahun 1607-1610 M (awal pemerintahan Iskandar Muda).
    Ia mendapat tantangan dari ulama besar, Ar Raniry, ulama besar asal ranir, India, (yang mendapat dukungan dari Sultan Iskandar Tsani dan sultan-sultan wanita berikutnya) karena ajarannya dipandang menyimpang. Buku-bukunya diperintahkan untuk di bakar, dan pengikutnya di kejar-kejar dan dibunuh.
     Hamzah Fansury mempunyai karangan yang banyak sekali dalam masalah keagamaan dan juga sastra dalam berbagai bahasa: Arab, Melayu, Aceh, Urdu, dan Persi. Tetapi naskahnya banyak yang hilang / musnah akibat pembakaran dan pemusnahan umum pada masa pemerintahan Ratu Tajul Alam Safiatuddin atas perintah Ar Raniry. Dan hanya sedikit yang dapat diselamatkan. Pemikiran Hamzah Fansury kemudian dilanjutkan dan dikembangkan oleh muridnya yang terkenal Syamsuddin Sumatraniy atau Syamsudin Pase.
   
Pribadi, Peran, Pemikiran dan Pengaruhnya
    Dalam filsafat tasaufnya ia menganut paham wihdatul Wujud dan menjadi pengikut tharikat Qodiriyyah. Ia sangat terpengaruh oleh ajaran fisafat Ibnu Araby, Al Hallaj, Al Bustami, Al Maghribi, dan lain-lain.
     Menurut para ahli ia adalah perintis tradisi sastra tulis dalam bahasa Melayu, karena berkat dialah bahasa Melayu terangkat menjadi bahasa sastra dan intelektual yang bernilai tinggi. Jadi dialah bapak bahasa dan sastra melayu yang sebenarnya. Dan dialah pencipta syair dan pantun untuk pertama kalinya. Pengaruhnya juga sangat luar biasa dalam sastra Melayu, termasuk penyair-penyair pujangga baru di Indonesia (seperti sanusi pane dan Amir Hamzah).
    Ajaran-ajaran tasaufnya bukan hanya berpengaruh di Sumatra tetapi Jawa, Sulawesi, Sumbawa dan lain-lain. Tetapi karya-karyanya banyak yang hilang akibat pembakaran yang dilakukan oleh ulama yang kontra peradaban, Nuruddin Ar Raniry.
 
Karya
  • Asraarul Arifin Fi Bayani Ilmi Al Suluk Wat Tauhid, suatu kitab yang membahas masalah-masalah ilmu tauhid dan ilmu suluk. Dalam kitab ini tersimpul ajaran-ajaran dan pandangannya dalam filsafat dan ketuhanan, yang terdiri dari 15 rangkuman sajak yang kemudian ia sarahkan kembali dengan panjang lebar.
  •   Syarabul Asyikin, yang membicarakan masalah-masalah tharikaqat, syaria’at hakikat dan ma’rifat.
  •    Al Muntahi, membicarakan masalah ilmu tauhid dan ilmu suluk, dengan mengutip banyak hadit dan pendapat ulama yang menguatkannya.
  •    Ruba’I Hamzah Fansury, Syair burung unggas.

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda