ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Pemikir Muslim Klasik > Bukhari al Jauhary

 
 
 
 
 
 
 
 

Bukhari al Jauhary

 

BUKHARI AL JAUHARY (Abad 17 M)
Penulis kitab etika
   
     Seorang ulama besar dan penulis kitab etika asal Aceh Darussalam pada abad ke 17 M. Ia merupakan penulis karya etika yang terkenal yaitu s Kitab Taj Al Salatin. Kitab ini ditulis tahun 1603 M, merupakan karya adab dalam khazanah sastra Melayu Klasik. Buku ini juga dianggap merupakan buku pertama tentang pemerintahan dalam sejarah kesusastraan Melayu, yang memandang politik sebagai bagian inheren dari agama. Karyanya ini memiliki kedudukan sentral dalam proses pembentukan tradisi politik dunia Melayu.
      Kitab Taj As Salatin ini tidak hanya dijadikan pegangan raja-raja Melayu, tetapi juga oleh raja-raja Jawa, sampai abad ke -19 M. Kitab ini ini masih diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Pangeran Dipenogoro sangat menyukai kitab ini, begitu juga Mangkunegara IV dan menjadikannya rujukan dalam menulis kitab Wedatama.
    Mengenai riwayat hidupnya tak pernah terungkap hingga kini dan menurut para ahli nama Bukhary adalah nama samaran belaka. Tetapi ada yang mengatakan bahwa nama Bukhary merujuk pada tempat ia berasal, yaitu Bukhara di asia tengah. Sedang nama Aljauhary merujuk pada tempat dimana ia dilahirkan, yaitu Johor (malayasia sekarang),atau asal-usul orangtuanya sebagai sudagar batu permata.
    Karya terbesarnya Taj As Salatin ini banyak dipengaruhi oleh karya Adab Bercorak Sufistik dari Sa’di (w. 1292 M) yaitu Bustan dan Gulistan
 
Pemikiran
     Dalam karyanya Taj al salatin, ia menekankan tentang pentingnya ajaran Islam dalam praktek-praktek politik raja, keharusan menjadikan ajaran Islam sebagai satu landasan perilaku politik penguasa di kerajaan yang dirumuskan dalam konsep adil. Taj as salatin ini menghadirkan suatu corak pemikiran politik yang akrab dengan term-term Islam, yang memiliki pemaknaan berbeda dari sejumlah teks Melayu lain, yang hadir sebagai nasehat untuk para elit kerajaan.
     Dalam buku ini diceritakan tentang kisah nabi dan khalifah dalam sejarah Islam. Perhatian utamanya adalah memberikan nasehat moral dan bimbingan dalam rangka membangun suatu kerajaan yang ideal.
    Menurutnya pekerjaan nubuwah (kenabian) dan hukumah (pemimpin kerajan) umpama seperti satu cincin dengan 2 permata yang besar harga keduanya. Jadi ia memandang politik sebagai bagian inheren  dari agama. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan dari tugas penguasa kerajaan.
     Baginya kekuasaan politik bersifat ilahiyah. Tuhan adalah pusat kekuasaan raja, dan selanjutnya kedaulatan sebuah kerajaan. Oleh karena itu prinsip-prinsip ajaran Islam menjadi suatu keharusan untuk dilaksanakan dalam tugas-tugas politik di kerajaan. Dan inilah yang menjadi tekanannya. Menurutnya eksistensi suatu kerajaan, daulah, bukan sesuatu untuk dipertanyakan. Permasalahannya bagaimana daulat dijalankan sehingga bisa mencapai suatu kerajaan ideal.
    Dalam kaitan inilah, ia mengetengahkan konsep adil sebagai satu syarat bagi tegaknya daulah (negara). Adil menjadi suatu kualifikasi paling mendasar dari raja (penguasa) ideal. Ia mendefinisikan adil sebagai satu kondisi dimana segala perkataan dan segala perbuatan dan kehendak dari pada ihsan itu kebajikan juga dalam keduanya.
    Konsep adil ini tampak sedemikian sentral dalam rumusannya tentang raja ideal. Selanjutnya ia kemudian merinci adil ke dalam sejumlah perilaku yang mengindikasikan kondisi kesempurnaan agama dan politik, antara lain: bersahabat dengan ulama, mencari kebenaran berdasarkan agama, memiliki perhatian atas kondisi rakyat dan melindungi mereka dari kejahatan, menegakan kebajikan dan mencegah kemungkaran, dan lain-lain seperti yang dilakukan oleh para nabi dan wali.
    Sejalan dengan itu, ia juga mensyaratkan seorang raja (penguasa) untuk berbudi (ulil albab) dan berakal, sehingga dengannya bisa membedakan antara perbuatan baik dan jahat, bahagia dan celaka dan selanjutnya keadaan adil dan tidak adil.” … Maka nyatalah tiada dapat tiada akan segala raja raja itu dari pada budi itu jua ….” Karena raja (penguasa) itu hendaklah mengerti perkataan segala orang supaya dapat ia menghukumkan antara semuanya itu dengan kebenaran.
    Dari itu semua, dalam karyanya ini, ia berusaha menjadikan kekuasan raja berada dalam koridor agama. Dan konsep adil menjadi ukuran untuk menentukan kualifikasi raja ideal.
     Seperti dalam sejarah Aceh Darussalam, setelah Sultan Iskandar Tsani meninggal, Aceh darussalam dipimpin oleh beberapa raja wanita. Dalam buku ini ia tidak menolak tentang kepemimpinan wanita, lebih-lebih jika terpaksa. Tetapi ia mengingatkan bahwa fitnah akan lebih mudah apabila sebuah kerajaan/ negara dipimpin oleh wanita.   
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda