ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Pejuang > Yusuf Al Makasari, Syekh

 
 
 
 
 
 
 
 

Yusuf Al Makasari, Syekh

 
YUSUF AL MAKASARY, SYAIKH (1036-1111 H /1626-1699 M)
Sufi
 
     Seorang ulama dan pejuang besar asal Makasar (Indonesia) dan menjadi peletak dasar keberadaan Islam di Afrika Selatan. Ia dilahirkan di Goa, lama belajar di Mekah, mengakar dan memimpin perjuangan melawan Belanda di Banten, kemudian diasingkan ke Srilangka dan terakhir ke Afrika Selatan.
     Nama Muhammad Yusuf, setelah usia tua ia terkenal dengan nama Syekh Yusuf Abu’l Mahasin Hadiyatullah Al Khalwati Al Makasary. Lahir di Moncong Loe, Goa, Sulawesi Selatan, dan masih keturunan dari raja Goa. Ia sejak kecil telah dididik ilmu keagamaan yang ketat.
    Pada tanggal 22 September 1645 (usia 19 tahun), ia meninggalkan tanah kelahirannya menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji dan menimba ilmu, dengan menumpang kapal Portugis. Sebelum ke Mekah ia singgah dulu di banten, persinggahan ini menjadi tahap menentukan dalam kehidupannya di kemudian hari. Di banten ia berkenalan dengan putra mahkota kesultanan Banten, yang bernama Pangeran Surya. Dari Banten ia melanjutkan perjalanan dan singgah di Aceh Darusalam. Di Aceh ia berkenalan dan juga berguru kepada Syekh Nuruddin Ar Raniry, seorang ulama besar Aceh dan mufti kerajaan Aceh Darusalam. Setelah itu kemudian ia melanjutkan perjalanan dan singgah di Yaman. Di Yaman ia belajar kepada Syaikh Abi Abdullah Muhammad Abdul Baqi dan Syaikh Maulana Sayed Ali. Setelah itu ia kemudian menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Usai haji ia pergi ke Madinah dan belajar kepada Syekh Ibrahim Hasan (yang juga merupakan guru Abdurauf as Singkili, ulama besar dari Aceh darusalam). Tak puas juga, kemudian ia menuju Damaskus, Syiria, dan disini berguru kepada Syekh Abu al Barakat Ayyub, darinya ia mendapat gelar Tajul Khalwati Hadiyatullah.
     Setelah merasa cukup ilmu (usia 38 tahun), ia kembali ke tanah air, tidak ke Makasar tetapi ke Banten. Disini ia diangkat menjadi mufti dan panglima perang oleh sultan Banten yang ia kenal ketika masih menjadi putra mahkota, pangeran Surya, setelah menjadi sultan bergelar Sultan Ageng Tirtayasa.
     Di Banten ini ia membuka pengajaran. Sebagai pemuka tarekat Khalwatiyah di Nusantara waktu itu, ia terkenal sebagai guru tasauf yang masyhur, sehingga banyak berdatangan orang yang ingin menimba ilmu   darinya, termasuk orang Bugis dan Makasar. Raja Goa, Sultan Ali Karaeng Bisei yang ditawan Belanda di Batavia, ketika ia dibebaskan, bersama 400 orang pengikutnya langsung menemui dan berguru kepada Syekh Yusuf di banten. Gelombang kedatangan orang Makasar bertambah setelah Sultan Hasanuddin dari Makasar kalah oleh Belanda.
    Pada tahun 1680 M terjadi invasi Belanda ke Banten untuk membantu Sultan Haji (putra Sultan Ageng) dalam melawan sultan Ageng Tirtayasa (yang kemudian sultan ageng ini dapat ditawan oleh Belanda). Syekh Yusuf dan Pangeran Purbaya mengadakan perang gerilya melawan Belanda. Ia sempat mendirikan benteng di Aji Karang, Parigi, tetapi dengan tipu muslihat ia kemudian dapat ditangkap dan dipenjarakan di Batavia (1983), tetapi ia dapat melarikan diri beberapa kali, tetapi dapat di tangkap kembali, yang akhirnya di penjara di Castel batavia (1984). Meskipun tersekat oleh tembok tebalnya penjara, Belanda merasa khawatir, karena pengaruh Syekh Yusuf dan kepandaiannya meloloskan diri, sehingga pada 12-09-1684 diasingkan ke Ceylon (Srilangka).
     Di Ceylon (Srilangka) cahaya Islam-nya tidak pernah redup. Ia mengajarkan ilmunya kepada para tahanan diberbagai negara yang mayoritas Budha. Ceylon waktu itu adalah daerah transit jemaah haji dari Nusantara, yang terkenal dengan sebutan orang Jawi. Disini biasanya jemaah haji dari Nusantaara Transit / singgah dipelabuhan Ceylon 1-3 bulan, dan banyak dari mereka yang berguru dan minta ijazah dari Syekh Yusuf. Tidak hanya dari jemaah Nusantara, banyak masyarakat Hindustan yang meminta mereka jadi muridnya.
      Karena begitu terkenalnya Syekh Yusuf di Ceylon, sehingga kaisar Hindustan , Kaisar Aurangzeb Alamghir (mp. 1659-1707 M) pernah berkirim surat kepada wakil Belanda di Ceylon, meminta memperlakukan beliau (Syekh Yusuf) dengan hormat dan layak, sebab ia seorang ulama, karena itu jika terganggu akan menggelisahkan umat Islam Hindustan. Malahan jika kompeni Belanda tidak memperlakukan dengan hormat dan pantas, Kaisar bersedia menyambutnya secara layak dalaam negrinya.
     Peringatan kaisar yang besar itu mencemaskan Belanda, disamping itu perlawanan di tanah air yang meningkat (di banten, Sumatra barat, dan Goa / Makasar) akibat pengaruh Syekh Yusuf. Sehingga Belanda kemudian memindahkan Syekh Yusuf secara diam-diam ke Cape (Tanjung Harapan) Afrika Selatan bersama 49 pengikutnya, kedua istrinya dan 12 putra-putrinya (pada 7- 7-1693 M). Syekh Yusuf mendarat di Afrika Selatan dengan kapal De Voet Boeg, 2 Afril 1964 M. Syekh Yusuf dan rombongannya kemudian ditempatkan di sebuah tanah milik pendeta Domingus Petrus Kalden, Zandvliet pada 14-6 1694. Daerah di Muara sungai Eerste tersebut kemudian dikenal dengan Macassar Downs dan pantai Macassar.
    Keberadaan Syekh Yusuf di Cape ini oleh para sejarawan   dianggap sebagai peletak dasar keberadaan Islam di Afrika Selatan. Di sini ia mendakwahkan Islam   di kalangan kaum pribumi dan budak serta buangan yang sebelumnya sudah berada disana, meskipun ada dalam tekanan Belanda. Maka terbentuklah suatu komunitas muslim yang dikenal dengan sebutan Slammajer, kaum ini tetap tinggal di Cape hingga tahun 1704 M.
    Syekh Yusuf meninggal di Cape pada 23-5-1699 M (dalam usia 75 tahun) setelah 5 tahun tinggal disini. Atas usaha raja Goa, Sultan Abdul jalil, yang sangat menghormati Syekh Yusuf, yang memohon kepada pemerintah Hindia Belanda agar tulang belulang Syekh Yusuf dipindahkan kembali ke negri asalnya (Makasar), dan kemudian dikuburkan kembali tahun 1705 M, di desa Lakiung, Sungguminasa, dekat kota Makasar. Maka sekarang terdapatlah 2 kuburan Syekh Yusuf, yang banyak diziarahi orang, yang satu di Afrika Selatan dan yang satu di Makasar, Sulawesi Selatan.
     Karya tulisnya sekitar 20 buku, hampir semua dalam bahasa Arab, dan buku-bukunya kebanyakan tersimpan di perpustakaan Leiden Belanda.
 
Karya
Yang ditulis di banten,
  • Zubdat Al Asrar Fi Tahqiq Ba’dhi Masyarib Al Akhyar. Kitab ini ia tulis pada tahun 1676 M di Banten, yang berisi kesimpulan beberapa ajaran pokok dalam bidang tasauf. Kitab ini telah diterjemahkan oleh Prof. Nabilah Lubis bekerjasama dengan Fakultas Sastra UI dan Ecole Francaise d’Exreme Orient, dengan judul Menyingkap Intisari Segala Rahasia.
Yang ditulis selama di pembuangan di Srilangka,
  • Al barakat al Sailaniyya (Berkat dari Srilangka)
  • Bidayat Al Mubtadi
  • Al Fawaih al Yusufiyah Fi Bayani Tahqiqi Ash Shufiyah (Kata-kata Syekh Yusuf tentang hakekat sufi)
  • Hasiya dalam kitab Al Anbah fii’rab La ilaha illalah
  • Kaifiyat al Mughni wal Ithbat bil Hadits al Qudsi (bagaimana ucapan dan menetapkannya dengan hadits Qudsi)
  • Mataib al Salikin (Yang dicari oleh para Salik)
  • Al nafhat a Sailaniyya (embusan dari Srilangka)
  • Quratul Ain
  • Sirr al Asrar
  • Sura
  • Taj al Asrar fi Tahqiq Mashrab al Arifin (Makna rahasia dalam hakekat tempat minum orang arif)
  • Fath Kaifiyat al Dzikr (Keterangan bagaimana cara dzikir)
  • Daf al bala (Penolak bala)
  • Hazihi fawaid azima dzikir La Ilaha Ilallallah (faedah dari dzikir La ilaha illallah)
  • Tahsil al Inayah wal hidayah (Hasil pertolongan dan pimpinan)
  • Risalah Ghayat al Ikhtisar wa hidayat al Inzizar ( Risalah tujuan yang singkat dan akhir yangdiharapkan)
  • Tuhfat al Amar fi Fadilat al Dzikir (Hadiyah tentang kemuiaan dzikir)
  • Tuhfat Al Abrar Li Ahl Al Asrar (hadiyah orang-orang taat kepada ahli asrar)
  • Al Wasiyyal al Nija’iba (wasiat rahasia dari kemellaratan yang tersembunyi)
Lain-lain
  • Hablul Wari Li Sa’adat Al Murid
  • Al Futuhat Al Rabbaniyah
  • Safinat As Sailiniyah
  • Tuhfat Al Labib Bi Li Liqai Al habib
  • Taj Al Asrar Fi tahqiq Masyrab Al ‘Arifin Min Ahl Istibsar.

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda