ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Pejuang >  Kiai Maja

 
 
 
 
 
 
 
 

 Kiai Maja

 

KIAI MAJA (1792-1849 M)
 
   Salah seorang penasehat dan panglima perang pasukan pangeran dipenogoro melawan belanda dan natek-anteknya di kraton mataram. Ia juga dikenal sebagai pendiri kampung Jawa tondano yang kemudian terkenal dengan nama Jaton, dan menjadi cikal bakal masuknya islam di Minahasa.
    Nama: Mochammad Muslim Khalifah, dan dikemudian hari ia terkenal dengan nama Kyai Mojo, karena ia memimpin pesantren di daerah Mojo.  Ayahnya bernama Imam Abdul Arif merupakan seorang ulama terkenal pada masa itu di dusun Baderan dan Modjo, (suatu desa perdikan Raja Surakarta untuk ayahnya yang berada dekat Pajang). Ayahnya masih keturunan kerajaan pajang, sedang ibunya,R.A. Mursilah merupakan bibi pangeran dipenogoro karena iamerupakan saudara perempuan Hamengku Buwono III. Kiai Mijo nantinya menikah dengan janda Pangeran Mangkubumi, karena itu pangeran diponogoro menyebutnya paman.
     Ia belajar kepada Kyai Syarifudin di Gading Santren di Klate, setelah itu kepada seorang kiai di Ponorogo. Setelah menunaniakan ibadah haji dan pernah meneetap di mekah untuk beberapa lama, ia kemudian melanjutkan tugas ayahnya memimpin pesantren di daerah Mojo. Di pesanten ini banyak putra-putri yang berasal dari keraton solo belajar.
    Keulamaannya dan ada pertalian darah dengan keraton jogja membuat Pangeran Diponegoro memilih Kyai Modjo sebagai penasehat agamanya sekaligus panglima perangnya. Dekadensi moral di kraton menjadi sebab ia dan saudara-saudaranya (Kyai Khasan Mochammad, Kyai Khasan Besari, dan Kyai Baderan) ikut berjuang dengan pangeran diponogoro melawan belanda dan antek-anteknya di klingkungan kraton.
     Ia tertangkap oleh Belanda pada 17 November 1828, di dusun Kembang Arum, Jawa Tengah. Ia kemudian dibawa ke Batavia, dan selanjutnya diasingkan ke Tondano, suatu daerah dekat danau Tondano di Minahasa Sulawesi Utara, hingga meninggal pada 20 Desember 1849 M pada usia 57 tahun. Yang ikut bersamanya dalam pengasingan, yaitu putranya yang bernama gazali, 5 orang kerabat dekatnya (Tumenggung Reksonegoro Kyai Pulukadang, Tumenggung Zess Pajang, Ilyas Zess, Wiso/Ngiso Pulukadang, dan Kyai Baderan/Kyai Sepuh) serta lebih dari 50 orang pengikut lainnya yang semuanya laki-laki. Istrinya menyusul ke Tondano setahun kemudian.
Kecuali Kyai Modjo, hampir semua pengikutnya menikah dengan wanita Tondano (Tombokan, Walalangi, Tumbelaka, Rumbayan, dan lain-lain) dan dari perkawinan ini lahir beberapa keluarga yang dewasa ini dikenal dengan nama keluarga (marga,fam) antara lain Pulukadang, Modjo, Baderan, Zess, Kyai Demak, Suratinoyo, urhamidin, Djoyosuroto, Sutaruno, Kyai Marjo, dan lain-lain.

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda