ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Intelektual. > Syafi'i Ma'arif

 
 
 
 
 
 
 
 

Syafi'i Ma'arif

 
SYAFI’I MA’ARIF (1935-    M),       
 
     Guru besar sejarah IKIP Yogyakarta dan juga ketua umum Muhammadiyah.  Ia termasuk orang yang sangat berjasa dalam mengembangkan wacana keislaman di Indonesia.
      Nama: Ahmad Syafi’I Ma’arif,  lahir di Sumpur Kudus Sumatra Barat. Ayahnya Makrifah, seorang kepala negeri dengan lebih dari satu istri, karena itu perhatian ayahnya tidak bisa sepenuhnya diberikan kepada Syafi’i. Ibu kandungnya, Fathiyah meninggal dunia ketika ia masih berusia 18   bulan, sehingga ia kemudian   diasuh bibi dan pamannya, Abdul Wahid. Pamannyalah yang mengajari Syafi’I kecil mengaji sehabis maghrib.
     Pamannya seorang petani kecil, yang hanya mampu memberi makan keluarga. Meskipun demikian, Syafi’I tetap minta disekolahkan. Ia sekolah di SR dipagi hari dan sore harinya belajar di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah. Sekolah menengah pertamanya di Lintau, tetapi sebelum lulus ia sudah pindah ke Yogyakarta dan menyelesaikan sekolah menengahnya di Mualimin Muhammadiyah. Kemudian ia meneruskan di fakultas Hukum Universitas Tjokroaminoto, Solo, tetapi sempat terhenti karena kiriman dana tersendat, akibat pecahnya PRRI di Sumatra Barat. Ia kemudian menjadi guru di desa Baturetno, Wonogiri, Jawa Tengah. Gelar sarjananya di fakultas ilmu sejarah IKIP Yogyakarta (1968). Ia juga belajar sejarah di Nothern Illionis University (1973) dan memperoleh master di Ohio State University, AS (1980). Gelar Doktornya, dalam pemikiran Islam didapat dari Universitas Chicago, AS (1983). 
     Karier: Guru besar bidang sejarah di IKIP Yogyakarta, dosen tamu di Universitas Kebangsaan Malayasia (1990-) dan McGill University Canada (1993). Ketika ia menjadi mahasisiwa ia aktif di HMI, GPI dan Muhammadiyah. Dan terakhir ia menjabat sebagai ketua umum Muhammadiyah.
 
Pribadi dan Pemikiran
    Tentang hubungan sejarah dan agama, sejarah menurutnya merupakan laboratorium kemanusiaan. Dengan membaca sejarah, orang bisa berkaca tentang kehidupannya, dan agama menjadi sebuah acuan hidup manusia agar tidak tersesat.
   Sebagai cendikiawan yang consern melihat kemunduran umat Islam, ia tergerak untuk mencoba memformulasikan kembali esensi tauhid dalam konteks perubahan mutakhir. Ia memandang Islam bukan lagi Islam yang sedrhana. Islam sebagai dokrin adalah satu, tetapi sebagai ekspresi kultural sekarang banyak Islam didunia.
     Ia menawarkan agar dalam memahami persoalan umat tidak hanya terjebak padaa pemahaman klasik, artinya, cara berpikir bukan hanya (lagi) dihiasi romantisme masa lalu, fatwa yang mau melestarikan serba klasik tanpa sikap kritis, tapi lebih mengedepankan solusi konprehensif terhadap tuntutan zaman.
    Selain itu tak luput dari sorotannya adalah konsepsi tentang proses pemberdayaan masyarakat. Baginya pemberdayaan masyarakat hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang berdaya secara politik, ekonomi, sosial, iptek dan kultural. Orang yang tidak berdaya tapi memperdayakan masyarakat tidak akan pernah berhasil. Padahal untuk pemberdayaan masyarakat, pembenahan kelembagaa, system dan mekanisme yang efektif untuk mewujudkannya merupakan suatu sine qua non (syarat wajib). Disamping pembenahan kelembagaan dan sumber daya manusia juga harus dilakukan.
    Tentang pengembangan kualitas intelektual, studi Islam yang mengabaikan dimensi intelektual serta terpaku pada dimensi politik akan melahirkan kemandulan dan kebangkrutan intelektual umat pada akhirnya.
    Jika melihat histografis, menurutnya studi Islam yang paling kaya adalah studi Islam klasik yang telah membuahkan karya-karya besar dalam bidang filsafat, sastra, tasauf, fiqih, ushul fiqih, ilmu kalam dan sejarah. Periode produktif ini berlangsung sekitar 6 abad (abad ke-9 sampai dengan abad ke-14 M). Meskipun secara intelektual, periode itu tidaklah suci dari polemik, benturan pendapat dan sengketa teologis.
     Benturan-benturan peradaban yang mengakibatkan adanya demarkasi kultural, boleh jadi akibat lemahnya dalam menginterpretasi wacana-wacana Islam yang kaya yang belum sempat terakomodasi. Hal ini pula yang sempat diasumsikan kemunculan keberagamannya ekspresi kultural, terjadi sebagai suatu konsekwensi logis dari lingkungan sejarah dan geografis yang berbeda memang terbentuk selama berabad-abad. Kenyataan serupa ini harus diakui dan diterima sebagai sesuatu yang alamiyah. Setidaknya konsepsi yang perlu dijaga adalah wajah-wajah yang bervariasi dan kaya tersebut tidak sampai merusak bangunan tauhid dan persaudaraan universal umat Islam. Karenanya entitas mengaktualisasaikan merupakan suatu idealisme pembumian dokrin yang ternyata tidak mudah diwujudkan.
 
Karya
  •  Demokrasi Islam: Potret Perkembangan Islam di Indonesia (1983)
  •  Islam Kenapa Tidak (1984)
  •  Islam dan Masalah Kenegaraan (1986)
  • Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia (1993)
  •  Membumikan Islam (1994)
  •  Reaktualisasi Tauhid yang Kritis (Pustaka pelajar, Yogyakarta, 1997)
  •  Ibnu Khaldun dalam Pandangan Penulis Barat dan Timur
  •  Islam dan Politik Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin.
  • Islam dan politik di Indonesia pada Masa Demokrasi terpimpin 1959-1965 (1998)

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda