ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Intelektual. > Panji Gumilang

 
 
 
 
 
 
 
 

Panji Gumilang

PANJI GUMILANG ( 1946 -       M)
                                      
     Seorang tokoh revolusioner pendidikan di Indonesia, penggagas megaproyek Ma’had Al Zaytun,  suatu lembaga pendidikan terpadu yang menggabungkan tradisionalisme Islam dan kemodernan.  
      Nama Abdussalam Panji Gumuilang, terkenal juga dengan nama Abu Toto. Lahir 30 Juli 1946, di Sembung Anyar, Gresik, Jawa Timur, . Pendidikan agamanya di dapat di Pondok Modern Gontor (lulusan tahun 1958 / 1959 M), kemudian melanjutkan di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia mendapat gelar doctor of Philosopy (Ph.D) dari Senior University International, Kanada, dan menjadi profesor (guru besar) dari Universitas tersebut.
     Pada tahun 1996 ia mendirikan Ma’had Al Zaytun (MAZ) di desa Mekarjaya, Haurgeulis, Indramayu, Jawa barat. Ia mengubah lahan yang tidak begitu produktif menjadi pusat pendidikan Islam dengan konsep futuristik terbesar di Asia Tenggara.
   MAZ dikelola oleh Yayasan Pesantren Indonesia (YPI), diresmikan oleh Presiden Habibie pada tahun 1999 M. P
 
Pemikiran
      Gagasannya melakukan perubahan dalam pendidikan Islam, karena kesadarannya akan problem umat Islam Indonesia khususnya, masih jauh tertinggal dari bangsa-bangsa lain.   Karena itu menurutnya harus ditemukan jalan pintas agar sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang telah maju, namun tetap mempertahankan aqidah Islamiyah. Dan sebagai jawabannya menurutnya adalah wajib mengambil peduli masalah penguasaan pengetahuan dan tekhnologi. Karena itu umat harus meninggalkan ketertinggalan selimut kebodohan dan kemiskinan. Dengan menyitir hadits yang intinya mengambil alih semua khazanah ilmu, karena ilmu adalah warisan Islam yang hilang, maka orang Islam-lah yang paling berhak untuk menguasainya.
     Filosofi pendidikan yang ditawarkan olehnya adalah international education (al tarbiyah al ‘alamiyah). Dengan sikap ini maka tidak akan sulit menghadapi dunia yang jadi satu.   Dengan sikap ini maka anak didik akan mempunyai Al Tafkiir al ‘alami (international thinking) dan tumbuh dalam dirinya solidaritas international (at takaaful al ‘alami). Pendidikan Islami menurutnya harus menjadikan generasi berikutnya generasi yang kuat, kokoh dan tangguh. Mereka tidak boleh menjadi generasi yang lemah yang diingatkan oleh Allah sebagai dhurriyatan dli’afa atau generasi yang lemah, mereka tidak boleh tergoda oleh buaian dunia yang hanya sesaat.
     Memperhatikan umat Islam (sebagai mayoritas) di Indonesia, menurutnya ada 2 problem utama umat Islam dewasa ini, yaitu disamping ketertinggalan umat Islam dari bangsa-bangsa lain, juga dikarenakan belum adanya kader-kader Islam. Menurutnya yang ada sekarang adalah kader-kader firqah-firqah anutan (tradisi) nenek moyang yang telah usang (lihat QS Ar Rum: 32).
     Untuk meninggalkan ketertinggalan dan membuat kader Islam, maka harus dilakukan dengan suatu pendidikan yang visioner, yang menurutnya harus dipersiapkan konsep dan sarana sejak dini sehingga langkah-langkahnya tersusun rapi. Visi dan misi pendidikan tidak hanya mengutamakan IQ belaka, melainkan pengembangan dari 3 unsur : IQ (Intelegensi Quetient), EQ (Emosional Quetient), dan juga SQ (Spiritual Quetient). Dan untuk menunjang hal tersebut menurutnya maka harus diprogramkan 2 kepiawaian (kekuatan), yaitu : piawai dalam ilmu (Basthatan fil ‘Ilm) dan piawai dalam fisik / fisiknya tangguh (Basthatan fil Jasad). Menurutnya, dimasa depan suatu bangsa yang mempunyai 2 kepiawaian tersebut akan berkuasa.
    Karena itu, menurutnya harus ada perubahan paradigma pendidikan nasional, dari paradigma budaya bangsa (akar pendidikan nasional dewasa ini) yang dianggapnya sebagai local thinking menjadi paradigma ilmu dan peradaban sebagai akar pendidikan. Meskipun berpusat di daerah, tetapi harus berpikir luas (punya visi global). Jadi menurutnya tidak seperti para pejabat pusat dan juga daerah (di Indonesia) sebagai pengembang ekonomi selalu berpikir lokal, sehingga sistem pendidikan yang diterapkan dan ditangkap hanya sebagai pendidikan lokal. Dengan demikian menurutnya paradigma sekarang harus “ act locally but think globally”.
     Dengan prinsipnya “bahasa perbuatan lebih utama dari pada bahasa lisan (ucapan)”, ia merealisasikan ide-idenya / gagasanya dengan mendirikan mega proyek Ma’had Al Zaitun. Suatu lembaga pendidikan yang menerapkan system global education (sistem pendidikan global), yang outputnya diharapkan dapat diterima diseluruh dunia. Ma’had Al Zaitun ini merupakan suatu lembaga pendidikan berorientasi ke depan, berpikir global tetapi tetap mempertahankan identitas sebagai muslim (akidah Islamiyah). Karena itu di Ma’had ini Al qur’an merupakan kajian utama dan setiap siswa (anak didik) diharuskan menamatkan hapalannya, dan diajari berbagai macam keahlian termasuk berbagai jenis olah raga, disamping ilmu pengetahuan modern berbasis Iptek. Disini juga pelajaran sejarah (Peradaban Islam dan peradaban dunia, termasuk juga di Indonesia) mendapat proporsi yang besar, disamping keharusan penguasaan terhadap beberapa bahasa asing. Dan yang lebih utama lagi penguasaan terhadap bahasa Melayu yang merupakan   bahasa sastra, dan bahasa kebudayaan di wilayah nusantara (Indonesia). Dengan pengetahuan yang demikian komplek dan integral sehingga 25 tahun ke depan menurutnya mereka (siswa) dapat menjadi pemimpin yang mempunyai misi global.
      Meskipun pada awalnya banyak kritikan yang ia dapat, Ma’had Al Zaytun ini merupakan suatu upayanya untuk memberikan alternatif terhadap pendidikan di Indonesia (Islam /nasional).

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda