ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Intelektual. > Jalaluddin Rahmat

 
 
 
 
 
 
 
 

Jalaluddin Rahmat

 
JALALUDDIN RAHMAT, Dr., Msc. (1949-       M)
Pakar Komunikasi
                                       
   Seorang pakar komunikasi dan pengembang pertama kajian Madzhab Ja’fari di Indonesia. Ia juga terkenal sebagai pengkaji tradisionalisme Islam yang sangat berbobot di Indonesia yang menampilkan kisah-kisah dan pemikiran Islam klasik dalam hubungannya dengan pemecahan problem kemanusiaan masa kini.
      Jalaluddin Rahmat   atau       dikenal dengan sebutan Kang Jalal, lahir di Bandung, 29 Agustus 1949. Ia memperoleh gelar Master dari Iowa State University (1982), dan Doktornya dari   Australian National University, dalam ilmu politik. Salah satu keistimewaan dari Kang Jalal ini, ia menguasai 6 bahasa Asing.
     Dibesarkan di kota Bandung, yang terkenal sebagai basis kuat dari Persis (Persatuan Islam), yang dikenal mempunyai pemikiran yang keras dan radikal dalam keagamaan, yang selalu menyerukan kembalinya kepada Qur’an dan Sunnah. Hal ini menjadikan dirinya (dimasa mudanya) menjadi aktifis da’wah yang keras, yang dengan gigih membasmi masalah TBC (tahayul, bid’ah dan khurafat) yang menjadi bagian dari kehidupan keagamaan Islam di Indonesia. Menurutnya: “ Saya harus perbaiki fiqih orang-orang kampung.”
     Dalam hubungannya dengan itu, ia pernah diturunkan dari mimbar hanya karena mengajak umat kembali ke Qur’an dan Sunnah. Ia juga pernah diboikot agar tidak memberikan pengajian di suatu kampung. Bahkan ia hampir dikeroyok orang sekampung hanya berkali-kali mengintrupsi pengajian yang dipimpin oleh seorang ulama dari Jawa Timur, yang menyebabkan pengajian dibubarkan. Tetapi seiring dengan usia yang lebih matang, ia kemudian menjadi penda’wah yang bijak dalam menyikapi perbedaan pendapat (ikhtilaf).
  Kariernya: menjadi staff pengajar di Fakultas Komunikasi Universitas Padjadjaran. Ia juga mendirikan yayasan Muthahary dengan mendirikan sekolah modern.
 
Pemikiran
     Pengalamannya sebagai aktifis da’wah menjadikannya menjadi seorang yang sangat bijak, terutama dalam masalah ikhtilaf (perbedaan pendapat).
     Bermula dari keprihatinnya melihat umat Islam yang terpecah menjadi sekian golongan. Perbedaan tak lagi menjadi rahmat. Tak menyadari itu terjadi karena beda cara pandang atas sesuatu yang diperselisihkan. Dari itu semua menyebabkan ruh ukhuwah Islam meredup; fanatisme golongan menjadi dalil keimanan; istiqomah identik dengan keras, kaku dan rigid. Maka merebaklah kecenderungan untuk menganggap pendapat alirannya yang benar dan menutup pintu atas pendapat orang lain. Inilah potret kelabu wajah umat sepeninggal Rasul Saw, terkotak-kotak dalam bingkai golongan yang sempit, melupakan misi utama kenabian yang tegas yang disabdakan oleh Rasulullah: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia.”
     Ia menafsirkan misi utama Rasul adalah meletakan kemuliaan akhlaq setinggi-tingginya, bukan menggalakan fanatisme golongan dan perbedaan pendapat yang berasal dari tatacara (fiqih). Ia melihat karena fanatisme fiqih tak jarang akhlaq ditinggalkan. Baik dan buruknya seseorangpun dinilai dengan cara seseorang mengamalkan fiqihnya. Ia memandang seharusnya umat dewasa menyikapi setiap ikhtilaf menyebabkan pertentangan, dengan mendahulukan akhlaq, ikhtilaf akan menjadi rahmat. Dengan mengembangkan ilmu, memperbanyak alternative (pilihan), sehingga kesempitan dapat dihindarkan. Para ulama madzhab misalnya, ikhtilaf tidak mengurangi rasa saling hormat diantara mereka, Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada Imam Syafi’I, Imam Syafi’I berguru Imam Malik dan Imam Hanafi, dan keduanya berguru kepada Imam Ja’far shadiq.
     Dasar pemikirannya inilah yang kemudian ia mengembangkan kajian madzhab Ja’fari di Indonesia dan mendirikan yayasan Muththahari di Bandung, yang menurutnya sebagai jembatan dunia tradisionalisme dan kemodernan, sehingga akan dihasilkan ulama yang intelek atau intelek yang ulama. Meskipun nama Muththahari sendiri merupakan tantangan untuk adanya perbedaan di Indonesia, karena nama ini merupakan salah seorang tokoh terpenting dalam revolusi Islam di Iran, sehingga dengan cepat diasosiasikan dengan madzhab Syi’ah, dan ia sendiri tidak lepas dari tuduhan itu. Menurutnya Muththahari merupakan tokoh non sektarian, tak terjebak dalam kotak-kotak sikap dan pemikiran, dan ia selalu mengutip perkataan Muththahari sendiri: “ Keindahan Islam itu justru akan teruji jika sudah dibenturkan dengan pendapat yang berbeda.”
     Sebagai ahli tradisionalisme Islam yang mumpuni di Indonesia, ia juga menerjuni dunia tasauf. Ia sangat menyayangkan orang awam di Indonesia, yang menganggap sudah belajar tasauf jika gurunya berbicara tentang ma’rifat, mencapai hakekat, tetapi dibawa ke dalam aliran kebatinan yang tidak punya dasar dalam Al Qur’an dan sunnah. Tasauf kadang disamakan dengan ilmu klenik, ma’rifat disamakan dengan ilmu spiritual dan mukasafah diartikan sebagai tersingkapnya hal-hal yang ghaib, sehingga orang yang berhubungan dengan jin-pun bisa mengatakan kepada muridnya’ ia mengajarkan ma’rifat. Menurutnya orang Indonesia sangat rawan terhadap tipuan jika berkaitan dengan hal-hal yang ghaib.
     Ma’rifat sendiri menurutnya berasal dari kata arafa, ya’rifu dan ma’rifatan yang berarti pengetahuan, yang berati pengetahuan tentang tuhan. Orang bisa mengenal Tuhan melalui perbuatan-Nya, sifat-sifat-Nya, dan zat-Nya. Ma’rifat merupakan ilmu yang diperoleh dengan cinta, hanya dengan cinta kita mengenal Allah. Dan pengenalan kepada Allah dalam berbagai tahapan disebut ma’rifat. Mukasafah atau tersingkapnya tirai kegaiban adalah ketika Tuhan menampakan dirinya pada kita. Menurutnya seperti yang dikutip dari ungkapan para sufi, antara manusia dan Tuhannya itu paling tidak ada 70 hijab yang menghalanginya, dan salah satunya takabur, tatkala sombong terhadap diri berarti sombong terhadap tuhan. Takabur adalah hijab yang paling berat, karena itu hanya dengan kerendahan hati, tawadlu, maka hijab itu akan tersingkap. Dengan menyitir Al Qur’an , Wasjud waktarib, bersujudlah kamu supaya kamu dekat dengan dia, maka dengan sujudlah cara sempurna merendahkan diri manusia kepada yang Tuhannya.
 
Karya
  • Islam Alternatif (Mizan, 1988)
  • Psikologi Komunikasi (Remaja Rosdakarya, 1990)
  • Khutbah di Amerika (Remaja Rosdakarya, 1990)
  • Komunikasi Antar Budaya (Penyunting, Remaja Rosdakarya, 1992)
  • Islam Aktual (Mizan, 1992)
  • Retorika Modern (Remaja Rosdakarya, 1993)
  • Tafsir Bil Ma’tsur 1 (Remaja Rosdakarya, 1993)
  • Filsafat Komunikasi
  • Dahulukan Akhlaq di Atas Fiqih (Muththahari Press)
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda