ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Intelektual. > Harun Nasution

 
 
 
 
 
 
 
 

Harun Nasution

 
HARUN NASUTION (1919-1998 M)
Ahli Filsafat
 
    Guru besar filsafat Islam, penyeru pemikiran rasional bagi umat Islam di Indonesia.
     Ia lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara dan meninggal di Jakarta. Ia merupakan anak ke-4 dari Abdul Jabar Ahmad, seorang ulama, pedagang, dan menjadi qadli serta penghulu di Pematang Siantar di era Hindia Belanda. Ayahnya adalah seorang tradisionalis yang sangat anti terhadap pembaharuan.
      Kedudukan ayahnya, memberi kesempatan      untuk     mengenyam
pendidikan di sekolah Belanda (7 tahun). Pada awalnya ia ingin melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi dan ia juga berencana untuk masuk sekolah Muhammadiyah di Surakarta. Tetapi ayahnya mempunyai rencana lain, sebagai seorang tradisionalis yang anti terhadap pembaharuan, ayahnya tidak menginginkan anaknya terpengaruh oleh apa yang ia anggapnya sebagai pengaruh jahat dari Muhammadiyah (karena waktu itu terjadi pertentangan yang tegas antara tradisionalis dengan pembaharu). Ayahnya kemudian mengirim Nasution untuk belajar ke Mekah, yang merupakan pusat utama pendidikan tradisionil.
     Di Mekah Nasution ia mengeluhkan kondisi kota ini dan sistem perndidikannya. Ia menggambarkan bahwa Mekah di waktu ia belajar (era tahun 1930-an) sebagai abad pertengahan dunia modern. Ia mengeluhkan tidak adanya kursi dan juga meja belajar, kota yang kotor dan secara umum merupakan negeri terbelakang. Ia juga mengeluhkan, walaupun kenyataannya bahasa Arab merupakan bahasa pendidikan utama, tetapi mustahil menemukan guru bahasa Arab yang bagus di Mekah. Pada saat yang sama, ia juga merasa bahwa pengetahuannya tentang Islam tidaklah mencukupi untuk mempelajari teks klasik di Masjid Agung Mekah, sehingga kemudian ia ingin belajar ke Kairo untuk mencari pendidikan yang lebih modern. Tetapi hal ini tidak disetujui oleh orang tuanya. Ia mulai bosan dan putus asa, yang akhirnya memberi ultimatum kepada orang tuanya, ia akan pergi ke Mesir atau tidak akan pernah kembali ke tanah air lagi, dan akan menghabiskn waktunya untuk menjadi sopir di Mekah. Hingga ia diijinkan belajar di Kairo.
     Di Kairo (1938), ia masih kesulitan untuk mengikuti perkuliahan, sehingga ia belajar privat tentang bahasa Arab klasik dan hukum Islam, dan akhirnya diterima di fakultas ushuluddin Universitas al Azhar. Tetapi pendidiknya kemudian terputus akibat perang dunia ke II, dan revolusi di Indonesia, disamping kemudian ia berkarir di kantor kedutaan yang ia anggap lebih menjanjikan. Ia menyelesaikan sarjana muda dari Universitas Amerika di Kairo, Mesir (1952).
     Pandangan anti komunisnya kemudian mengkristal pada saat kekuatan partai komunis Indonesia tahun 1950-an bertambah besar, yang menyebabkan posisinya di kantor kedutaan semakin problematis. Tahun 1960 ia diberhentikan dari jabatannya sebagai sekretaris satu di kedutaan di Brusel, dan secara resmi dimasukan dalam daftar hitam (black list). Surat diplomatik dari kementrian luar negeri di jakarta menyarankan duta besar lainnya di Belgia untuk tidak memberinya visa. Tetapi hubungan pribadinya dengan kedutaan Mesir memungkinkan mendapatkan visa masuk ke wilayah Mesir. Di Mesir ini ia melanjutkan pendidikan di sekolah swasta Islamic Studies institute (Ad Dirasat al Islamiyah (1960)), tetapi karena kekurangan biaya, sehingga studinya terhenti.
     Atas usaha dari rekannya di Indonesia, H.M Rasyidi, kemudian ia mendapat beasiswa dari Institute of islamic studies Mc Gill, Montreal Kanada, dan meraih gelar magister dengan tesis: The Islamic State in Indonesia: The Rise of The Ideology, The Movement for its Creation and Theory of The Masyumi. Dan 3 tahun kemudian ia meraih gelar doktor (1968) dalam studi Islam, dengan disertasi, The Place of Reason in Abduh’s Theology: Its Impaact on His Theological System and Views.
    Pada tahun 1969, ia kembali ke Indonesia, dan menjadi staf pengajar di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, IKIP Jakarta, dan Universitas Nasional. Kemudian ia menjadi rektor IAIN Syarif Hidayatullah selama 11 tahun (1973-1984 M); Menjadi ketua lembaga pembinaan pendidikan agama IKIP Jakarta, dan terakhir menjadi dekan pasca sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta.
 
Pemikiran
     Nasution adalah sedikit dari intelektual muslim di Indonesia yang secara terbuka menyatakan dirinya sebagai pendukung mu’tazilah, yang terkenal sebagai kaum rasional Islam dalam peradaban Islam klasik. Ia menggambarkan proyeknya yang merupakan puncak dari pertanyaan yang dipendamnya sepanjang hayatnya, tentang cara menyatukan kaum rasionalis dan Islam yang telah terbagi dua. Menurut pengakuan dirinya sejak muda, ia   telah menjadi seorang rasionalis sekaligus sebagai seorang muslim yang shaleh. Perkembangan kehidupan dan intelektualnya dilukiskan sebagai petualangan untuk menyatukan dua bagian dirinya. Proyek ini kemudian terpetakan dalam disertasi doktornya di Mc Gill.
     Ia sangat terkesan dengan Muhammad Abduh, seorang pembaharu dari Mesir, yang menurutnya banyak memberi inspirasi kepada dirinya. Ia menegaskan bahwa Muhammad Abduh merupakan seorang pendukung mu’tazilah. Dari sini ia menyimpulkan bahwa masyarakat Islam yang akan bersentuhan dengan kemodernan mesti mengganti kalam asy’ari (kalam ahlusunnah) dengan kalam mu’tazilah. Ia juga menegaskan bahwa rasionalisme merupakan diantara tema sentral Al qur’an dan Islamnya Nabi Muhammad beserta para sahabatnya merupakan keislaman yang bersifat rasional. Pembongkarannya terhadap rasionalisme barat dan Islam kelihatannya telah menandai sebuah usaha untuk menemukan Islam rasional dan kemodernan.
    Karena ia betul-betul merasakan kesalehan sebagai seorang muslim, maka ia langsung menemukan akar esensial dari rasionalisme Islam pada teks Al Qur’an. Dalam bukunya Akal dan Wahyu Dalam Islam, ia mengutip tidak kurang dari 30 ayat, yang menurut pandangannya manusia diperintahkan untuk berpikir rasional untuk mengetahui Tuhan dan dunia. Ia menegaskn bahwa Al qur’an mengajarkan dokrin mu’tazilah yang mendasar tentang kebebasan berkehendak, kebebasan berbuat dan pertanggungjwaban manusia. Ajaran mendasarkannya bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang rasional. Hal ini diungkapkan dalam makalahnya (1975): “ Menurut kebenaran Islam, manusia adalah ciptaan Tuhan. Kemampuan untuk berpikir yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia, telah menjadikannya sebagai ciptaan yang paling sempurna. Akal memungkinkan manusia menciptakan peradaban dan kebudayaan yang hebat. Akal membawa pada perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Ilmu pengetahuan dan tekhnologi memungkinkan manusia untuk mengontrol lingkungan, dan menciptakan kesehatn dan kemakmuran, sekarang dn nanti. Inilah alasan yang menjadikan kenapa manusia berbeda dari binatang.”
     Nasution juga mengkritik dengan keras dokrin paksaan Tuhan (jabr) yang khususnya dihubungkan dengan Asy’ariyah. Dalam pandangannya, dokrin ini  menyangkal rasionalitas serta pilihan manusia, dan dokrin tersebut juga menjerumuskan pada gaya berpikir yang fatalistik yang membuat perkembangan politik, sosial dan ekonomi menjadi mustahil.
 
Karya
  • Filsafat dan Mistisme dalam Islam(1973). Buku ini juga merupakan kumpulan ceramah Harun di IKIP Jakarta, yang  terdiri dari dua bagian, yakni bagian falsafat Islam dan bagian mistisisme Islam (tasawuf). Bagian falsafat Islam menguraikan bagaimana kontak pertama antara Islam dan ilmu pengetahuan serta falsafat Yunani yang kemudian melahirkan filosuf muslim seperti al-Kindi, al-Razi, al-Farabi, Ibn Sina, al-Ghazali, dan ibn Rusyd. Sedangkan, bagian mistisisme Islam menguraikan bagaimana kedudukan tasawuf dalam Islam sebagai upaya mendekatkan diri pada Tuhan. Buku ini tahun 1973 oleh Bulan Bintang, Jakarta.
  • Teologi Islam : Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan.(1972) Buku ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, mengandung uraian tentang aliran dan golongan-golongan teologi, bukan hanya yang masih ada tetapi juga yang pernah terdapat dalam Islam seperti Khawarij, Murji’ah, Qadariah dan Jabariah, Mu’tazilah, dan Ahli sunnah wal jama’ah. Uraian diberikan sedemikian rupa, sehingga di dalamnya tercakup sejarah perkembangan dan ajaran-ajaran terpenting dari masing-masing aliran atau golongan itu, dan mengandung analisa dan perbandingan dari aliran-aliran tersebut. Sehingga dapat diketahui aliran mana yang bersifat liberal, mana yang bersifat tradisional. Buku ini dicetak pertama kali tahun 1972 oleh UI-Press.
  • Pembaharuan dalam Islam: Sejarah, Pemikiran, dan Gerakan. (1978). Buku ini merupakan kumpulan ceramah dan kuliah Harun Nasution tentang Aliran-Aliran Modern dalam Islam. Membahas tentang pemikiran dan gerakan pembaruan dalam Islam, yang timbul di zaman yang lazim disebut periode modern dalam sejarah Islam. Pembahasannya mencakup atas pembaruan yang terjadi di tiga negara Islam, yaitu Mesir (topik intinya; pendudukan Napoleon dan pembaharuan di Mesir, Muhammad Ali Pasya, al-Tahtawi, Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, murid dan pengikut Muhammad Abduh), Turki, (topik intinya; Sultan Mahmud II, Tanzimat, Usmani Muda, Turki Muda, tiga aliran pembaharun, Islam dan Nasionalis, dan Mustafa Kemal), dan India-Pakistan (topik intinya ; Gerakan Mujahidin, Sayyid Ahmad Khan, Gerakan Aligarh, Sayyid Amir Ali, Iqbal, Jinnah dan Pakistan, Abul Kalam Azad dan Nasionalisme India.
  • Akal dan Wahyu dalam Islam. (1980). Buku ini menjelaskan pengertian akal dan wahyu dalam Islam, kedudukan akal dalam Al-Quran dan Hadits, perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam, dan peranan akal dalam pemikiran keagamaan Islam. Uraian tegas buku ini menyimpulkan bahwa dalam ajaran Islam, akal mempunyai kedudukan tinggi dan banyak dipakai, bukan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan saja, tetapi juga dalam perkembangan ajaran keagamaan sendiri. Akal tidak pernah membatalkan wahyu, akal tetap tunduk kepada teks wahyu.
  • Filsafat Agama(1978). Buku ini menjelaskan tentang epistemologi dan wahyu, ketuhanan, argumen-argumen adanya Tuhan, roh, serta kejahatan dan kemutlakan Tuhan. Buku ini semula diterbitkan Bulan Bintang.
  • Islam Ditinjau Dari Berbagai aspeknya (1974) Buku ini terdiri dari dua jilid, diterbitkan pertama kali oleh UI-Press, yang intinya adalah memperkenalkan Islam dari berbagai aspeknya. Buku ini menolak pemahaman bahwa Islam itu hanya berkisar pada ibadat, fikih, tauhid, tafsir, hadits, dan akhlak saja. Islam menurut buku Harun ini lebih luas dari itu, termasuk di dalamnya sejarah, peradaban, filsafat, mistisisme, teologi, hukum, lembaga-­lembaga, dan politik.
  • Muhammad Abduh dan Teologi Rasional Mu’tazilah(1987). Buku ini merupakan terjemahan dalam bahasa Indonesia dari tesis Ph.D. Harun Nasution yang berjudul “The Place of Reason in Abduh’s Theology, Its Impact on his Theological System and Views”, diselesaikan bulan Maret 1968 di McGill, Montreal, Kanada. Buku ini berisi tentang riwayat hidup Muhammad Abduh, filsafat wujud, kekuatan akal, fungsi wahyu, paham kebebasan manusia dan fatalisme, sifat-sifat Tuhan, perbuatan Tuhan, dan konsep Iman. Inti buku ini menjelaskan bahwa pemikiran teologi Muhammad Abduh banyak persamaannya dengan teologi kaum Mu’tazilah, bahkan dalam penggunaan kekuatan akal, Muhammad Abduh jauh melebihi pemikiran Mu’tazilah.
  • Islam Rasional (1995). Buku ini merekam hampir seluruh pemikiran keislaman Harun Nasution sejak tahun 1970 sampai 1994 (diedit oleh Syaiful Muzani), terutama mengenai tuntutan modernisasi bagi umat Islam. Hal itu, menurut Harun, harus diubah dengan pandangan rasional yang sebenarnya telah dikembangkan oleh teologi Mu’tazilah. Karena itu, reaktualisasi dan sosialisasi teologi Mu’tazilah merupakan langkah strategis yang harus diambil, sehingga umat Islam secara kultural siap terlibat dalam pembangunan dan modernisasi dengan tetap berpijak pada tradisi sendiri.
 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda