ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Intelektual. > Hamka

 
 
 
 
 
 
 
 

Hamka

 
HAMKA (1326-        H / 1908- 1981 M)
Ahli Tasauf, Tafsir, Tarikh / Sejarah, dan Politisi
 
“ Penuhilah Rumahmu dengan buku karena kita disuruh iqro (membaca).” (Hamka)
 
        Seorang ulama terkemuka dan terbesar dalam peradaban Indonesia kontemporer. Ia juga merupakan  ketua MUI pertama, salah seorang pendiri sekolah Al Azhar di Jakarta (Indonesia) dan penulis tafsir Al Azhar. Karya tulisnya banyak sekali dan menjadi bacaan pencari ilmu di Indonesia. Ketika menjadi ketua MUI, ia telah menjelaskan dasar-dasar toleransi beragama di Indonesia.
       Nama Haji Abdul Malik Karim Amrullah, di singkat Hamka     Lahir di Sungai Batang Maninjau (Sumatera Barat), 14 Muharram 1326 H /17 Februari 1908 M. Ayahnya seorang ulama terkenal, Dr. Haji Abdul Karim Amrullah alias Haji Rasul, seorang pembawa faham-faham pembaharuan islam di Minangkabau.
     Pada tahun 1914 (usia 6 tahun) ia dibawa ayahnya ke Padang Panjang. Pada Usia 7 tahun ia di masukan ke sekolah desa, dan malamnya belajar mengaji Al Qur’an dari ayahnya sendiri sampai khatam. Kemudian pada 1916-1923 ia belajar di sekolah Diniyah School dan Sumatera Thawalib di Padang Panjang dan di Parabek. Guru-gurunya antara lain: Syekh Ibrahim Musa Parabek, Engku Mudo Abdul Hamid dan Zainuddin Labay. Di Padang Panjang waktu itu ramai dengan penuntut ilmu dibawah pimpinan ayahnya sendiri.
    Hamka adalah seorang petualang, bahkan ayahnya menyebutnya Si Bujang Jauh. Pada usia 16 tahun (1924) diangkat menjadi datuk menurut adat pusaka dengan gelar Datuk Indomo. Dan pada tahun itu (1924) ia berangkat ke Yogyakarta, untuk mempelajari seluk beluk gerakan Islam Modern, yang waktu itu mulai bergelora. Ia mendapat kursus pergerakan islam dari HOS Cokroaminoto, H. Fakhruddin, R.M. Suryopranoto, Ki Bagus Hadikusumo.
     Setelah beberapa lama di Yogya, ia berangkat ke Pekalongan dan menemui kakak iparnya A.R Sutan Mansur, yang pada waktu itu menjadi ketua Muhammadiyah Pekalongan. Tahun 1925 ke rumahnya di Gatangan Padang Panjang dan mulai berkiprah di Muhammadiyah. Dan waktu itu juga mulai tumbuh bakatnya sebagai pengarang, dengan menulis buku yang berjudul Khatibul Ummah.
     Februari 1927 dengan kemauanya sendiri ia berangkat ke Mekkah untuk menunaikan ibadah Haji dan bermukim di sana selama 6 bulan, sambil menjadi koresponden dari harian Pelita Andalas di Medan. Pulang dari sana ia menulis di majalah Seruan Islam di Tanjung Pura (Langkat), dan pembantu dari Bintang Islam dan Suara Muhammadiyah, Yogyakarta. Dan Pada Akhir 1927 ia kembali ke kampung halamannya.
     Pada tahun 1928, ia menjadi peserta muktamar Muhammadiyah dan sejak itu hampir tidak pernah absen dalam muktamar Muhammadiyah sampai akhir hayatnya. Dan tahun itu pula keluarlah buku romannya yang pertama dalama bahasa Minangkabau, bernama Si Sabariyah.. Waktu itu pula ia memimpin majalah Kemauan Zaman yang terbit hanya beberapa nomor. Dan Tahun 1929 banyak buku yang ia tulis.
     Tahun 1930 mulailah ia mengarang dalam surat kabar Pembela Islam, Bandung. Dan ia mulai berkenalan dengan M. Natsir dan A. Hassan. Dan tahun itu pula ia diutus oleh pengurus Muhammadiyah Cabang Padang Panjang untuk mendirikan Muhammadiyah di Bengkalis.
     Tahun 1931, ia menjadi Mubaligh dalam rangka menggerakan semangat menyambut Muktamar Muhammadiyah ke-21 (Mei 1932) di Ujung Pandang. Tahun 1934 ia kembali ke Padang Panjang dan diangkat menjadi konsul Muhammadiyah Sumatra Tengah.
     Tanggal 22 Januari 1936 ia pindah ke Medan dan terjun dalam gerakan Muhammadiyah Sumatra Timur. Di Medan ia mengeluarkan mingguan Islam yang mencapai puncak kemasyurannya sebelum perang, yaitu Pedoman Masyarakat. Majalah ini ia pimpin setelah setahun dikeluarkan (1936-1943), ketika tentara jepang masuk. Di zaman itulah banyak terbit karangan-karangannya dalam bidang agama, filsafat, tasauf, dan roman, dan ada pula yang ditulis terlepas.
     Pada 1942, ia terpilih menjadi pimpinan Muhammadiyah Sumatra Timur, dan mengundurkan diri dari jabatan itu ketika terjadi terjadi revolusi fisik pada tahun 1945, karena ia pindah ke Sumatra Barat, dan disana ia keluarkan buku-buku yang cukup mengguncangkan di Indonesia.
    Tahun 1948-1949 ia terpilih menjadi ketua majelis pimpinan Muhammadiyah Sumatra Barat. Tahun 1950 ia pindah ke Jakarta, menjadi pegawai di kementrian agama (pimpinan KH. Abdul Wahid Hasyim), dan memberi kuliah dibeberapa perguruan tinggi Islam: PTIAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) Yogyakarta, Universitas Islam Jakarta, Fakultas Hukum dan Falsafah Muhammadiyah di Padang Panjang, Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makasar, dan Universitas Islam Sumatra Utara (UISU) di Medan. Di Jakarta ia banyak menulis buku.
     Tahun1950, Hamka mengadakan lawatan ke beberapa negara Arab sesudah menunaikan ibadah Haji yang kedua kalinya. Dalam kesempatan ini ia bertemu dengan pengarang-pengarang Mesir yang telah lama dikenalnya lewat karya-karya mereka, seperti Thaha Husein, dan Fikri Abadah. Sepulang dari sana ia mengarang beberapa roman, antara lain : Mandi cahaya di tanah suci, Di lembah sungai Nil, Di tepi singai Dajlah.
    Pada tahun 1952, Hamka mendapat kesempatan mengadakan kunjungan ke Amerika Serikat atas undangan departemen luar negeri AS. Sejak itu ia sering berkunjung ke beberapa negara, baik atas undangan negara bersangkutan maupun sebagai delegasi Indonesia.
     Keasyikannya mempelajari kesusasteraan melayu klasik dan juga bersungguh-sungguh menyelidiki dan mempelajari kesusteraan arab (karena hanya bahasa arablah, bahasa asing yang ia kuasai), semakin lama Hamka menunjukan coraknya sebagai pengarang, pujangga, filosof islam yang tiada tandingnya. Dengan keahlian tersebut pada tahun 1952 ia diangkat oleh pemerintah menjadi anggota “ Badan Pertimbangan Kebudayaan” dari kementrian PP dan K, dan menjadi guru besar pada Perguruan Tinggi Islam dan Universitas Islam di Makasar, dan menjadi penasehat pada kementrian agama.
     Pada Muktamar Muhammadiyah ke-32 di Purwekerto (1953) ia terpilih menjadi anggota pimpinan pusat muhammadiyah, dan sejak itu selalu terpilih dalam muktamar.
     Dalam bidang politik, ia menjadi anggota Konstituante hasil pemilu 1955. Ia dicalonkan Muhammadiyah untuk mewakili daerah pemilihan Masyumi Jawa Tengah. Dalam sidang Konstituante di Bandung, ia menyampaikan pidato penolakan gagasan Soekarno (presiden waktu itu) untuk menerapkan demokrasi terpimpin.
     Pada tahun 1958, ia menjadi anggota delegasi Indonesia untuk simposium Islam di Lahore. Kemudian perjalanannya dilanjutkan ke Mesir (pada permulaan tahun 1959), untuk menghadiri penganugrahan gelar Doktor Honoris Causa dari Univeristas Al Azhar Mesir, atas jasa-jasa dalam penyiaran agama Islam. Majelis Tinggi University Al Azhar Kairo, memberikan gelar Ustaziyah Fakhriyah (Doctor Honoris Causa) kepada Hamka. Dalam kesempatan itu ia menyampaikan pidato promosi berjudul Pengaruh Muhammad Abduh di Indonesia, yang berisi uraian kebangkitan gerakan Islam di Indonesia: Sumatra Thawalib, Muhammadiyah, Al Irsyad, dan Persis.
     Setelah Konstituante dibubarkan Juli 1959, dan Masyumi dibubarkan (1960), ia memusatkan kegiatannya dalam da’wah Islamiyyah dan menjadi Imam Mesjid Agung Al Azhar Kebayoran Baru, Jakarta. Bersama KH. Faqih Usman (Juli 1959) ia menerbitkan majalah tengah bulanan Panji Masyarakat yang menitik beratkan soal-soal kebudayaan dan pengetahuan agama Islam. Majalah ini kemudian di breidel pada 17 Agustus 1960 dengan alasan memuat karangan Dr. Muhammad Hatta, yang berjudul Demokrasi Kita, yang melancarkan kritik tajam atas konsepsi Demokrasi Terpimpin. Majalah ini terbit lagi setelah rezim Soekarno jatuh / tumbang pada 1967, dan Hamka menjadi pemimpin umumnya sampai meninggal.
     Pada 27 Januari 1964 (12 ramadhan 1385, ia ditangkap dirumahnya dan dimasukkan dalam penjara oleh rezim Sukarno, dengan tuduhan subversif. Pada mulanya ia ditahan di Sukabumi. Ia di interogasi 15 hari 15 malam, tidak bersalahpun harus mengaku bersalah. Suatu hikmah yang sangat besar, dalam penjara ini ia dapat menyelesaikan karya terbesarnya yaitu Tafsir Al Azhar. Ia dibebaskan ketika rezim Soekarno jatuh.
    Pada muktamar Muhammadiyah 1971 di Makasar karena merasa uzur, ia memohon agar tidak dipilih lagi menjadi anggota pimpinan pusat Muhammadiyah. Sejak itulah ia diangkat menjadi penasehat pimpinan pusat Muhammadiyah sampai akhir hayatnya
    Tahun 6 Juni 1974 ia mendapat doctor honoris causa (yang kedua) dalam kesusasteraan dari University Kebangsaan Malayasia. Dalam kesempatan itu, Tun Abdur Razak (Perdana Mentri Malayasia) berkata: “Hamka bukan hanya milik bangsa Indonesia, tapi juga kebanggaan bangsa-bangsa di Asia Tengggara”.
     Pada Juli 1975 / Rajab 1395 H, Musyawarah Alim Ulama Seluruh Indonesia memilih Hamka sebagai ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang pertama. dan terpilih kembali untuk periode kepengurusan kedua pada tahun 1980. Tetapi akhirnya ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai ketua umum MUI setelah dengan tegas menolak pencabutan tentang fatwa haramnya perayaan natal bersama. Ia memegang teguh sikapnya hingga ia meninggal dunia pada 24 Juli 1981 dan dimakamkan di Tanah Kusir, Jakarta.
      Dari peran, jasa dan pemikirannya, Hamka merupakan pujangga agama dan pemikir besar yang belum ada tandingannya di Indonesia modern ini. Ia merupakan penulis yang produktif, banyak mengarang buku baik roman,tasauf, sejarah, filsafat, tafsir dan lain-lain.
 
Pribadi, Peran dan Pemikiran
    Meskipun ia mendapat kedudukan yang terhormat ditengah masyarkat elit adat sebagai datuk / penghulu, Hamka tidak sempat memperoleh pendidikan tinggi baik sekuler maupun keagamaan (Ia hanya berkesempatan masuk sekolah desa (SR) selama 3 tahun dan kira-kira 3 tahun pula pada sekolah agama di Padang Panjang dan Parabek), tetapi ia sangat berbakat dalam bahasa dan segera menguasai bahasa Arab, yang membuat ia mampu membaca secara luas, termasuk terjemahan dari tulisan-tulisan barat (Bahasa Arab merupakan bahasa asing yang ia kuasai). Bakat menulisnya diwarisi dari ayahnya, sebagai tokoh pembaharu di Indonesia waktu itu.
   Hamka menggunakan bahasa Melayu (Indonesia) untuk berekspresi. Ia menulis sajak-sajak tetapi karya-karya novelnya yang membuat ia mencapai ketenaran. Semua karyanya selalu di ilhami semangat Islam.
    Lingkungan pendengar Hamka pertama-tama terbatas kepada penduduk yang memiliki orientasi Islam, tetapi kemudin ia mampu meluaskannya ke tengah-tengah mereka yang berpendidikan barat. Ia bisa menyampaikan pandangan bahwa kesatuan Indonesia dapat dibangun tanpa mengurangi dedikasi terhadap Islam. Hamka selalu berusaha menggunakan Islam sebagai dasar seluruh karya dan tindakannya. Ia memandang sejarah Indonesia melalui prisma Islam, yang ajaran-ajarannya ia yakini telah membentuk sikap serta karakter sebagian besar rakyat Indonesia.
    Tentang nasionalisme yang sedang berkembang waktu itu, ia banyak dipengaruhi oleh Haji Agus Salim (Tokoh pergerakan Islam termasyur waktu itu) dan para pemuka persatuan muslim Indonesia (suatu partai yng tumbuh pesat di era tahun 1930-an), menurut aliran ini Nasionalisme hendaknya diilhami oleh humanisme serta meninggikan kehendak Allah dan dengan cara ini dapat dicegah bahaya terjerumus ke Chauvinisme.
    Hamka adalah orang yang tidak menyetujui pandangan tentang kerajaan Hindu dan merah putih (waktu itu para pemimpin Indonesia didikan Belanda selalu mengagung-agungkan kerajaan pra Islam sebagai upaya menandingi pergerakan Islam yang sedang berkembang), Menurutnya perjuangan kemerdekaan pada abad 20 M dipelopori oleh tokoh-tokoh Islam. Ia (Hamka) menolak chauvinisme murni anggapan bahwa bendera merah putih berasal dari waktu 6000 tahun yang lalu (seperti yang dikemukakan M. Yamin).
    Tentang bahasa bahasa Melayu dijadikan bahasa Indonesia, menurutnya hanya memformulasikan sesuatu yang sudah menjadi kenyataan, tidak ada pilihan, hanya bahasa melayu-lah yang bisa menjadi bahasa nasional. Hamka menentang pemasukan bahasa sangsekerta yang berlebihan ke dalam bahasa Indonesia masa kini. Ia menganggap hal ini sebagai rasa iri tersembunyi, beberapa orang Jawa, karena yang dijadikan dasar bahasa nasional adalah bahasa Melayu, bukan Jawa.
    Hamka juga tidak terlalu terpengaruh terhadap pancasila sebagai dasar negara. Ia menghargai proklamator (Soekarno) dalam merumuskan 5 dasar tersebut, tetapi ia tidak menganggap bahwa pandangan hidup orang Indonesia sepenuhnya diwakili didalamnya. Ia menambahkan bahwa pancasila tidak memiliki basis historis di Indonesia, ia tidak dimengerti oleh rakyat kebanyakan yang lebih tahu dan mengenal Islam. Ia juga menolak gagasan bahwa proklamasi Indonesia sebagai negara merdeka didasarkan pancasila. Menurut Hamka proklamasi didasarkan atas semangat kemerdekaan yang dicerminkan dalam slogan revolusioner merdeka atau mati. Slogan ini sebenarnya berdasar kepada Islam , karena pada waktu revolusi hampir setiap orang, termasuk mereka yang bersikap netral terhadap agama, menyertai semangat tersebut dengan seruan Allahu akbar (Allah Maha Besar).
    Dalam bidang keagamaan, karyanya yang Tafsir Al Azhar merupakan karya tafsir terbesar di Indonesia yang dihasilkan oleh seorang ulama, hingga kini. Dan dalam bidang tasauf, karyanya yang berjudul Tasauf dari Abad ke Abad dan Tasauf Modern merupakan karyanya yang sangat bermamfaat dibidang ini disamping tidak terjebak pada salah satu madzhab pemikiran.
    Sebagai seorang sastrawan pendapatnya yang cukup penting, menurutnya seorang sastrawan belumlah lengkap jikalau belum mempelajari Islam, termasuk Al qur’an. Begitu juga sebaliknya para ahli Islam juga harus belajar sastra untuk memahami makna yang lebih dalam.
 
Karya
·         Khatibul Ummah, buku yang mula-mula dikarangnya (tahun 1925)
·         Si Sabariyah, roman yang pertama kali ia buat, dengan berbahasa Minangkabau (tahun 1928)
·         Agama dan Perempuan, (1929)
·         Pembela Islam (1929)
·         Adat Minangkabau dan Agama Islam, (1929) buku ini dibeslah polisi (belanda)
·         Kepentingan Tabligh, (1929)
·         Ayat Ayat Mi’raj, (1929)
·         Di Bawah Lindungan Ka’bah(1938) merupakan buku roman
·         Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939) merupakan buku roman.
·         Merantau ke Deli,(1940) merupakan buku roman.
·         Di Dalam Lembah Kehidupan (1940)
·         Terusir, roman.
·         Keadilan Ilahi, roman.
·         Tasauf Modern, buku ini mulai disusun pertengahan tahun 1937 dalam majalah “pedoman Masyarakat”. Hal ini atas permintaan sahabatnya Oei Ceng Hien, mubaligh dari Bintuhan, dan mulai dibukukan tahun 1938.
·         Lembaga Hidup
·         Lembaga Budi
·         Pedoman Mubaligh Islam
Zaman Pendudukan Jepang,
·         Semangat Islam,
·         Sejarah Islam,
·         Sejarah Islam di Sumatera
Setelah Pecah Revolusi,
·         Revolusi Pikiran
·         Revolusi Agama
·         Adat Minagkabau Menghadapi Revolusi
·         Negara Islam
·         Sesudah Naskah Renville
·         Muhammadiyah Melalui Tiga Zaman
·         Dari Lembah Cita Cita,
·         Merdeka
·         Islam dan Demokrasi
·         Dilamun Ombak Masyarakat
·         Menunggu Beduk Berbunyi
·         Ayahku (1949), yang merupakan biografi dari ayahnya.
Waktu Pindah Ke Jakarta Tahun 1950
·         Kenang-Kenangan Hidup
·         Perkembangan Tasauf Dari abad Ke Abad
·         Urat Tunggang Pancasila
Dalam perjalannanya ke luar negeri,
·         Di Tepi Sungai Nil
·         Di Tepi Sungai Dajlah
·         Mandi Cahaya Di Tanah Suci
·         Empat Bulan Di Amerika
Tahun 1955,
·         Pelajaran Agama Islam
·         Pandangan Hidup Muslim
·         Sejarah Hidup Jamaluddin Al Afghany
·         Sejarah Umat Islam
Tahun 1962 dan seterusnya,
·         Tafsir Al Azhar, tafsir ini merupakan karya yang terbesarnya dan menjadi bacaan banyak pelajar dan pencari ilmu di Indonesia. Tafsir ini mulai penulisannya tahun 1962, dan sebagian besar diselesaikan selama dalam penjara 2 tahun 7 bulan. (Senin, 12 Ramadhan 1385 bertepatan dengan 27-01-1964 sampai Juli 1969 M)
·         Soal Jawab (tahun 1970-an)
·         Muhammadiyah Di Minangkabau (1970-an)
·         Kedudukan Perempuan Dalam Islam (1970-an)
·         Do’a Do’a Rasulullah (1970-an)
·         Prinsip dan Kebijaksanaan Da’wah Islam, buku ini merupakan artikel panjang yang ditulis Hamka secara bersambung di Majalah Panji Masyarakat, terbitan tahun 1978-1979, ketika waktu itu diberi judul Da’wah Islam.
 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda