ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Intelektual. > Firdaus Ahmad Naqib

 
 
 
 
 
 
 
 

Firdaus Ahmad Naqib

 
FIRDAUS AHMAD NAQIB (1924-   M)
 
      Ulama produktif, mantan aktifis Masyumi, dan termasuk pengarang ternama di masanya.
      Lahir di Maninjau, 20 Agustus 1924 M. Pendidikannya di Thawalib Parabek, dibawah pimpinan Syekh Ibrahim Musa, salah seorang ulama pembaharu dan terkemuka di Minangkabau. Disinilah ia mengenal pemikiran kaum pembaharu: Al afghani, Abduh, Rasyid Ridla dan lain-lain.
      Sejak belia ia sudah aktif dalam pergerakan. Ia aktif di PII, Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Badan kongres muslimin Indonesia (yang diketuai KHM Isa anshary). Dua tahun berturut turut (1957-58) ia memimpin delegasi Indonesia ke Saigon dan Bangkok untuk konfrensi liga anti komunis Asia (Apacal). Ia juga aktif di SI (Syarikat Islam) dan Persis (Persatuan Islam), serta menjadi pengasuh tetap Mimbar Jum’at di Koran Indonesia raya yang dipimpin oleh Mochtar Lubis yang kemudian dibredel oleh Rezim Soekarno. Di Masyumi ia berada dalam satu shaf dengan peimpin garis keras Masyumi, KHM Isa Anshary.
       Ia juga merupakan seorang penuis yang produktif. Pada tahun 1957, hasil angket yang dilakukan himpunan pengarang Islam menempatkan namanya dalam deretan 10 pengarang islam terkemuka bersama Hamka, Isa Anshary, M. Natsir, Hasby Ash Shidiqy dan Ahmad Hasan.
 
Pemikiran
     Ia selalu mengingatkan bahwa yang pantas sekali dijadikan momen hari kebangkitan nasional adalah Syarikat Islam (SI), bukan Budi Utomo yang lokalistik. Tujuan budi utomo didirikan menurutnya seperti yang tercantum dalam UUD BU pasal 2 yaitu untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan madura secara harmonis. Sedangkan dalam pasal 4 tertulis bahwa keanggotaan BU bersifat regional dan kesukuan sempit, Jawa dan Madura, karena itu menurutnya dr. Tjiptomangunkusumo dan dr Stutomo keluar dari BU.
      Dn menutnya SI, yang berbahasa Indonesia dianggap merupakan pelopor bahasa kesatuan ini, karena anggaran dasarnya ditulis dalam bahasa Indonesia. Sedangkan Budi Utomo berbhasa Belanda. Disamping itu, Budi Utomo bersifat kooperatif / bekerja sama dengan Belanda, karena anggotanya merupakan kaum priyayi pegawai pemerintah penjajah Belanda. Sedang SI secara terang-terangan anti belanda. Keanggoitaan BU sendiri bersifat feodalistik dan keningratan , sedang SI bersifat kerakyatan.
      Disamping itu, BU sama sekali tidak memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. BU sendiri membubarkan diri 10 tahun sebelum proklamasi, yaitu pada Desember 1035 M. Sedangkan SI melancarkan perjuangan politik untuk kemerdekaan dan beberapa tokoh SI merupakan the founding father, pendiri republik ini, seperti: H. Agus salim, Abikusno, Abdul Kahar Muzakir dan lain-lain.
      Menurutnya juga aktifis SI berdesak-desak masuk penjara, ditembak mati oleh belanda, dan bamyak yang dfibuang ke Digul di Irian barat. Sementara tak ada satupun tokoh BU yang dipenjara apalagi dibuang ke Digul. SI sendiri lahir pada 16 Oktober 1905 dengan nama SDI (Syarikat Dagang Islam) yang pertama kali dibentuk oleh H. Samanhudi, yang kemudian berganti nama menjadi SI (syarikat Islam) pada 10 September 1912 M, sedang Budi Utomo baru dibentuk 3 tahun setelah itu (20 Mei 1908).
 
Karya
·         Detik-detik Terakhir Kehidupan Rasulullah SAW.
·         Jalan ke Surga
·         Dari Penjara ke Meja Hijau
 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda