ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Intelektual. > Amin Rais

 
 
 
 
 
 
 
 

Amin Rais

 
AMIEN RAIS, Prof. Dr., (1944-     M)
Pakar politik
 
      Seorang pakar politik yang kemudian menjadi lokomotif reformasi di Indonesia pada tahun 1998 M.
      Nama: Muhammad Amien Rais, lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 26 April 1944. Ayahnya Suhud Rais (w.1985 M) seorang guru yang kemudian menjadi ketua majelis pendidikan dan pengajaran agama Surakarta. Ibunya juga seorang guru, yang kemudian memimpin sebuah sekolah perawat kesehatan (SPK) di Solo.
       Sejak kecil ia telah menjalani pendidikan agama yang kuat. Sejak SD sampai dengan SMA dijalaninya di sekolah Muhammadiyah. Disamping itu ia juga belajar di Madrasah Mambaul Ulum dan Madrasah Al Islam. Kemudian ia melanjutkan ke Jurusan Hubungan International Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM (Universitas Gajah Mada) di Yogyakarta. Disamping itu ia juga kuliyah di Jurusan Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tetapi beberapa tahun keluar keputusan dari pemerintah, bagi mahasiswa yang kuliyah ganda harus memilih salah satu, maka terpaksalah ia meninggalkan IAIN. Setelah selesai kemudian ia melanjutkan ke Universitas Chicago Amerika Serikat dan meraih gelar Doktor dalam ilmu politik (1981). Disertasinya berjudul The Moslem Brotherhood In Egiypt, Its Rise, Demise, and Resurgence (Ikhwanul Muslimin di Mesir, Kelahiran, Kematian, dan Kelahirannya Kembali). Untuk disertasinya ini ia menjadi mahasiswa luar biasa Universitas Al Azhar, Kairo, dan tinggal 1 tahun di Kairo, Mesir.
      Setelah itu, ia kemudian mengajar di almamaternya (sebagai dosen) dan menjadi pengamat politik Timur Tengah yang terkenal. Ia juga aktif berbagai organisasi: Muhammadiyah, ICMI, dan lain-lain. Ia pernah menjadi ketua Muhammadiyah, ketua dewan pakar ICMI, dan ketua PPSK, dan selanjutnya menjadi ketua MPR di era reformasi.
     Pemikirannya dalam ketatanegaraan, perpolitikan dan sikap oposisinya terhadap pemerintah mengantarkannya menjadi pemimpin terdepan dalam reformasi di indonesia pada tahun 1998. Ia juga mendirikan partai yang merupakan suatu istrumen untuk mengaktualisasikan ide-idenya yaitu PAN (Partai Amanat Nasional).
     Sebagai seorang teoritis dan juga praktisi dalam politik, ia berjasa dalam mengembangkan wacana perpolitikan dan kenegaraan di Indonesia yang lebih dinamis.
 
Pribadi dan Pemikiran
     Amin sejak kecil sudah biasa berpuasa sunat nabi Dawud As (sehari puasa sehari buka). Ia sejak muda sudah senang berorganisasi (ia aktif di Hizbul Wathan (kepanduan di Muhammadiyah), IMM, HMI) dan juga menulis. Dalam tradisi menulis ketika menjadi mahasiswa ia mendapat Zainal Zakse Award tahun 1967, suatu penghargaan jurnalisme yang diberikan kepada penulis mahasiswa yang kritis.
     Amin Rais adalah si kancil yang tak pernah sakit filek apabila melihat kemungkaran, kezhaliman atau penyelewengan yang ada didepan matanya. (Istilah kancil yang sakit filek, merupakan istilah yang dibuat oleh Amin Rais sendiri untuk menyindir kaum intelektual yang diam, seperti dalam dongeng, si kancil yang pura-pura sakit filek ketika harus menanggapi kemungkaran yang dilakukan oleh sang raja/ penguasa sehingga ada alasan untuk tidak mengatakan yang sebenarnya).
     Sebagai intelektual, kapasitasnya nyaris tak ada yang meragukannya. Kepakarannya dalam bidang politik tercermin dalam berbagai analisisnya yang sangat tajam. Tetapi yang menempatkannya dijajaran intelektual vokal adalah keberaniannya menggelindingkan isu-isu yang masuk dalam kategori rawan dimana orang yang masih takut membicarakannya. Isu suksesi ditahun 1990-an (ditengah-tengah Rezim ORBA yang otoriter) merupakan salah satu isu rawan yang pernah digulirkannya. Hal ini sampai dikhawatirkan oleh semua pihak dan juga oleh organisasinya tempat ia bernaung yaitu Muhammadiyah, yang dianggapnya bisa menggiring Muhammadiyah berjauhan dengan pemerintah. Isu suksesi ini memang seolah tertutup di Indonesia setidaknya hingga pemilu Maret 1998, dan merupakan isu yang tabu untuk dibicarakan. Isu suksesi yang ia gulirkan menurutnya setidaknya akan menjadi investasi politik dalam jangka panjang, paling tidak menurutnya ia sudah berusaha membuka tutupnya. Tidak hanya itu, dalam kasus Busang dan Freeport (suatu eksploitasi kekayaan negara oleh pihak asing dan direstui oleh pemerintah) ia termasuk orang yang paling berani lantang berteriak, agar gejala pengrusakan kekayaan bangsa oleh pihak asing segera dihentikan.
     Amin rais selalu mengingatkan suatu ungkapan, jika seseorang memegang kekuasaan yang terlalu lama disamping akan mengalami penumpulan visi dan persepsi terhadap ekologi, politik, sosial, budaya dan terhadap lingkungannya, juga kekuasaan yang terlalu lama akan cenderung korup. Tidak hanya itu, ketika ia memimpin puncak Ormas Muhammadiyah, malah berani melontarkan pendapat yang bersebrangan dengan pemerintah. Ia misalnya menaggapi kasus kerusuhan sosial yang waktu itu marak (di tahun 1997-an) di berbagai tempat. Ia berasumsi bahwa pemicu utama kasus kerusuhan yang banyak terjadi adalah kesenjangan sosial. Dimana terdapat gap yang terlalu lebar (sangat mencolok). Ia mengingatkan bahwa bangsa akan berdiri kokoh, jika keadilan sosialnya berjalan dengan baik.
      Ia mengkritik birokrasi Indonesia yang cenderung predatorik, hal ini ditandai dengan maraknya sistem birokrasi yang korup, tidak efisien dan pembangunan ekonomi yang sarat dengan dampak ekonomi biaya tinggi. Padahal menurutnya secara teoritis peranan birokrasi dalam suatu negara sebenarnya sangat baik, sebagai istrumen pengembang mekanisme pasar.
     Ia juga mengkritik kebijakan jangka pendek dalam menentukan siapa yang berhak mendapat fasilitas ekonomi (fasilitas ekonomi yang diberikan kepada suatu kelompok tertentu), karena kepentingan-kepentingan jangka pendek (penguasa). Kebijakan ekonomi yang ditentukan oleh sekelompok yang memiliki pengaruh dalam menentukan ekonomi, sehingga kebijakan ekonomi semakin jauh dari kepentingan masyarakat banyak.
     Dalam berpolitik, ia selalu mengkampanyekan apa yang disebutnya dengan high politics (politik tingkat tinggi), politik adiluhung dengan mempertimbangkan etika, moralitas dan sopan santun yang selaras dengan budaya bangsa. Istilah high politics dipakai olehnya untuk membedakan dengan selera politik rendahan yakni berpolitik hanya rebutan kursi saja.
    Dalam bidang keagamaan, disamping pernah menjadi ketua Muhammadiyah, ia juga adalah seorang yang gigih dalam membuat diskursus mengenai reaktualisasi nilai-nilai Islam. Ia merasa perlu untuk mengungkapkan bahwa sampai kapanpun nilai-nilai Islam akan senantiasa sanggup berdialog dengan realitas dan umat Islam-lah yang berkewajiban untuk senantiasa menemukan formula-formula aktualisasi Islam yang up to date dengan perkembangan zaman. Dan mengenai konsep tauhid, ia menegaskan bahwa dalam konsep tauhid tidak mengenal dan tidak memperbolehkan adanya diskriminasi berdasar ras, jenis kelamin, agama, bahasa, pertimbangan etnik, sehingga keadilan sosial yang konfrehensif itu harus ditegakkan oleh manusia yang beriman.
 
Karya
  •   Cakrawala Islam: Antara Cita dan Fakta (1987)
  •   Moralitas Politik Muhammadiyah (1995)
  •  Demi Kepentingan Bangsa (Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1997), buku ini berisi kumpulan ceramah, khutbah Jum’at serta tulisan-tulisan di Suara Muhammadiyah ini merupakan sumbangan yang cukup berarti bagi diskursus tentang nilai-nilai aktual Islam

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda