ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Intelektual. > Ali Yafe'i

 
 
 
 
 
 
 
 

Ali Yafe'i

 
ALI YAFIE, Prof., (1926-        M)
 
    Salah seorang ahli fiqih terkemuka asal Sulawesi Selatan dan penggagas fiqih sosial di Indonesia.
     Lahir di Wani Donggala, Sulawesi Tengah pada September 1926 M. Ia seorang ulama murni lulusan pesantren. Kakeknya Syaikh Abdul Hafdz Bugis, adalah salah seorang dari 3 ulama terkemuka yang menjadi guru besar pertama di Masjidil Haram, Mekah.   Ayahnya bernama Muhammad Yafei, banyak membimbingnya dalam masalah keagamaan.
      Pendidikan formalnya hanya lulusan Vervolg School (SD). Pada usia 5 tahun sudah mengaji kitab kuning, dan pada usia 15 tahun sudah mahir menguasai kitab kuning. Ia juga berguru kepada beberapa ulama di daerahnya, antara lain: Syekh Ali Mathar, Syekh Haji Ibrahim, Syekh Mahmud Abdul Jawad, dan lain-lain.
     Karirnya di mulai menjadi ketua syuriah NU cabang Pare-Pare, yang mengantarkannya menjadi anggota DPRD Pare-pare (1953-1958 M). Tahun 1959 pindah ke Ujung Pandang dan 2 tahun kemudian terpilih menjadi anggota DPRGR TK 1 mewakili NU, merangkap menjadi hakim agama. Ia kemudian menjadi ketua syuriah NU wilayah Sulawesi Selatan dan pada muktamar NU ke-25 tahun 1971, ia menjadi syuriah PBNU dan juga menjadi anggota DPR pusat. Selanjutnya bergabung dengan MUI dan menjadi ketua MUI menggantikan KH Hasan Bashry. Ia juga ikut serta dalam pendirian ICMI dan terpilih menjadi ketua dewan penasehat di organisasi tersebut.
    Ali Yafei terkenal sebagai sosok ulama yang mempunyai pendirian yang teguh. Ia tidak pernah setuju terhadap P4 (Pedoman Penghayatan Pengamalan Pancasila) dan pernah walk out dalam pembahasan P4 di DPR pada tahun 1973. Ia juga mengundurkan diri dari wakil rais am syuriyah PBNU (1991) sebagai bentuk protes terhadap pengurus NU yang menerima sumbangan dana judi SDSB yang dianggapnya haram.
 
Pemikiran
    Menurut Ali Yafie, ada pandangan yang salah dari umat Islam di Indonesia tentang arti fiqih, yang selalu diidentifikasikan dengan masalah-masalah ibadah saja (seperti masalah shalat, thaharah dan lain-lain). Padahal menurutnya masalah ibadah hanya sekitar ¼ bidang kajian fiqih dan selebihnya adalah masalah muamalah, munakahat, dan jinayat yang jarang dibahas dan diterapkan di masyarakat. Fiqih muamalat membahas persoalan-persoalan interaksi manusia dengan manusia, dari jual beli, gadai hingga asuransi dan perbankkan. Fiqih munakahat membahas persoalan manusia dalam lingkungan yang lebih spesifik: keluarga, nikah, talak, rujuk dan sebagainya. Sedangkan fiqih jinayat membahas penerapan hukum dan pelaksananya.
    Menurutnya studi fiqih merupakan studi yang paling dinamis, karena sasarannya adalah dinamika masyarakat yang selalu bergerak maju. Fiqih berusaha membina dinamika masyarkat agar sesuai dengan ajaran agama, dengan demikian fiqih harus dinamis. Dinamisasi ini berlangsung karena terbukanya pintu ijtihad.
   Dua sumber fiqih adalah wahyu dan ra’yu (rasio / nalar). Interaksi keduanya menimbulkan metode berpikir yang disebut ijtihad. Ijtihad inilah yang memproduk fiqih. Dengan demikian, fiqih memiliki ruang gerak yang luas untuk memecahkan semua persoalan menyangkut dinamika masyarakat.
    Ia menyayangkan dalam beberapa abad terakhir studi fiqih lebih banyak terpaku pada masalah fiqih produk ijtihad yang bertahun-tahun dari para fuqaha (ahli fiqih). Hal ini memang penting, tetapi jika hanya terpaku pada hal demikian, maka tidak akan dapat menangkap dinamika fiqih. Karena itu yang diperlukan sekarang adalah cara berpikir fiqih. Cara yang mengantar para fuqaha berijtihad sesuai dengan perkembangan zamannya.
    Untuk hal demikian maka perlu adanya reformulasi studi fiqih. Reformulasi yang diperlukan saat ini menurutnya lebih tertuju pada upaya menata fiqih sesuai dengan pemikiran modern. Kajian-kajian fiqih ketatanegaraan (al fiqhu al dusturi) yang membahas fiqih politik (siyasi), birokrasi (idari), masalah keuangan (maali), hukum sipil (madani) , kekeluargaan khusus merupakan contoh dalam hal ini.
 
Karya
  •    Menggagas fiqih Sosial.
  •  Teologi Sosial: Telaah Kritis Persoalan agama dn Kemanusiaan
 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda