ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Intelektual. > Ahmad Baiquni

 
 
 
 
 
 
 
 

Ahmad Baiquni

 
ACHMAD BAIQUNI (1923-1998 M)
Ahli Nuklir
 
    Seorang ahli nuklir pertama Indonesia dan guru besar pertama fisika nuklir di Indonesia.
    Ia lahir di Solo pada 31 Agustus 1923. Setelah lulus dari SMAN I Surakarta ia melanjutkan ITB Bandung dan menjadi lulusan terbaik dengan predikat cum laude (1952). Setelah 3 tahun menjadi asisten dosen fisika di UGM dan ITB, ia mendapat tugas belajar di School of Nuclear Science and Engineering di Argonne, AS. Gelar masternya (S2) fisika nuklir dari Universittas Chicago (1956) dan Ph.D (1964), dan ia adalah orang Indonesia pertama yang mendapat bimbingan dar Edward Teller dan Leo Szilard.
    Sekembalinya ke tanah air, ia menjadi guru besar fisika UGM, dan juga berkali-kali menjadi anggota delegasi khusus pemerintah Indonesia di forum-forum international, seperti: International Atomic Agency, Japan Atomic Industrial, Asian Regional Nuclear, dan lain-lain. Ia juga pernah menjadi komite ilmiyah PBB untuk akibat radiasi atom, dan aktif di Third World Academy of Sciences (TWAS) yang bermarkas di lembaga teoritik Triesty, Italia. Pendirian lembaga ini di gagas oleh fisikawan asal Pakistan peraih nobel, Prof. Abdussalam.
    Karier dan perannya, disamping menjadi guru besar fisika di UGM, ia juga: ikut merintis pembentukan reaktor risetdan program studi fisika nuklir di UGM, saintis senior BPPT, dirjen Batan (Badan tenaga atom nasional) (1973-1984), staf ahli Menristek), dubes RI untuk Swedia dan Prancis, menjadi rektor Universitas Nasional Jakarta (1992-1997), menjadi anggota kurator Universitas asy Syafi’iyah Jakarta, mengajar pascasarjana IAIN Jakarta dan Universitas Paramadina, ketua dewan pakar ICMI, ia juga pernah menjadi anggota bdan pertimbangan pendidikan nasional untuk 2 periode (1989-1996), dan lain-lain.
    Ia meninggal pada 21 Desember 1998 akibat penyumbatan pembuluh darah.
 
Pribadi, Peran dan Pemikiran
    Baiquni adalah ahli nuklir pertama yang dimiliki Indonesia dan ilmuwan Indonesia pertama yang belajar ilmu modern sejak berakhirnya penjajahan Belanda.
    Ditengah-tengah kesibukannya sebagai saintis ia juga punya perhatian yang mendalam terhadap dunia pendidikan, masalah lingkungan dan persoalan besar umat Islam. Tentang kejayaan peradaban Islam, menurutnya kejayaan itu akan diraih kembali jika punya keinginan yang keras dan bekerja keras untuk mencapainya.
 
Karya
  •   Fisika Modern (1978). Buku ini menjadi referensi mahasiswa FMIPA.
  •   Al Qur’an, Ilmu Pengetahuan dan Tekhnology (1994), yang berisi menyangkut ayat-ayat kosmologi. Dalam buku ini ia mengusulkan 6 istilah baru dalm terjemahan Al qur’an, yaitu kata Sama’ (langit) diterjemahkan menjadi ruang; Ardh (bumi) menjadi materi; Kalam (pena) menjadi karya tulis; Dukhan (asap) menjadi embunan; Arsy (singgasana) menjadi pemerintahan (Allah); dan Ma’ (air) menjadi zat alir.
 

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda