ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Intelektual. > Abdurrahman Wahid

 
 
 
 
 
 
 
 

Abdurrahman Wahid

 
ABDURRAHMAN WAHID (1940-    M),
                     
       Mantan ketua umum PBNU. Ia merupakan tokoh NU yang kontroversial, salah seorang yang getol menggelindingkan isue demokratisasi di Indonesia.
    Lahir di Denanyar Jombang Jawa Timur. Abdurrahman Wahid atau terkenal dengan nama Gus Dur, adalah putra dari Wahid Hasyim mantan mentri Agama dan cucu dari KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU.
    Pendidikan formalnya: sekolah dasar di Jakarta, sekolah menengah ekonomi pertama (SMEP) di Yogjakarta. Di sini ia juga belajar di pesantren Krapyak (pimpinan KH Ali Maksum), kemudian ke pesantren Tegalrejo di Magelang dan pesantren tambak Beras Jombang. Setelah itu ia belajar di Al Azhar, Kairo, tetapi kemudian ia pindah ke fakultas sastra Universitas Baghdad, Irak.
     Kariernya : menjadi pengajar di pesantren Tambak Beras, dekan fakultas ushuluddin Universitas Hasyim Asy’ary Jombang, dan pengasuh pondok pesantren Ciganjur Jakarta. Pada muktamar NU (Nahdatul Ulama) yang ke-28 ia kemudian terpilih sebagai ketua PBNU (1989-1994) dan terpilih lagi untuk periode berikutnya. Di era reformasi, ia terpilih menjadi presiden.
      Sebagai seorang turunan pendiri NU, pemikirannya mendapat tempat di kalangan kaumnya. Meskipun ia selalu mengkampanyekan tentang demokratisasi, karena dibesarkan dalam lingkungan tradisional feodalistik sehingga ia justru terjebak oleh sikap anti kritiknya.
 
Pemikiran
   Sejak berdirinya NU (Nahdatul Ulama), Gus Dur bisa dikatakan sebagai seorang pemikir yang unik di organisasi tersebut. Ia termasuk orang yang cukup penting dalam menggelindingkan isu demokratisasi di Indonesia (disamping tokoh lainnya: Amin Rais, Syafi’I Ma’arif, Nurcholis majid, Eef Saifullah Fatah dan lain-lain). Pemikirannya disamping kritik terhadap rezim berkuasa juga merupakan autokritik terhadap organisasi yang ia besarkan (NU). Pemikirannya tentang Civil Society merupakan hal yang baru dalam lingkungan NU yang merupakan organisasi tradisional feodalistik keagamaan di Indonesia.
     Untuk pemberdayaan masyarakat bawah menjadi esensial, kelompok akar rumput inilah dalam sistem politik di Indonesia sengaja dipinggirkan demi menjaga stabilitas. Tetapi yang menjadi masalahnya justru adalah organisasi dimana ia berkiprah (NU), mayoritas anggotanya berada   dalam masyarakat bawah ini, yang selalu terlilit dalam masalah: kemiskinan, keterbelakangan dan marjinal.
 
Karya
·         Bunga rampai Pesantren (1979)
·         Muslim di tengah Pergumulan (1981)

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda