ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM INDONESIA > Intelektual. >  Quraisy Shihab

 
 
 
 
 
 
 
 

 Quraisy Shihab

QURAISY SHIHAB, Prof. Dr., (1944-   M)
        
        Ahli tafsir terkenal Indonesia. Ia merupakan orang Indonesia pertama yang mendapat gelar doktor dalam bidang tafsir dari universitas Al Azhar, Mesir.
     Ia lahir di Rappang, Sulawesi Selatan pada 16 Februari 1944 M, berasal dari keluarga keturunan Arab terpelajar. Ayahnya, Abdurrahman Shihab (w. 1986) adalah lulusan Jami’atul Khair dan pernah menjadi rektor IAIN Alauddin Makasar. Pada usia 14 tahun (1958) mendapat beasiswa dari pemerintah Sulawesi untuk belajar di Al Azhar Kairo. Tahun 1967 meraih gelar LC dari fakultas Ushuluddin, dan pada tahun 1969 meraih gelar MA untuk spesialisasi bidang tafsir al Qur’an, dengan thesis berjudul Al Ijaz al Tasyri’iy li al Qur’an al Karim. Pada tahun 1982 meraih gelar doktor di bidang   ilmu-ilmu Al Qur’an dengan yudisium summa cum laude, disertai piagam perhargaan tingkat pertama, dengan disertasi Ar Durar li Al Biqay Tahqiq wa Dirasah. Dalam disertasinya ini ia membahas masalah korelasi antar ayat-ayat dan surat-surat dalam Al qur’an sebagai fokus penelitian, dengan rujukan utama Kitab Nazhm al durar fi Tanasub al Ayat wa al Surar karya mufasir kenamaan, Al Biqa’I, seorang ulama yang berhasil menyusun suatu karya yang sempurna dalam masalah perurutan atau korelasi antar ayat dan surat dalam Al qur’an.
     Dalam kariernya, ia menjadi staf pengajar pada IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, kemudian menjadi rektor IAIN tersebut (1993). Ia juga pernah menjadi mentri agama, salah seorang ketua MUI (sejak 1984), asisten ketua ICMI (1990), dan lain-lain. Ia juga sering menulis dan memberikan konsultasi di beberapa media masa: harian Pelita, majalah Amanah, harian Republika, dan lain-lain.
     Quraisy Shihab mempunyai pembawaan yang santai dan selalu tenang. Sikapnya yang teduh dan akrab penuh senyum keakraban. Gaya bicaranya seolah diatur sedemikian rupa sehingga apa yang keluar merupakan kata pilihan yang sudah disaring dengan cermat.
 
Pemikiran
   Dalam thesisnya, ia sedapat mungkin mencoba meluruskan makna tentang mu’jizat, yang telah berkembang sedemikian rupa sehingga sudah tidak jelas mana yang disebut mujizat dan mana yang hanya merupakan keistimewaan. Menurutnya Mu’jizat dan keistimewaan merupakan 2 hal yang sangat berbeda, tetapi keduanya masih sering dicampuadukan, bahkan oleh kalangan ahli tafsir itu sendiri.
    Dari analisisnya terhadap buku-buku yang menguraikan tentang kemu’jizatan Al qur’an, ia menjumpai banyak kenyataan bahwa terlalu banyak sisi yang dianggap mu’jizat oleh kaum muslimin, padahal bukan. Sebab apa yang dianggap mu’jizat itu sebenarnya lahir dari subyektifitasnya kaum muslimin semata-mata. Ia mencontohkan tentang pernyataan Imam az Zarqani, ulama besar asal Mesir, dalam karyanya Manah al Irfan yang mengatakan bahwa : “ AlQur’an itu adalah mu’jizat dari sisi memenuhi semua kebutuhan manusia.” Pernyataan ini menurutnya merupakan hasil subyektifitasnya sebagai muslim. Sebab pernyataan ini pasti akan ditolak oleh kalangan non muslim. Dan yang kedua, dalam beberapa kitab tafsir dikatakan bahwa Al qur’an itu mu’jizat karena mampu menyentuh hati pembacanya.” Pernyataan ini menurutnya patut dipersoalkan, karena banyak pembaca Al qur’an bahkan kaum muslimin sendiri ternyata tidak tersentuh hatinya. Ada juga yang mengatakan Al qur’an itu mu’jizat dari segi bahasa. Hal ini juga mendapat sorotan darinya. Menurutnya, memang bahasa Al qur’an mengandungsastra yang tinggi, tetapi ini hanya berlaku bagi bangsa Arab yang memamahami bahasa Arab, kaum muslim bukan Arab yang tidak paham bahasa Arab , seperti bangsa Indonesia, jelas tidak akan tahu kandungan sastra Al Qur’an.
 
Karya
  • Membumikan Al Qur’an (Mizan, 1992)
  • Tafsir Al Amanah (1992), yang ditulis secara serial dalam majalah bulanan Amanah. Dalam menafsirkan ini ia menempuh cara yang tergolong baru, yang menurutnya para ahli tafsir Indonesia belum mempergunakan metode ini, yaitu:
ü Menggabungkan antara metode Maudhu’I dengan Tahlily disamping masih dilengkapi dengan metode penafsiran lain yang dianggap relevan. Pada proses awal, dalam pencarian makna kata dipergunakan metode maudhu’I, sementara penyajian masalahnya memamfaatkan metode Tahlily, sedangkan penarikan maknanya diusahakan dengan melihat korelasinya (munasabah) dengan ayat lain. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Bint al Syathi, ahli tafsir wanita asal Mesir.
ü Tafsir ini ditulis menurutnya sedapat mungkin sesuai kronologi turunnya ayat
  • Studi Kritis Tafsir al Manar: Keistimewaannya dan Kelemahannya (1994)
  • Lentera Hati, Kisah dan Hikmah (Mizan, 1994), buku ini pertama kali terbit pada Februari 1994, dan hingga April 2000, sudah dicetak 20 kali. Buku inilah yang menurutnya tadinya yang akan di beri judul Membumikan Al Qur’an.
  • Sejarah Ulumul Qur’an (1994)
  • Makhkota Tuntunan Ilahi (tafsir Surat Al fatihah) (1996)
  • Secercah Cahaya Ilahi (Mizan, 2001)
  • Wawasan Al Qur’an Dengan Metode Madhu’I (tematis)”, Dalam buku ini ia memunculkan tradisi baru dalam sosialisasi Al Qur’an di Indonesia. Dalam bukunya tersebut, ia mengedapankan persoalan kontemporer dan solusi dari Al qur’an dengan cara menafsirkan ayat-ayat dari berbagai surat yang berkaitan dengan persoalan-persoalan itu. Dengan penafsiran tematis ini membuat umat lebih mudah memperoleh pemahaman atas kandungan Al Qur’an
  • Haji Mabrur Bersama Quraish Shihab (1997)
  • Mu’jizat Al Qur’an (1997)
  • Hidangan Ilahi: Ayat-ayat Tahlil (1997)
  • Tafsir Al qur’anul Karim (1997)
  • Mengungkap tabir Ilahi: Asma ul Husna dalam Perspektif Al qur’an (1998)
  • Fatwa-fatwa Seputar Al Qur’an dan hadits (1999)
  • Fatwa-fatwa Seputar Ibadah dan Muamalah
  • Fatwa-fatwa Seputar Tafsir Al Qur’an (2000)
  • Tafsir al Mishbah (Pelita / Lentera) atau lengkapnya Tafsir Al Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al Qur’an, terdiri dari 15 volume. Kehadiran kitab ini semakin mengukuhkannya sebagai ahli tafsir dinegeri ini. Menurutnya setidaknya ada 2 alasan utama yang melatar belakangi penulisan tafsir ini, yaitu:
ü Keprihatinnya terhadap kemyataan bahwa umat Islam Indonesia mempunyai ketertarikan yang besar terhadap Al qur’an tapi sebagian hanya berhenti pada pesona bacaannya. Ketika dilantunkan seakan-akan kitab suci ini hanya untuk dibaca. Padahal menurutnya, bacaan al qur’an hendaknya disertai dengan kesadaran akan keagungan-Nya disamping pemahaman dan penghayatan yang disertai dengan Tadzakur dan tadabur.
ü Tidak sedikit umat Islam yang mempunyai ketertarikan luar biasa terhadap makna-makna Al Qur’an, teatapi menghadapi kendala, terutama waktu, ilmu-ilmu yang mendukung dan kelangkaan buku rujukan yang memadai dari segi cakupan informasi, jelas dan tidak bertele-tele
  • Menuju Keabadian, Kematian, Surga dan Ayat-ayat Tahlil (2001)
  • Empat Puluh Hadits Qudsi Pilihan (Terj. 2002)
  • Menjemput Maut (2002)

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda