ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > SAINTIS > Intelektual Ensiklopedis > Abu Raihan al Biruni

 
 
 
 
 
 
 
 

Abu Raihan al Biruni

 
ABU RAIHAN AL BIRUNI (351-440 H/ 962-1049 M)
Ensiklopedis, Ahli Fisika, Matematika, Ilmu Bumi dan Kebudayaan
 
“ ….. Sesungguhnya saya hanya melakukan apa yang wajib dilakukan oleh manusia dalam perbuatannya yaitu menerima kreatifitas dari orang-orang sebelumnya dengan penuh pengabdian dan memperbaiki kesalahan-kesalahannya jika tergelincir …..dan mengabadikan apa yang ada sebagai catatan untuk orang-orang yang terlambat orang mengetahuinya dan orang-orang yang datang kemudian… (Al Qanun 1 / 4-5)
 
     Seorang pemikir ensiklopedis, penulis dan pengembara Arab terkenal. Ia seorang jenius yang serba bisa, ahli dalam ilmu alam (fisika), matematika, ilmu bumi (geografi) dan kebudayaan, juga kedokteran, astronomi, tarikh (sejarah), antropologi, agama, sastra, astrologi, meteorologi, jam matahari, geologi dan lain-lain.
     Nama Abu Raihan Muhammad Ibn Ahmad Al Biruni. Tentang tempat kelahirannya para ahli berbeda pendapat, Shahrazurl seorang ahli biografi dalam bukunya Tawarikh-I-Hukma menyatakan Al Biruni lahir disebuah kota yang bernama Birun, suatu kota yang indah dengan berbagai kelebihan dan keistimewaanya di Sind. Tetapi pendapat ini diragukan adanya, karena dalam sejarah tidak pernah ada bukti ada kota Birun di Sind kuno. Ia diperkirakan dilahirkan di daerah terpencil di Khuwarzam, Asia Tengah, suatu daerah yang banyak disebut-sebut dalam karangannya.
    Masa muda dan pendidikannya tidak banyak diketahui, tetapi sebagai intelektual yang berkecimpung dalam kancah ilmu pengetahuan, Al Biruni tak pernah merasa puas dengan semua yang diketahuinya. Ia belajar matematika dan pengkajian bintang dari Abu Nashr Mansur. Ppada usia 17 tahun, ia meneliti garis lintang bagi kath, Khwarazam dengan menggunakan altitude maksima matahari. Pada usia 22 tahun ia menulis beberapa hasil kerja ringkas, termasuk kajian pproyeksi eta”kartografi” yang termasuk metodologi untuk membuat proyeksi belahan bumi di bidang datar. Ada usia 27 tahun, ia menulis buku yang berjudul Cronology yang merujuk kepada hasil kerja lain yang dikalikan oleh beliau (buku ini telah tiada), termasuk sebuah buku tentang astrolab, sebuah buku tentang sistem desimal, 4 buku tentang pengkajian bintang, dan 2 buku tentang sejarah.
       Ia meninggalkan tanah kelahirannya (mengembara) menuju kota Ray. Di Sini ia mendapat perlindungan dari Amir Syamsul Ma’ali, penguasa JurJan dan Tabaristan, yang senang mengumpulkan ilmuwan sebagai penasehat negara. Tetapi karena penguasa itu bersifat kejam terhadap para penentang pendapatnya, Al Biruni meninggalkan Ray kembali ke Khuwarzam, pada tahun 1016 M. Disini ia berjumpa dengan para ilmuwan, salah satunya Ibnu Sina seorang filsuf dan dokter yang amat masyhur, yang menjadi sahabat karibnya.
      Tetapi pertemuan itu tidak lama, pada tahun 1016 M Sultan Mahmud Ghaznawi sang penakluk, menaklukan Khuwarzam. Ibnu Sina melarikan diri ke Persia yang dikuasai Buwaihid, karena ketidaksenangannya terhadap sikap Sultan Mahmud yang keras terhadap lawan pendiriannya. Sedang Al Biruni dan ilmuwan lainnya dikumpulkan dan di bawa ke ibukota Ghaznah, Afghanistan untuk membentuk majelis ilmu dibawah lindungan Sultan Mahmud.
    Al Biruni mendapat kesempatan mengunjungi India bersama Sultan Mahmud Ghazna. Kemenangan Sultan Mahmud membuka kawasan Timur Laut India bagi Umat Islam. Hal ini tidak disia-siakan oleh Al Biruni, ia berkelana ke India 20 tahun lamanya, untuk mencari pengetahuan baru, sekaligus menyebarkan Islam bersama para ilmuwan lainnya. Di India ia mengkaji lebih jauh filsafat Hindu dan menyoroti per-adat-an yang timpang dari ajaran pemikir Hindu kuno, seperti misalnya bagaimana masyarakat Hindu mensucikan Sapi sehingga dinding rumahnya di temboki dengan kotorannya. Ia juga bertukar pikiran dengan para astronom India.
    Atas dorongan Abu Sahl Abd. Al Mun’im Ibn ‘Alf Ibn Nuh Al Tiflisi, semua pengamatan dan analisanya selama di India itu dirangkumnya dalam buku yang terkenal Kitab Tahqiq Al Hind yang disempurnakan antara tahun 1010-1031 M.
    Perburuan ilmu yang dilakukan Al Biruni ke berbagai negeri menghabiskan 40 tahun masa hidupnya. Konon ia tidak pernah melepaskan pena (pulpen) dari tangannya atau mengalihkan mata dari sebuah buku dan pikirannya selalu terarah pada studinya.
    Ia mula menulis karya-karyanya sejak umur 28 tahun , yang keseluruhannya menghasilkan 120 buah buku. Pada masa senjanya , ia masih menyempatkan diri mempelajari bahasa Sangsekerta agar dapat mudah menguasai pembendaharaan ilmu pengetahuan India.
     Ia meninggal pada usia 75 tahun. Ia banyak meninggalkan karya tulis (sekitar 120 buah). Dr. B. Nashim dari Peshawar University, menguraikan karya-karya Al Biruni, antara lain: untuk bidang geometri dan astronomi sebanyak 18 buku, 15 geografi, 8 matematika, 4 tentang cahaya, 5 ilmu falak, 5 tentang musim sepanjang tahun, 5 tentang komet, 12 tentang bulan, 7 buku tentang ilmu nujum, 13 buku tentang cerita, 6 buku tentang agama, dan sekitar 20 buku yang belum sempat terselesaikan sampai ia meninggal.
 
Pemikiran
     Al Biruni adalah seorang pemikir, penulis dan pengembara Arab yang sangat terkenal.    Perhatiannya yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan sastra bukan saja di bantu oleh kecerdasannya tetapi ditunjang oleh ketekunannya dalam menguasai berbagai bahasa. Disamping bahasa Arab, Persia, Turki, Hebrew (Ibrani), Sambani, ia juga terkenal amat memperhatikan bahasa Sangsekerta. 
     Al Biruni adalah sosok Intelektual muslim yang sesungguhnya, ia tidak hanya mempelajari, tetapi juga mengkritik, mengoreksi dan mencipta. Banyak sumbangannya terhadap berbagai ilmu pengetahuan, yang menimbulkan inspirasi bagi ilmuwan sesudahnya. Salah satu kritikannya terhadap Euclides dan Ptolemaeus, serta mengoreksi pendapatnya, yang mengatakan bahwa benda menjadi terlihat karena mata memancarkan sinar kepada benda, Al Biruni berpendapat sebaliknya, benda menjadi terlihat justru karena benda memantulkan sinar yang tertangkap oleh mata. Dibahasnya pula tentang pecahan sinar (spekrum). Mengenai masalah spekrum ini tidak mungkin dibahasnya tanpa suatu percobaan
     Dalam ilmu bumi, Albiruni juga besar sumbangannya, dialah yang menetapkan garis-garis lintang dan bujur bumi secara tepat. Ia melakukan penelitian radius bumi kepada 6.339,6 km, hasil ini diulang dibarat pada abad ke-16 M.
     Dalam bidang kebudayaan, ia adalah satu-satunya penulis Arab yang menyelidiki masa lampau timur (India) dengan semangat. Dan sumbangannya kepada matematika meliuti aritmetika teoritis dan praktis; Penjumlahan seri; analisis koimbinatorial; kaidah angka 3; bilangan irasional; teori perbandingan; Definisi aljabar; metode pemecahan penjumlahan aljabar; Geometri; Teorema Archimedes’; Sudut seitiga dan lain-lain.
        Al-Biruni, seorang ilmuwan yang sangat hebat. Sejarawan Sains Barat, George Sarton begitu mengagumi kiprah dan pencapaian al-Biruni dalam beragam disiplin ilmu. ”Semua pasti sepakat bahwa Al-Biruni adalah salah seorang ilmuwan yang sangat hebat sepanjang zaman,” cetus Sarton.
     Bukan tanpa alasan bila Sarton mendapuknya sebagai seorang ilmuwan yang agung. Sejatinya, al-Biruni memang seorang saintis yang sangat fenomenal. Sejarah mencatat, al-Biruni sebagai sarjana Muslim pertama yang
mengkaji dan mempelajari tentang seluk beluk India dan tradisi Brahminical. Dia sangat intens mempelajari bahasa, teks, sejarah, dan kebudayaan India.
      Kerja keras dan keseriusannya dalam mengkaji dan mengeksplorasi beragam aspek tentang India, al-Biruni pun dinobatkan sebagai ‘Bapak Indologi’ studi tentang India. Tak cuma itu, ilmuwan dari Khawarizm, Persia itu juga dinobatkan sebagai ‘Bapak Geodesi’.
     Di era keemasan Islam, Al-Biruni ternyata telah meletakkan dasar-dasar satu cabang keilmuan tertua yang berhubungan dengan lingkungan fisik bumi. Selain itu, al-Biruni juga dinobatkan sebagai ‘antropolog pertama’ di seantero jagad. Sebagai ilmuwan yang menguasai beragam ilmu, al-Biruni juga menjadi pelopor dalam berbagai metode pengembangan sains.
     Sejarah sains mencatat, ilmuwan yang hidup di era kekuasaan Dinasti Samaniyah itu merupakan salah satu pencetus metode saintifik eksperimental. Al-Biruni pun tak hanya menguasai beragam ilmu seperti; fisika, antropologi, psikologi, kimia, astrologi, sejarah, geografi, geodesi, matematika, farmasi, kedokteran, serta filsafat. Dia juga turun memberikan kontrbusi yang begitu besar bagi setiap ilmu yang dikuasainya itu
       Jika menyimak hasil karyanya dari berbagai segi, maka penemuan-penemuannyanya tidak kalah dengan penemuan ilmuwan barat. Pada abad 17 Galileo dan Newton pernah mencengangkan dunia dengan tulisannya tentang bumi dan teori gravitasi. Padahal 7 abad sebelumnya kerangka penemuan mereka telah dibuat Al Biruni. Dunia menghormati Galileo karena temuan teleskopnya, namun itu akan pincang dan sesat jika kita menutup sebelah mata akan fakta bahwa teleskop Galileo merupakan perbaikan dari Ustarlab Al Biruni.

Karya
  •   Istikhraj Al Auwtar, kitab yang membahas ilmu matematika, buku ini sekarang berada di perpustakaan Universitas Leiden, Inggris dalam bentuk manuskrif (tulisan tangan).
  • Al Qanunu’l Mas’udi fi’l Haiah wa’n Nujum atau terkenal dengan nama Qanun Al Mas’udi, (ketentuan-ketentuan Al Mas’udi), dibarat dikenal dengan Canon Masudicus, sebuah kitab ensiklopedi astronomi yang ditulis pada tahun 421 H (1030 M), sepulang dari India, yang dipersembahkan untuk pelindungnya, Sultan Mas’ud Bin Mahmud (Pengganti Mahmud Al Ghaznawi). Karya ini merupakan karyanya yang paling komprehensif dalam bidang astronomi dan ilmu yang mencakup gerhana matahari, gerhana bulan, angin, badai, kosmologi, hujan, arah angin, air terjun, serta ilmu tentang pengukuran dalamnya laut dan sungai.
  • Kitab Tahqiq Al Hind (Fakta-fakta (penelidikan) tentang India) atau Tahqiqu Ma Lil Hindi Min Muqauwalah, Maqbulatin Fil “aqli Au Marzulah (penyelidikan (fakta-fakta) tentang hal-hal di India, yang diterima atau yang ditolak oleh akal). Dalam buku ini ditulis panjang lebar tentang ilmu pengetahuan, kepercayaan, ibadat, keagamaan dan filsafat India, yang merupakan pengalamannya dalam pengembaraan ke India. Pembahasanya tidak hanya sepintas, tetapi juga pengupasan dan perbandingan, diantara dasar pikiran India dan dasar pikiran Yunani. Ia banyak memberikan pertimbangan bahwa kehidupan yoga di India banyak sekali persamaannya dengan kehidupan dan riadhah kaum sufi.
  • Al Atsarul Baqiyah Anal Qurun Al Khaliliyah (Cronology of Ancient Nations / Rahasia-rahasia yang tertinggal dan abad-abad yang lalu), tentang kronologi bangsa-bangsa purba, berisi akurat tentang sejarah dan geografi. Buku ini secara khusus membicarakan penanggalan dan asal-usul bangsa purba. Juga membahas teori aktual tentang perputaran bumi pada sumbunya, tentang garis lintang dan garis bujur yang dinyatakan secara akurat.
  • Al Hawi (kitab menyeluruh)
  • Kitab Al Jamahir fi Ma’rifah Al jawahir (kumpulan pengetahuan tentang batu-batu permata), yang membicarakan pelbagai jenis permata dan berat jenisnya.
  • Al Tafhim Fi at Tanjim, kitab tentang pemahaman astronomi, telah diterjemahkan   ke dalam bahasa Inggris oleh Wright, pada tahun 1934 M.
  • Kitab Asy Syahdalah (Buku tentang ramuan-ramuan)
  • Maqalid ‘Ilm Al Hay’ah (Kunci ilmu perbintangan)
  • Tahdid Nihayah Al Amakin (Penentuan koordinat kota-kota)
  • Kitab Al Kusuf Wa Al Khusuf ‘Ala Khayal Al Hunud (Kitab tentang pandangan orang-orang India terhadap peristiwa gerhana matahari dan gerhana bulan)
  • Al Tafhim li Awail Sina’ati’t Tanjim, berisi tanya jawab tentang ilmu hitung, ilmu ukur,alimu perbintangan dan ilmu jalak.
 (By: Adeng Lukmantara)

Referensi
1.    Arsyad, M.Natsir Cendekiawan Muslim dari Khalili sampai Habibi, Srigunting, Jakarta, 1995, cet-1
2.    Ahmad, KH. Jamil,Seratus Muslim Terkemuka (Terj),   Pustaka Firdaus,   Jakarta, 1984, Cet.-3.
3. Amin, Husayn Ahmad,   Seratus Tokoh dalam   Sejarah Islam,   Remaja   Rosdakarya, Bandung, 2001, cet
4.    Nawfal, Al Ustadz Ing. Abdul Razali, Tokoh Tokoh Cendekiawan Muslim Sebagai Perintis Ilmu Pengetahuan Modern, Kalam Mulia, Jakarta,  1999, cet-1.
5.    Efendi, Muhammad Nur, Cendekiawan Muslim Pembina Tamadun dan  Kecemerlangan Umat, Perniagaan Jahabersa, Johor bahru.
6.    Dahlan, Abdul Aziz (editor),   Ensiklopedia Islam, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 1996, (6 Jilid)
7.   Dahlan, Abdul Aziz (editor), Ensiklopedia Islam Untuk Pelajar, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, (6 Jilid)


 
 
 
 
 
 

 

 

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda