ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > SAINTIS > Ahli Matematika >  Umar Khayam

 
 
 
 
 
 
 
 

 Umar Khayam

UMAR KHAYYAM (1048-1131 M)
Matematikawan, Astronom, Filsuf dan Penyair

 

     Salah seorang raksasa intelektual dalam peradaban islam Klasik. Ia adalah ahli matematika, juga astronom terkemuka disamping seorang penyair (pujangga) yang masyhur.
     Nama Ghyasuddin Abul fateh Ibn Ibrahim Al Khayyami, lahir di Nisyapur, Khurasan, Persia, pada tahun 1048 M. Kebanyakan sejarawan berpendapat bahwa ia berkebangsaan Persia, tetapi sebagian sejarawan berpendapat dia berasal dari suatu kafilah Arab Al Khayyami (pembuat tenda), yang berpindah tempat dan menetap di Persia, setelah ditaklukan kaum muslimin.
     Sebagai keluarga yang cukup berada, Al Khayyami mendapatkan pendidikan yang terbaik di masa mudanya. Ia menjadi murid dari Imam Muwakkif, seorang pengajar yang terkenal di Nisyapur. Disini ia berjumpa dengan Hasan Ali Ibn Ishaq (Nizam Al Mulk) dan Hasan Bin Sabah, pendiri sekte Ismailiyah yang fanatik (yang dinamakan kaum Assasin), yang sama-sama menjadi murid Imam Muwakkif.
     Karena mempunyai watak skeptis (selalu meragukan), setelah menyelesaikan studinya, ia mengembara ke Samarkand, Isfahan dan Balkh, yang merupakan pusat-pusat intelektual waktu itu, dan menambah pengetahuan astronominya dengan bertukar pikiran (berdebat) dengan beberapa intelektual penting yang diam di kota-kota tersebut. Ia juga menggabungkan penyelidikan ilmiyahnya dengan studi ilmu pengobatan, dan mendapat reputasi yang tinggi sebagai seorang tabib / dokter.
     Pada tahun 1074 M, ia ditunjuk oleh wazir Nizam al Mulk (pada masa sultan Malik Syah Seljuk) untuk membangun observatorium di Istana. Dan ia ditunjuk (bersama Abdurrahman Al Hazimi) memimpin penelitian astronomi di Observatorium yang berpusat di Rayy tersebut.
     Pada tahun 1078 M, ia memperbaharui kalender Persia yang diciptakan oleh Jalaluddin Abu al Fath (dan terkenal dengan nama kalender Jalali). Kalender yang diperbaharuinya dipakai di Iran hingga abad 20 M.
     Karena tidak sejalan dengan sultan Sanjar (pengganti Malik Syah), pada tahun 1098 M (di usia 50 tahunan), ia mengundurkan diri sebagai tenaga ahli istana, lalu mengembara, mengajar dan menulis. Pada masa inilah ia menulis rubaiyatnya.
      Pada 4 desember 1131 M, ia meninggal dan dimakamkan di Nisyapur. Ia banyak meninggalkan karya ilmiyah yang sangat berharga, terutama dalam matematika, astronomi, dan syair. Karya-karyanya banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa di Asia dan Eropa. Ia setidaknya meninggalkan 3 risalah tentang metafisika, dan karya-karyanya tentang Aljabar diterjemahkan pada tahun 1851.   
 
Pemikiran
     Khayyam memproklamirkan dirinya sebagai pengikut Ibn Sina yang dikenal sebagai saintis, filsuf dan rasionalis. Ia sezaman dengan Al Ghazali, tetapi ia tidak membuat bantahan ketika Al ghazali mengkritik Ibn Sina. Sebagai pakar yang masyhur, ia terus berjalan mengembangkan ilmu pengetahuannya.
     Ia seorang ahli matematik yang luar biasa dan terkenal sebagai ahli matematika sejak usia 30-tahun-an. Di bidang ini, ia sangat berjasa dalam pengembangan aljabar dan geometri, dengan memperkenalkan persamaan parsial antara aljabar dan geometri. Ia juga adalah orang pertama secara ilmiyah membuat klasifikasi persaman linier (persamaan tingkat 1), dan mencari kemungkinan persamaan tingkat 3 (kubik) Karya-karyanya dalam bidang ini, khususnya aljabar dinilai sangat istimewa karena didasarkan pada penelitian.
     Dalam bidang astronomi, ia memperbaharui kalender Jalali (At tarikh al jalali) yang validitas dan realibilitas kalender itu dapat dipertanggungjawabkan sebagai kalender yang spektakuler (luar biasa), dan tetap digunakan di Persia lebih tepat dan lebih maju dari kalender buatan Gregorious (buatan 600 tahun kemudian) yang terkenal dengan nama Gregorian.
    Dalam bidng fisika, ia meneliti berat jenis emas dan perak. Ia menentukan metode untuk memastikan berat benda bertatahkan batu permata tanpa mengeluarkan permata tersebut.
    Sebagai filsuf rasionalis ia dijuluki hujjah al haqq (pembela kebenaran). Ia membagi pencari kebenaran dalam 4 kelompok:
Ø Golongan yang puas dengan argumen logis.
Ø Filsuf yang mendasarkan diri pada penalaran murni namun gagal memelihara logika.
Ø Golongan yang berpendapat bahwa pengetahuan & sifat Tuhan terlalu pelik untuk dipahami, sehingga lebih banyak mendengarkan fatwa orang yang lurus.
Ø Kaum sufi, yakni golongan yang mengunggulkan pemurnian hati serta penyegaran moral yang dinilai sebagai jalan terbaik untuk mencapai tuhan.
     Dalam bidang syair, karyanya Rubaiyat (kuatrin) diterjemahkan oleh Fitz Gerolo menjadi Quatrain, menjadikan ia seorang penyair timur yang paling terkenal dibarat. Di tanah kelahirannya (Persia) tak banyak mengenal Umar Khayyyam sebagai penyair, tetapi nama besar Khayyam begitu dekat di Eropa dan Amerika. Di Persia ia hanya dikenal sebagai ahli matematika dan astronom, meskipun ia dikenal sebagai penyair tingkat tinggi, yang nilai kepenyairannya tidak sepenuhnya disadari oleh semasa hidupnya.
    Al Khayam kenyataannya seorang pujangga sufi gnostik yang menulis kuatrinnya tidak sebagai penolakan kepastian, tetapi sebagai koreksi (kritik) terhadap kemunafikan religius yang salah menganggap relatifitas sebagai kebenaran absolut. Disinilah letak kehebatan Khayyam, disamping sebagai saintis (ahli matematika, fisika dan astronomi) dan filsuf yang agamis, juga sebagai seorang pujangga (penyair) yang hebat.
 
Karya
  • Risalah tentang keberadaan, suatu risalah tentang metafisika, dan ada di perpustakaan Berlin, Jerman.
  •  Dar Ibn Qulliyat, suatu risalah kecil dalam bahasa Persia tentang metafisika tersimpan di perpustakaan Paris, Perancis.
  •   Nauroz Nama, suatu risalah tentang metafisika yang baru-baru ini diungkapkan oleh F. Rosen.
  •  Masadrat, penelitian tentang aksioma-aksioma Euclid, masih tersimpan di India Office, London, dan juga Paris.
  •  Mushkilat Al Hisab, yang menguraikan persoalan aritmetika yang rumit, kitab ini tersimpan di Munich, Jerman.
  •   Rubaiyat (kuatrin), sajak-sajak 4 baris. Bagian terbaik dari sajaknya di gubah pada masa mudanya, dalam lanskap ketenangan dan keindahan Nisyapur. Dibawah naungan pepohonan yang berbau harum, yang menaburkan bunga-bunga yang cantik dikakinya, ia sering duduk bersimpuh meminum Sharbat (bandrek) dingin dan mengisap Hookkah yang semerbak. Dia mengamati gadis-gadis bermata hitam berjalan hilir mudik, dalam keadaan itu ia lupa segala kegelisahan kehidupan duniawi. 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda