ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > SAINTIS > Ahli Matematika >  Abu Nashr Mansur bin Ali bin Irak

 
 
 
 
 
 
 
 

 Abu Nashr Mansur bin Ali bin Irak

ABU NASHR MANSUR BIN ALI IBN IRAK (970-1036 M)
Astronom & ahli matematika
 
      Ahli astronomi dan matematika terkemuka dizamannyaSang Penemu Hukum Sinus, murid dari Abu wafa’ yang terkenal dan guru Al Biruni. Ia banyak dikenal untuk penemuannya tentang hukum sinus. Sinus adalah perbandingan sisi segitiga yang ada di depan sudut dengan sisi miring.  Hukum sinus itu ternyata dicetuskan seorang matematikus Muslim pada awal abad ke-11 M.
      Nama Abu Nashr Mansur bin Ali ibn Irak. Lahir di Khwarazm, dan berasal dari keluarga Banu Iraq (Ibn Iraki) yang memerintah /   menguasai wilayah Khawarizm (sekarang, Kara-Kalpakskaya, Uzbekistan)) sebelum terjadinya penaklukan oleh Mahmud al Ghaznawi. Ia meninggal di Ghazna (Afghanistan sekarang). Khawarizm merupakan wilayah yang berdampingan dengan Laut Aral. Dia menjadi seorang pangeran dalam bidang politik
    Di Khawarizm itu pula, Abu Nasr Mansur menuntut ilmu dan berguru pada seorang astronom dan ahli matematika Muslim terkenal Abu'l-Wafa (940 M - 998 M). Otaknya yang encer membuat Abu Nasr dengan mudah menguasai matematika dan astronomi. Kehebatannya itu pun menurun pada muridnya, yakni  Al-Biruni (973 M - 1048 M).
        Kala itu, Al-Biruni tak hanya menjadi muridnya saja, tapi juga menjadi koleganya yang sangat penting dalam bidang matematika. Mereka bekerja sama menemukan rumus-rumus serta hukum-hukum yang sangat luar biasa dalam matematika. Kolaborasi kedua ilmuwan itu telah melahirkan sederet penemuan yang sangat hebat dan bermanfaat bagi peradaban manusia.
      Perjalanan kehidupan Abu Nasr dipengaruhi oleh situasi politik yang kurang stabil. Akhir abad ke-10 M hingga awal abad ke-11 M merupakan periode kerusuhan hebat di dunia Islam. Saat itu, terjadi perang saudara di kota sang
ilmuwan menetap. Pada era itu, Khawarizm menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Samaniyah.
      Perebutan kekuasaan di antara dinasti-dinasti kecil di wilayah Asia Tengah itu membuat situasi
politik menjadi kurang menentu. Pada 995 M, kekuasaan Banu Iraq digulingkan. Saat itu, Abu Nasr Mansur menjadi pangeran. Tidak jelas apa yang terjadi pada Abu Nasr Mansur di negara itu, namun yang pasti muridnya al-Biruni berhasil melarikan diri dari ancaman perang saudara itu.
       Setelah peristiwa itu, Abu Nasr Mansur bekerja di istana Ali ibnu Ma'mun dan menjadi penasihat Abu'l Abbas Ma'mun. Kehadiran Abu Nasr membuat kedua penguasa itu menjadi sukses. Ali ibnu Ma'mun dan Abu'l Abbas Ma'mun merupakan pendukung ilmu pengetahuan. Keduanya mendorong dan mendukung Abu Nasr mengembangkan ilmu pengetahuan. Tak heran jika ia menjadi ilmuwan paling top di istana itu.  Karya-karyanya sangat dihormati dan dikagumi.
     Abu Nasr Mansur menghabiskan sisa hidupnya di istana Mahmud di Ghazna. Ia wafat pada 1036 M di Ghazni,
sekarang Afghanistan.  Meski begitu, karya dan kontribusinya bagi pengembangan sains tetap dikenang sepanjang masa.
      Al-Biruni, Saksi Kehebatan Abu Nasr Sejatinya, dia adalah murid sekaligus kawan bagi Abu Nasr Mansur. Namun, dia lebih terkenal dibandingkan sang guru. Meski begitu, al-Biruni tak pernah melupakan jasa Abu Nasr dalam mendidiknya. Kolaborasi kedua ilmuwan dari abad ke-11 M itu sangat dihormati dan dikagumi. Abu Nasr telah 'melahirkan' seorang ilmuwan yang sangat hebat.
 
Kontribusi Abu Nashr
    Abu Nasr Mansur telah memberikan kontribusi yang penting dalam dunia ilmu pengetahuan. Sebagian Karya Abu Nasr fokus pada bidang matematika, tapi beberapa tulisannya juga membahas masalah astronomi.      Ia dikenal karena hasil revisinya yang kemudian disempurnakan tahun 398 H / 1007-1008 M terhadap versi Arab dari karya Spherics (diedit dan diterjemahkan oleh Krause, 1938 M) yang naskah aslinya telah hilang.   Tercatat sekitar 15 buah naskahnya tentang matematika yang telah diterjemahkan pada tahun 1948 M, yang isinya menyangkut perubahan berbagai macam persoalan dalam Zidjes (Set of Astronomical Table), penyelesaian terhadap kesukaran-kesukaran yang terdapat dalam karya Euclid, Elements, buku XIII, dan buku Jadual ad Daka’ik, mengenai fungsi trigonometri khusus.
    Dalam buku karya Al Biruni (973-1048) yang berjudul Treatice on Chords, Ibn Irak disebut sebagai penemu beberapa bukti matematika.Sedang dalm Chronology of Ancient Nations, juga karya al Biruni (yang diedit oleh CE Sachan), Abu Nashr (Ibn Irak) dipuji karena penemuannya untuk menentukan Apogee (titik terjauh dari bumi dalam peredaran suatu satelit), matahari, dari 3 titik yang selalu berubah-ubah pada ekliptika (orbit dimana matahari kelihatan bergerak). Nashiruddin Thusi juga memuji beberapa karyanya yang menguraikan tentang trigonometri.
     Dalam bidang matematika, dia memiliki begitu banyak karya yang sangat penting dalam trigonometri.  Abu Nasr berhasil mengembangkan karya-karya ahli matematika, astronomi, geografi dan astrologi  Romawi bernama  Claudius Ptolemaeus (90 SM – 168 SM). Dia juga mempelajari karya ahli matematika dan astronom Yunani, Menelaus of Alexandria (70 SM – 140 SM). Abu Nasr mengkritisi dan mengembangkan teori-teori serta hukum-hukum yang telah dikembangkan ilmuwan Yunani itu.
      Kolaborasi Abu Nasr dengan al-Biruni begitu terkenal. Abu Nasr berhasil menyelesaikan sekitar 25 karya besar bersama  al-Biruni, dan sekitar 17 karyanya hingga kini masih bertahan.   Ini menunjukkan bahwa Abu Nasr Mansur adalah seorang astronom dan ahli matematika yang luar biasa," papar  ahli sejarah Matematika John Joseph O'Connor dan Edmund Frederick Robertson
       Dalam bidang Matematika, Abu Nasr memiliki tujuh karya, sedangkan sisanya  dalam bidang astronomi. Semua karya yang masih bertahan telah dipublikasikan, telah dialihbahasakan kedalam bahasa Eropa, dan ini memberikan beberapa indikasi betapa sangat pentingnya karya sang ilmuwan Muslim itu.
           Perannya sungguh besar dalam pengembangan trigonometri dari perhitungan Ptolemy dengan penghubung dua titik fungsi trigonometri yang hingga kini masih tetap digunakan. Selain itu, dia juga berjasa dalam mengembangkan dan mengumpulkan tabel yang  mampu memberi solusi angka yang mudah untuk masalah khas spherical astronomy (bentuk astronomi).
       Secara khusus Abu Nasr mempersembahkan sebanyak 20 karya kepada muridnya al-Biruni. Salah satu adikarya sang saintis Muslim ini adalah komentarnya dalam The Spherics of Menelaus. Abu Nasr juga mengembangkan The Spherics of Menelaus ini, yang merupakan bagian penting, sejak karya asli Menelaus Yunani punah. Karya Menelaus berasal dari dasar solusi angka Ptolemy dalam masalah bentuk astronomi yang tercantum dalam risalah Ptolemy bertajuk Almagest.
    "Karyanya di dalam tiga buku: buku pertama mempelajari kandungan/kekayaan bentuk segitiga, buku kedua meneliti kandungan sistem paralel lingkaran dalam sebuah bola/bentuk mereka memotong lingkaran besar, buku ketiga memberikan bukti dalil Menelaus," jelas O'Cornor dan Robertson.
       Pada karya trigonometrinya, Abu Nasr Mansur menemukan hukum sinus sebagai berikut:
a/sin A = b/sin B = c/sin C.
 
"Abu'l-Wafa mungkin menemukan hukum ini pertama dan Abu Nasr Mansur mungkin belajar dari dia. Pastinya keduanya memiliki prioritas kuat untuk menentukan dan akan hampir pasti tidak pernah diketahui dengan kepastian," ungkap O'Cornor dan Robertson.
      O'Cornor dan Robertson juga menyebutkan satu nama lain, yang disebut sebagai orang ketiga yang kadang-kadang disebut sebagai penemu hukum yang sama,seorang astronom dan ahli matematika Muslim dari Persia, al-Khujandi (940 M - 1000 M).
     Namun, kurang beralasan jika al-Khujandi disebut sebagai penemu hukum sinus, seperti yang ditulis Samso dalam bukunya Biography in Dictionary of Scientific Biography (New York1970-1990). "Dia adalah seorang ahli astronomi praktis yang paling utama, yang tidak peduli dengan masalah teoritis," katanya.
    Risalah Abu Nasr membahas lima fungsi trigonometri yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dalam bentuk astronomi. Artikel menunjukkan perbaikan yang diperoleh Abu Nasr Mansur dalam penggunan pertama sebagai nilai radius. Karya lain Abu Nasr Mansur dalam bidang astronomimeliputi empat karya dalam menyusun dan mengaplikasi astrolab.

 

 
 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda