ENSIKLOPEDIA TOKOH & INTELEKTUAL MUSLIM > SAINTIS > Ahli Fisika > Ibn Al Haitsam

 
 
 
 
 
 
 
 

Ibn Al Haitsam

 
IBN AL HAITSAM (965-1038 M)
Ahli Ilmu Alam (Optik), dan Matematika
   
     Seorang ahli fisika terbesar dalam sejarah peradaban Islam (klasik). Ia seorang jenius yang serba bisa, ia juga merupakan salah seorang diantara yang terbesar dalam bidang matematika, fisiologi dan optik, yang memberikan sumbangan abadi dalam ilmu oftik, matematika, farmakologi, fisika dan juga filsafat, demikian juga dalam bidang anatomi dan penyakit mata. Ia juga adalah orang yang pertama kali membuat percobaan dengan camera obscura.
     Nama Abu Ali Al Hasan Ibn Al Haitsam. Di barat ia terkenal dengan nama Al Hazen, disamping Avennathan, atau Avenetan.Ia lahir di Bashrah dan meninggal di Kairo pada 1038 M (ada yang menyebut 1039 M). Ia belajar di Bashrah dan Baghdad, yang merupakan pusat pendidikan waktu itu.
      Tentang riwayat kehidupan serta pendidikannya tidak banyak diketahuai, tetapi di Bashrah, ia dikenal sebagai ilmuwan terkemuka, terutama dalam bidang tekhnik bangunan. Di kota ini ia menolak menjadi pimpinan proyek membuat istana, juga pernah menolak untuk menjadi pejabat negara. Karena mendapat tekanan dati penguasa setempat, ia kemudian pindah ke Baghdad. Disini ia bekerja membuat bilbiografi, mencatat kode-kode buku untuk perpustakaan, disamping menterjemahkan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab. Tak lama kemudian ia pergi ke Syam (Syiria), disinilah ia mendapatkan kebebasan sebagai ilmuwan.
      Kecemerlangan Ibn Haitsam telah menyebar ke mana-mana. Di Mesir, Khalifah Al Hakim Bi Amrilah (mp. 996-1020 M) dari dinasti Fatimiyah, mengundangnya ke Mesir untuk turut memikirkan jalan keluar mengatasi bencana yang kerap menimpa Mesir, terutama akibat luapan sungai Nil dimusim penghujan. Ibn Haitsam mengusulkan pembangun bendungan yang tinggi di selatan kota Aswan, Mesir untuk membendung air pada musim banjir dan menyimpannya di musim kemarau.
     Di Mesir Ibn Haitsam ditawari oleh khalifah menjadi pimpinan proyek membangun bendungan tersebut, tetapi Ibn Haitsam merasa tidak memiliki fasilitas untuk mewujudkan hitungan teorinya. Ia hanya dapat memberikan teorinya saja. Hal ini menjadikan kemarahan sang khalifah, yang akhirnya Ibn Haitsam di masukan ke dalam penjara. Dan setelah itu seolah Ibn Haitsam menghilang hingga kematian Al Hakim. Di dalam penjara konon Ibn Haitsam pura-pura gila untuk menghindari hukuman yang lebih berat dari sang penguasa. Dalam penjara ini ia banyak menyelidiki tentang cahaya dan sinar yang menembus dinding-dinding penjara.
     Ia kemudian dibebaskan pada masa Situl malik (pengganti Al Hakim).    Selama masa itu ia memiliki waktu luas untuk karya intelektualnya dan menyusun sejumlah karya di bidang obat-obatan yang memang merupakan profesinya yang sejati. Dan sebagian terbesar karyanya, ditulis 10 tahun terakhir masa hidupnya.
     Ia menulis sekitar 200 judul karya ilmiyah yang menyangkut berbagai bidang ilmu, termasuk oftik, matematika, farmakologi, fisika dan filsafat.
 
Pemikiran
     Dalam bidang oftik salah satu gerakannya adalah penentangannya terhadap teori Euclides dn Ptolemaeus yang mengatakan mata mengirim keluar berkas-berkas visual ke obyek penglihatan, atau dengan kata lain bahwa mata-lah yang mengeluarkan berkas cahaya sehingga segala benda dapat terlihat. Menurut John William Draper (dalam History of Intelectual Development of Europa) Ibnu Haitsam merupakan orang yang pertama memperbaiki konsep Yunani tentang penglihatan itu. Haitsam memunculkan teori sebaliknya, justru benda-benda itulah yang memantulkan cahaya sehingga terlihat oleh mata. Malah ia lebih jauh telah mengetahui proses perjalanan berkas cahaya itu hingga bisa dipahami oleh otak.
     Karya-karya oftiknya sangat mempengaruhi para ilmuwaan barat, dan meratakan jalan bagi penemuan dan pengembangan ilmu optik dikemudian hari. Ia menguji pembiasan cahaya melalui obyek tembus pandang, termasuk udara dan air, melalui percobaan yang menggunakan bejana-bejana kaca yang diisi dengan air. Ia merintis penemuan teoritis lensa suryakanta yang baru dibuat 3 abad kemudian di Italia. Ia juga menyiapkan dasar-dasar untuk Snell dan Descrates dalam menetapkan hukum sinus, 6 abad kemudian.
    Tentang cahaya, menurutnya cahaya adalah semacam api yang membias pada batas lingkaran atmosfer. Dalam karya-karyanya tentang optikfisikal, disamping ia membahas cahaya juga tentang gejala-gejala senja, lingkaran cahaya, pelangi dan cermin-cermin bulat dan parabolik. Ia juga menemukan bentuk lengkung yang ditempuh cahaya ketika melintas di udara, sehingga cahaya matahari dan bulan terlihat sebelum keduanya terbit dan sesudah keduanya terbenam. Ia dengan lengkap menjelaskan faktor-faktor yang menjadikan pelangi, ia juga menulis beberapa risalah tentang bayangan dan gerhana. Pada saat gerhana bulan, ia mengintip citra matahari yang setengah bulat itu pada sebuah dinding yang berhadapan dengan dengan sebuah lubang kecil yang dibuat tirai penutup jendela. Inilah catatan pertama yang berhubungan dengan Camera Obscura
     Dalam hubungannya dengan atmosfer, ia menemukan dengan sangat akurat ketinggian atmosfer yaitu hampir 58,5 mil. Dan tentang kepadatan atmosfer ia menetapkan hubungan ketinggian atmosfer dan meningkatnya kepadatan udara. Ia memperagakan betapa berat benda meningkat dalam proporsinya pada kepadatan atmosfer yang bertambah. Ia menerangkan kekuatan apa yang membuat benda-benda bisa terangkat ke atas dalam media yang membuat benda terangkat pada media yang lebih berat, dan dia juga membahas benda-benda terapung, misalnya kapal.
     Ia juga membicarakan masalah yang berhubungan dengan pusat daya tarik bumi dan berhasil memamfaatkan pengetahuan itu pada penyelidikan tentang keseimbangan dan alat timbangan. Ia menerangkan hubungan antaara pusat daya tarik bumi dan pusat suspensi. Ia mengatakan daya tarik bumi sebagai kekuatan, teori ini kemudian dikembangkan Newton.
     Ia juga mengetahui secara tepat hubungan antara kecepatan, ruang dan saat jaatuhnya benda-benda, dan mempunyai gagasan yang sangat jelas tentang tindak kapiler. Seorang penulis barat mengatakan:” Penentuan berat benda, seperti yang dilakuakan Al hazen, sangat dekat dengan pemahaman kita, dalam hal air raksa, ia malah lebih tepat ketimabang beberapa ahli dari abad yang lalu (maksudnya abad 19 M).”
    Pendapat-pendapat Ibn Haitsam (Al Hazen) dalam karya-karyanya, secara mendalam mempengaruhi para ilmuwan pada abad pertengahan di Eropa maupun di timur. Tulisan-tulisannya membukakan jalan bagi para peneliti optik barat dikemudian hari. Hampir semua karyanya tentang optik dan fisika diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa, dan sangat nyata pengaruhnya kepada para ilmuwan barat paada abad pertengahan, yang meneruskan gagasan-gagasan itu ke dalam karya-karya mereka. Roger Bacon, ilmuwan barat abad ke 13 M, menurut Max Mayerhof, berikut semua ilmuwan barat abad pertengahan yang membicarakan optik, termasuk Polwitelo (Vitelo), mendasarkan karya optik mereka sebagaian besar pada karya-karya Ibn Haitsam. Buku-buku Al haitsam juga mempengaruhi Leonardo Da Vinci dan John Kepler, yang disebut terakhir ini secara sederhana menamakan bukunya tentang dioftik, yang kemudian dianggap fundamental, Ad. Vitellionem Paralingmena (Frankrut, 1604 M).
     Mengenai sikapnya tentang evolusi manusia, John William Draper menulis: “ Walaupun lebih dari 7 abad jarak waktu yang memisahkan Al Hazen (Ibn Haitsam) dengan kita, para fisiolog masa kini bisa menerima dia sebagai sejawat, karena dia telah menerima dan mempertahankan diokrin yang kini sedang berkembang tentang kemajuan pertumbuhan bentuk pada makhluk binatang.” Ia memperkuat kesimpulan yang mengatakan bahwa bentuk manusia terjadi melalui rangkaian tertentu dari keadaan, walaupun sebenarnya tidak demikian. Gagasan yang progresif tentang evolusi manusia membantu perkembangan teori ini oleh para ilmuwan modern, termasuk Darwin.
 
Karya
·         Kitabul Manadhir, dalam buku ini terdapat pembahasan tentang mesiu dan optik, juga mikroskop. Buku ini diterjemahkan oleh Roger Bacon (1214-1292 M), seorang pastur dari Inggris. Tetapi penterjemah tidak mencantumkan nama pengarangnya, sehingga pembaca umumnya menganggap buku tersebut sebagai karangan Bacon sendiri. Kitab Manadhir ini juga diterjemahkan oleh Frederick Risner (1572 M), di Basle, dengan judul Opticae The Saurus .
·         Mizanul Hikma, kitab yang salah satu isinya berhubungan dengan kepadatan atsmosfer, dimana ia menetapkan hubungan antara ketinggian atmosfer dan meningkatnya kepadatan udara.
·         Muqalah fi Istikhraj Samt Al Qiblah, dalam buku ini ia menyusun teorema kota.
·         Kitab Al Manasit, sebuah kamus oftik.
·         Fi Surah Al Kusuf, mengenai penggunaan kamera obscura (kamar gelap) pada pengamatan gerhana matahari.
·         Fi Al Maraya’l Muhriqah Bi Al Dawa’ir, tentang cermin yang dapat membakar.
·         Maqalah Fi daw Al Qamar, membahas cahaya dan gerak-gerik langit.
·         Zawahir Al Hasaq, tentang gejala senjata.
·         Fi kaifiyat Al Izlal
·         Fi Asar Aladzi Fi Al qamar
·         Fi Ad Daw’
·         Fi Al Makan
·         Fi Ma’lumat
·         Fi Misahat Al Mujassamah (Al Jism) Al Mukafi
·         Fi Irtifa Al Qutb
·         Konfigurasi Alam semesta, diterjemahkan dalam bahasa latin oleh Abraham De Belmes pada paruh abad 15 M. Terjemah Ibrani tentang risalah ini di buat oleh Jacob Bin Mahir, seorang Yahudi, dan buku ini diterjemahkan oleh Abraham De Toledo dalam bahasa Spanyol, pada paruh abad ke-13 M.

 
 
 

 
 
 
 
 
 
 
Title website anda